Hard News

Lagi! Bayi Dibuang, Begini Kondisinya

Bayi saat di evakuasi menggunakan penutup boks ikan dan langsung dibawa ke Rumah Sakit. (Ella Ramlah/Akurasi.id)

Akurasi.id, Sangatta Bayi mungil itu terapung di atas air sungai. Tubuhnya terlihat tak lagi berdaya. Mengapung dan terombang-ambing arus sungai. Warga setempat terkejut. Ada yang histeris.

“Huh kasiannya. Ya Allah,” kata salah seorang warga yang melihat bayi itu. Orang-orang di sekitarnya ikut histeris, miris, dan mencibir pelakunya.

Tak sedikit pula warga yang berusaha mengambil jasad bayi yang sudah meninggal dunia itu. Seorang laki-laki berbaju hitam berusaha menyelamatkan jasad bayi tersebut. Dia berlari kecil dan berusaha mendekatinya.

Di tangannya terdapat kain putih yang panjangnya sekira satu meter. Bayi tidak berdosa yang masih memiliki tali pusar itu secara perlahan didekati kapal yang ditumpangi sejumlah petugas.

Beberapa waktu berlalu, pria berkulit sawo matang itu merangkul bayi tersebut. Ditarik dan diambil menggunakan kain putih itu. Dilihat dari dekat, kondisi tubuhnya masih utuh.

Diduga Hasil Pergaulan Bebas

Bayi tak berdosa itu ditemukan warga dalam keadaan tengkurap dan tersangkut di pinggir sungai Sangatta Selatan, Selasa (5/2) pukul 10.30 Wita. Jika dilihat dari kondisi tubuhnya yang sudah membiru, diduga bayi tersebut dibuang kemarin.

“Sebelum diselamatkan sama motoris ponton, bayi terlihat mengapung. Tandanya bayi itu sudah enggak hidup,” jelas Rahmatullah, salah seorang warga yang berada di lokasi penemuan bayi tersebut.

Dia mengaku sangat miris melihat pembuangan bayi akhir-akhir ini. Diduga hal itu terjadi karena maraknya pergaulan bebas dan norma agama yang tidak lagi diindahkan.

Dia berharap ada perhatian khusus dari instansi terkait. Seperti memberikan penyuluhan dan arahan kepada para remaja, pemuda, dan orang tua.

“Ini harus menjadi perhatian khusus bagi kita sebagai orang tua. Setidaknya harus ada penyuluhan dan arahan dari institusi seperti Polri, Dinas Kesehatan, dan Dinas Sosial,” imbuhnya.

Senada, warga Sangatta Selatan, Anik mengaku geram dengan pelaku yang tega membuang bayi itu. Dia meminta kepolisian menangkap pelaku dan memberikan hukuman yang setimpal.

“Jelas ini perbuatan tidak bertanggung jawab. Karena membuang bayi yang dilahirkan. Masalah ini harus secepatnya mendapatkan penanganan (dari kepolisian dan pemerintah),” sarannya.

Masih dalam Penyelidikan

Segera setelah penyelamatan bayi itu, pihak kepolisian setempat mengambil tindakan. Salah satunya mengumpulkan beragam bukti penguat untuk dijadikan dasar pengungkapan pelaku yang tega membuang bayi tersebut.

Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Kutai Timur, AKBP Teddy Ristiawan mengatakan, kasus penemuan bayi itu masih dalam penyelidikan polisi. Pihaknya telah memanggil beberapa orang saksi untuk dimintai keterangan.

Karenanya, saat ini pihaknya belum dapat menyimpulkan asal-usul bayi tersebut. Hasil hubungan gelap dan aborsi yang dilakukan pelaku hanya dijadikan dugaan awal. “Mungkin saja ada motif lain. Kami belum tahu,” katanya.

Peran Orang Tua dan Hukuman Bagi Pelaku

Psikolog dari Kutai Timur, dr. Darmasanti Sahar mengatakan, ketidaksiapan mental menjadi alasan utama seseorang nekat membuang bayinya. Keadaan hamil di luar nikah, tidak ada tempat untuk mencurahkan pikiran, serta cibiran dari masyarakat membuat pelakunya mengambil jalan pintas.

“Remaja yang menerima kehadiran bayi itu beban baginya. Sehingga mereka berani mengambil tindakan nekat. Mereka tidak bisa membedakan perbuatan baik dan buruk. Mereka tidak berpikir dampaknya ke depan. Mereka menyelesaikan masalah hanya sesaat. Bukan long term,” ujar perempuan yang karib disapa Bunda Anti itu.

Remaja yang mengalami hal seperti ini, lanjut dia, perlu mendapat pembinaan dan pengarahan serta pengawasan dari orang tuanya.

Meski terdapat hukuman atas perbuatan yang dilakukan pelaku, Bunda Anti lebih mendukung kepolisian agar pelakunya terlebih dahulu mendapat pembinaan. Agar orang tua bayi itu tidak lagi mengulangi perbuatannya.

“Dari sisi kesalahan memang dia harus dihukum. Tetapi treatment-nya bukan seperti tahanan. Sebaiknya diperlakukan layaknya binaan. Kalau dikurung juga tidak menjadikan dia pintar dan dewasa,” tutupnya. (*)

Penulis: Ramlah
Editor: Ufqil Mubin

5/5 (1 Review)
Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar!

avatar

Lihat Juga

Close
Back to top button
Close
Close