PolitikRiwayat

Mahyunadi, Anak Kayu dan Sang Petarung

Mahyunadi, Anak Kayu dan Sang Petarung

Akurasi.id – Bagi masyarakat Sangatta, nama Mahyunadi bukanlah sosok yang asing. Selain karena dikenal sebagai pejabat publik, Mahyunadi adalah politikus muda dan potensial yang dimiliki Kutai Timur (Kutim) saat ini.

Lahir di Balikpapan, 27 November 1972 silam, Mahyunadi telah malah melintang di berbagai organisasi kepemudaan di Kutim. Seperti pada tahun 1996-1998 silam, Mahyunadi telah menjabat Ketua Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Sub Rayon Sanggatta Utara yang merupakan sayap Partai Golkar.

Panggilan jiwa sebagai seorang organisatoris membawa putra pasangan H Mansur Mante dan Hj Mardiah ini menahkodai Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kutim periode 2001-2004. Kala itu, Mahyunadi juga menjabat Direktur PT Multi Karya Prima Persada kurun waktu 2001-2003.

Seiring dengan itu, perjalanan karir adik kandung dari Wakil Pimpinan MPR RI Mahyudin ini berlanjut dengan dipercaya sebagai Ketua Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Kutim di tahun 2003-2008.

Mahyunadi bercerita, berhimpun di Partai Golongan Karya (Golkar) tidak sekedar dimulai dengan menjabat ketua AMPI. Tetapi jauh sebelum itu, ia telah berpartisipasi dalam berbagai kegiatan kepartaian. Dari menjadi bagian anggota relawan maupun sebagai simpatisan partai.

“Dulu, saya ingat, saya sering keliling Sangatta sampai ke kecamatan lain hanya untuk pergi memasang bendera Partai Golkar. Itu sudah saya kerjakan sejak tahun 1990,” kata dia.

Gejolak darah muda dan semangat petarung juga membawa Yunat, sapaan karibnya, memimpin Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kutim periode 2006-2009. Langkah politiknya ini sekaligus mengokohkan Mahyunadi menatap kursi Ketua DPD Partai Golkar Kutim.

Jabatan itu bahkan dinahkodai Yunat untuk dua periode dari tahun 2008-2011 dan 2011-2016. Berkat keuletan dan kesuksesannya membesarkan partai berlambang pohon beringin itu, pasca tak lagi menjabat ketua partai, Yunat dipercaya sebagai Wakil Ketua DPD Partai Golkar Kaltim sejak 2016 hingga sekarang.

Mahyunadi, Anak Kayu dan Sang PetarungDulu Dikenal Anak Kayu

Seperti kebanyakan keluarga lainnya, Mahyunadi juga pernah berada di titik yang cukup sulit. Demi bisa menyambung hidup setiap harinya, pria yang masih aktif sebagai mahasiswa Pasca Sarjana Fisipol Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda ini harus ikut bergulat dengan ayahnya menjadi tukang kayu.

Lahir dengan 10 bersaudara, membuat Mahyunadi juga harus berperas keringat dengan sang kaka Mahyudin membantu kedua orang tuanya. Ada kalanya, ketika ingin makan, mereka tidak memiliki beras. Walau begitu, berbagai kesulitan hidup itu tidak menyurutkan mimpi Mahyunadi mengapai kesuksesan.

“Makanya, saya tau betul bagaimana rasanya hidup dengan ekonomi yang serba terbatas. Itu juga yang membuat saya selalu ingin berbuat apapun untuk membantu masyarakat yang kurang mampu ekonominya,” tutur pria berusia 46 tahun ini.

Dari bekerja membantu usaha ayah di penggergajian kayu, Mahyunadi juga menempa mental untuk menekuni dunia usaha dan terjun menjadi seorang kontraktor. Apalagi saat kaka Mahyudin ketika itu mendapatkan sebuah pekerjaan pembangunan sekolah dari salah satu perusahaan di Sangatta, Mahyunadi benar-benar belajar banyak.

“Saat itu pengerjaan sekolah terbuat dari bahan kayu jadi tak masalah. Karena ayah saya pun tukang kayu. Dari situ saya dan kaka (Mahyudin) juga banyak belajar merintis usaha,” ujarnya.

Politikus Muda yang Perlu Diperhitungkan

Dunia politik bukan dunia yang baru bagi Mahyunadi. Darah sebagai seorang politikus bahkan telah menancap kuat di jiwanya. Karena sejak usia remaja hingga sekarang, hampir seluruh hidupnya ia lekatkan pada kegiatan berpolitik.

Pada pemilihan legislatif (pileg) tahun 2004-2009, Mahyunadi memutuskan terjun sebagai calon anggota  DPRD Kutim. Sebagai politikus muda dan walau kala baru kali pertama menginjakkan kaki sebagai caleg, tak membuat Mahyunadi gentar bertarung dengan para wakil rakyat yang telah lebih dahulu duduk DPRD Kutim.

Terbukti, berkat kerja keras dan jiwa pantang menyerahnya, Mahyunadi berhasil melangkahkan kaki menuju kursi anggota DPRD Kutim. Ketika itu, pria dengan 10 bersaudara ini ditunjuk memimpin Ketua Fraksi Partai Golkar.

