Catatan

Membumikan Pancasila

Membumikan Pancasila
Nikolaus Anggal (Istimewa)

Ditulis Oleh: Nikolaus Anggal M.Pd

25 Mei 2019

Pancasila merupakan dasar pembentukan revolusi mental dalam menegakkan integritas bangsa. Revolusi mental menegakkan integritas bangsa mensyaratkan konsistensi dan keteguhan serta komitmen yang tak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi dan mengamalkan nilai-nilai luhur dalam realitas kehidupan berbangsa dan bernegara. Artinya sebagai anak bangsa Indonesia wajib mengaktualisasikan nilai-nilai kebangsaan Indonesia sesuai bidang tugas yang dipercayakan kepada kita. Anak bangsa yang berintegritas ditandai dengan satunya kata dan perbuatan, tindakannya sesuai dengan nilai, keyakinan, dan prinsip yang dipegang dalam menegakkan nilai-nilai luhur bangsa. Integritas menjadi karakter kunci bagi seseorang yang mencintai bangsanya. Seorang anak bangsa yang mempunyai integritas akan mendapat kepercayaan dari bangsanya sendiri. Anak bangsa yang beritegritas dipercayai karena ucapannya menjadi tindakannya. Hal itu terwujud karena dia mencintai peradaban bangsanya.

Revolusi mental anak bangsa dimulai dengan bermimpi dan membumikan impian tersebut dalam realitas kehidupan, sikap, dan tindakan. Konsepsi ini dapat dilaksanakan oleh setiap orang melalui bidang tugas dan keahlian masing-masing. Syaratnya, harus diperjuangkan dengan penuh pengorbanan dan keikhlasan. Kerelaan untuk berkorban bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri. Melainkan untuk kepentingan bangsa. Dalam makna luas, perlu kepekaan dan keikhlasan untuk melayani kepentingan sesama sebagai saudara sebangsa dan setanah air.

Revolusi mental anak bangsa melalui tindakan konkret dapat membangun karakter bangsa  yang kokoh, kuat, dan berbhineka tunggal ika. Tujuannya untuk mewujudkan misi Negara Kesatuan Repulik Indonesia  (NKRI) berdasarkan Pancasila dan UUD 45. Sebagaimana yang telah saya paparkan, gagasan kebangsaan ini dapat diaktualisasikan secara konsistem berdasarkan nilai-nilai luhur Pancasila. Setelah terbentuk dalam perilaku, konsepsi revolusi mental ini akan menjadi karakter. Dengan begitu bangsa Indonesia akan dipandang sebagai pembentuk tata nilai budaya dan keyakinan. Pada konteks yang lebih luas, gagasan ini dapat diejawantahkan dalam kebudayaan bangsa serta memancar dalam bentuk ciri khas yang dapat ditanggapi sebagai kepribadian bangsa Indonesia.

Membangun karakter bangsa yang kita cintai ini dengan penuh perjuangan menandakan bahwa kita adalah anak bangsa yang memiliki peradaban kebangsaan Indonesia. Karakter bangsa Indonesia terkenal dengan religius, jujur, disiplin, kreatif,  mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, bertanggung jawab, sopan santun, suka menolong, gotong royong, empati, toleransi, bekerja keras untuk menghasilkan rezeki halal, dan mengedepankan pendidikan.

Secara aplikatif hal itu telah dilaksanakan melalui reformasi sebagai titik tolak negara demokrasi yang mengedepankan penguatan hukum dan kebebasan demokrasi yang bertanggung jawab seperti yang telah kita laksanakan dalam pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg) pada 17 April 2019. Negara yang menggunakan sistem demokrasi Pancasila mestinya akan memperkuat karakter anak bangsa sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam dasar negara tersebut. Pada dasarnya anak bangsa telah memiliki karakter demikian. Sehingga demokrasi dapat berjalan dengan baik dan bisa mencapai tujuan negara yang adil, makmur, dan sejahtera.

Anak bangsa yang memiliki integritas tinggi dapat memanfaatkan kemajuan teknologi informasi (TI) serta digunakan secara baik dan sehat. Anak bangsa menjadi cerdas, operator ulung, dan negara terbantu untuk mencapai tujuan nasionalnya. Tujuan nasional dapat diwujudkan jika seluruh potensi anak bangsa dikerahkan untuk kemajuan bangsa. Kunci utamanya adalah pendidikan karakter. Anak bangsa sudah selayaknya menguatkan karakter yang telah menjadi kekuatan bangsa kita dan fokus pada bidang kita masing-masing agar dapat berprestasi. Dengan demikian, kualitas SDM bangsa Indonesia akan meningkat agar dapat bersaing di era globalisasi.

Revolusi mental membutuhkan anak bangsa yang cerdas, aktif dan kreatif serta inovatif demi membangun budaya dan pembentukan manusia Indonesia yang berkarakter dan berjiwa kuat. Revolusi mental sebenarnya dipelopori oleh bapak pendiri bangsa, Bung Karno. Konsepsi itu masih sangat relevan dengan situasi dan kondisi kebangsaan Indonesia sekarang. Revolusi mental dimulai dengan mengubah cara pikir, cara kerja, dan cara hidup. Lalu dilanjutkan dengan membangun karakter yang penuh integritas, etos kerja, dan gotong royong. Apabila konsepsi itu sudah terwujud, maka akan tercapai kehidupan bernegara yang berlandaskan Pancasila dan Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat, berdikari atau mandiri, dan berkepribadian bangsa melayani, bersih, tertib, mandiri, dan bersatu.

Kita jadikan anak bangsa sebagai agen perubahan yang membawa berbagai misi dari nilai revolusi mental. Dalam kehidupan sehari-hari, praktek revolusi mental adalah menjadi manusia yang berintegritas, mau bekerja keras, dan mempunyai semangat gotong royong. Revolusi mental meniscayakan suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala. Atas dasar itu, hakikat pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pendidikan nilai.

Revolusi mental dalam pendidikan perlu dilakukan untuk mengubah pola pikir seluruh masyarakat yang berkepentingan dengan pendidikan. Terutama untuk melahirkan generasi emas diperlukan guru emas, kepala sekolah emas, dan pengawas pendidikan emas. Karena itulah diperlukan revolusi mental dalam pendidikan. Outputnya, lahir para guru emas yang siap melahirkan generasi emas yang dapat bersaing, bersanding, bahkan bertanding dengan negara-negara.

Akhirnya, saya berharap semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi lingkungan agar dapat terwujud dalam pikiran, sikap, dan perasaan. Dengan pendidikan karakter dan revolusi mental, komponen bangsa akan menjadi manusia yang berhati emas dan mengaplikasikan nilai-nilai luhur Pancasila. Demi mewujudkan kejayaan Indonesia. (*)

Editor: Ufqil Mubin

Sekilas: Nikolaus Anggal M.Pd adalah dosen pada sekolah tinggi Kateketik Pastoral Katolik Bina Insan Keuskupan Agung Samarinda Kalimantan Timur.

0/5 (0 Reviews)

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar!

avatar
Back to top button
Close
Close