Hard NewsHeadline

Langka! Tiga Bayi di Kutim Lahir Dengan Kelainan Otak

Langka! Tiga Bayi di Kutim Lahir Dengan Kelainan Otak
Contoh bayi yang terlahir dengan kelainan otak atau bisa disebut microcephalus. (istimewa)

Akurasi.id, Sangatta –  Microcephalus merupakan kondisi kelainan perkembangan otak bayi. Ukuran lingkar kepala lebih kecil dibandingkan lingkar kepala normal pada usia dan jenis kelamin yang sama. Hal ini dialami salah satu keluarga di Bengalon, Kutai Timur (Kutim). Tiga anak terlahir dalam kondisi ukuran lingkar kepala lebih kecil dari kepala normal bayi pada umumnya.

Dikatakan microcephalus apabila ukuran lingkar kepala penderitanya memiliki standar deviasi kurang lebih 3 sentimeter di bawah angka rata-rata. Artinya, ukuran kepala jauh lebih kecil daripada kepala bayi normal.  Microcephalus atau microcephaly berarti kepala kecil.

Petugas Bagian Program Gizi Dinas Kesehatan Kutim, Jemy Mende mengungkapkan, setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkan microcephalus. Antara lain faktor genetik atau keturunan, kelainan di masa kehamilan, dan kelainan dalam proses kelahiran.

Kata Jemy, seorang ibu yang menyadari kelainan dalam proses kehamilan bisa mencegah terjadinya penyakit ini. Dengan catatan, penyebabnya bukan faktor genetik. Kelainan di masa kehamilan bisa disebabkan kurangnya nutrisi pada ibu hamil, terpapar radiasi, atau terkena infeksi TORCH.

Infeksi TORCH merupakan kepanjangan dari toxoplasma, rubella, cytomegalovirus (CMV), dan herpes simplex. Sekelompok infeksi ini bisa ditularkan ibu hamil kepada janinnya. Akibatnya, bisa menyebabkan bayi terpapar cacat bawaan seperti microcephalus. Karenanya, penting bagi ibu hamil memeriksakan diri secara rutin ke dokter kandungan. Pemeriksaaan meliputi cek darah, screening, dan pemeriksaan ultrasonografi (USG).

Dengan pemeriksaan rutin ini, dokter dapat mengetahui perkembangan janin di dalam perut ibu. Dokter juga bisa menghitung lingkar kepala janin dengan menggunakan USG. “Ketika dalam pemeriksaan ditemukan tanda-tanda kelainan, bisa segera dilakukan tindakan pencegahan. Misalnya bila ada tanda-tanda infeksi. Mesti segera diobati infeksinya,” ujar Jemy kepada Akurasi.id, Rabu (24/4/19).

Langka! Tiga Bayi di Kutim Lahir Dengan Kelainan Otak
Jemy Mende (Ella Ramlah/Akurasi.id)

Demi menjaga kesehatan janin, nutrisi dan gizi untuk ibu hamil haruslah terpenuhi. Ketika terjadi malnutrisi atau kekurangan nutrisi pada ibu hamil, maka nutrisinya dapat ditambah. Selama hamil, ibu diharapkan menghindari lingkungan dengan radiasi dan radikal bebas.

Proses persalinan dan pasca melahirkan pun mesti diperhatikan dengan baik untuk menghindari terjadinya microcephalus. Kata Jemy, rahim yang terlalu sempit atau terlalu lama di dalam kandungan bisa berakibat bayi lahir dalam kondisi tidak normal. Dalam hal ini dokter kandungan dapat memutuskan proses persalinan normal atau melalui operasi.

“Setelah lahir pun kondisi bayi mesti dipantau. Seperti berat badannya normal atau tidak. Ketika ditemukan gejala tidak normal, harus segera diatasi sebelum terlambat,” tambahnya.

Akibat Kelainan Otak

Menurut Jemy, microcephalus berlangsung seumur hidup. Dengan kondisi lingkar kepala penderitanya tidak berkembang dengan baik, berada di bawah lingkar kepala normal dengan usia dan jenis kelamin yang sama. Akibatnya, beberapa fungsi anggota tubuh yang dikendalikan otak pun terganggu. Di antaranya pada fungsi kognitif, koordinasi gerakan tubuh atau motorik, penglihatan, pendengaran, hingga alat kelamin.

“Penderita microcephalus biasanya sulit untuk menggerakkan anggota tubuhnya, tidak bisa berjalan, kaku pada otot, atau kesulitan berbicara,” jelasnya.

Dengan pertumbuhan yang tidak normal, organ-organ bagian dalam tubuh penderitanya juga bisa ikut terdampak. Seperti jantung, lambung, atau pencernaan seperti yang dialami tiga anak di Bengalon.

Penanganan terhadap penderita microcephalus disesuaikan dengan kasus yang dialami bayi. Umumnya, tidak ada pengobatan yang akan memperbesar kepala anak atau menghentikan komplikasi microcephaly. Biasanya para penderita kelainan ini diberikan terapi terpadu rehabilitasi untuk melatih organ-organ motoriknya.

“Pengobatannya untuk memperbaiki fungsi hidup. Di antaranya dilatih untuk memperbaiki kemampuan bergerak, berjalan, dan juga berbicara,” tandas Jemy.

Dia menyebut, jumlah pengidap microcephaly belum terdata secara spesifik. Saat ini Dinas Kesehatan sedang melakukan peninjauan dan pendataan terhadap para pengidap kelainan otak tersebut. (*)

Penulis: Ella Ramlah
Editor: Ufqil Mubin

4.5/5 (2 Reviews)
Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar!

avatar
Back to top button
Close
Close