Sosoknya yang hambel dan aktif menyuarakan aspirasi masyarakat di daerah pemilihannya di Desa Singa Gembara, Teluk Lingga, dan Swarga Bara membuat Mahyunadi cepat dikenal. Berbagai pengalaman semasa memimpin lembaga kepemudaan, membuatnya mudah belajar berbagai tugas anggota dewan.

Bak telah menjadi terah, karir politik Mahyunadi terbilang cukup moncer. Pada pileg 2009-2014, Mahyunadi kembali dipercaya sebagai wakil rakyat. Pada periode itu, Mahyunadi bahkan melangkah naik menjadi Wakil Ketua DPRD Kutim, setelah Partai Golkar berhasil ke luar sebagai pemenang kedua di bawah Partai Demokrat.

Seiring dengan itu, Mahyunadi terus membenahi roda-roda Partai DPD Golkar Kutim yang ia pimpin ketika itu. Alhasil, pada pileg tahun 2011-2016, Mahyunadi berhasil menghantarkan Golkar sebagai partai pemenang. Saat itu, Golkar meraih tujuh kursi.

Jumlah itu sama dengan yang diraih Partai Demokrat. Hanya saja ketika itu, Golkar unggul perolehan suara. Partai Golkar meraih sebanyak 30.904 suara. Sedangkan Partai Demokrat menghimpun 26.513 suara.

Kemahiran Mahyunadi di dunia politik kala itu bisa diukur dengan kemampuannya memperoleh suara. Mahyunadi berhasil mendapatkan 3.208 suara. Perolehan itu menjadi yang tertinggi dari tujuh caleg lain yang berhasil duduk sebagai wakil rakyat di daerah pemilihan (dapil) 2.

Ya, hasil tak akan pernah menghianati proses dan usaha tak akan menghianati hasil. Begitulah pepatah untuk menggambarkan semangat petarung Mahyunadi. Lewat kemenangan Partai Golkar di pileg 2014, membawa Mahyunadi duduk sebagai Ketua DPRD Kutim.

“Pimpinan dewan hanya kapten saja, peran komisi dan fraksi besar untuk menyikapi permasalahan yang dihadapi rakyat. Karenanya saya dan teman-teman bertekad melaksanakan amanah rakyat sebaik mungkin,” ucap Yunat usai dilantik sebagai Ketua DPRD Kutim ketika itu.

Pilih Berjuang ke Tingkat yang Lebih Tinggi Lagi

Melalui perhelatan pileg 2019, suami dari Masriati dan bapak empat anak ini mengambil gebrakan besar dalam haluan politiknya. Ya, alumni mahasiswa Sarjana Ekonomi, Universitas Widyagama Samarinda itu memutuskan bertarung sebagai calon wakil rakyat di DPRD Kaltim.

Yunat menuturkan, keputusannya maju dan berjuang di Karang Paci –sebutan DPRD Kaltim, karena ia ingin bisa berjuang dalam skala yang lebih besar lagi bagi masyarakat. Terutama bagi masyarakat di dapil Bontang, Kutim, dan Berau yang akan ia wakili.

“Saya hanya ingin berbuat yang lebih banyak lagi buat masyarakat. Kalau hanya di Kutim, maka yang saya wakili dan bisa perjuangkan hanya di situ saja. Tapi kalau saya maju ke provinsi, tentu saya bisa berbuat yang lebih banyak lagi bagi masyarakat,” katanya.

Di sisi lain, sebagai seorang politikus, Yunat tidak ingin sekadar ada di zona nyaman. Menurutnya, menerima tantangan baru dan menjelajahinya dapat menempa kepekaan dan kemampuannya di dunia politik. Atas beberapa alasan itulah, ia membulatkan tekat maju sebagai calon anggota DPRD Kaltim.

Meski sudah memiliki nama dan cukup dikenal masyarakat, nyatanya tidak membuat Mahyunadi memilih pasif. Sebagaimana jargon yang ia usung #Sang Petarung, Yunat nyaris tak pernah mengosongkan waktunya untuk mendekatkan diri kepada masyarakat.

Ia berprinsip, sebuah tujuan tidak akan bisa dicapai tanpa disertai usaha dan keuletan. Atas alasan itu, Yunat mengaku, ia sanggup melakukan sosialisasi ke Berau, Kutim dan Bontang, lalu kembali lagi ke Berau hanya dalam waktu dua hari. Semua ia lakukan karena ia tidak mau mengecewakan masyarakat yang mengharapkan kehadirannya.

“Kalau nggak sangup melakukannya, kan malu sama jargong hastag Sang Petarung. Sebagai wakil rakyat, tentu saya harus membiasakan diri untuk selalu ada melayani masyarakat. Hastag Sang Petarung itu, adalah semangat saya melayani masyarakat,” ucap dia.

Penulis: Muhammad Aris
Editor: Yusuf Arafah

5/5 (1 Review)

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar!

avatar
Back to top button
Close
Close