HeadlineIndepthPolitik

Menakar Kekuatan Golkar di Pileg Kaltim 2019

Menakar Kekuatan Golkar di Pileg Kaltim 2019
Pileg Kaltim 2019 ini akan menjadi ajang pembuktian bagi Golkar dalam mempertahankan kejayaan di Bumi Etam.(Istimewa)

Akurasi.id, Samarinda – Partai Golongan Karya (Golkar) memiliki rekam jejak yang panjang di Kalimantan Timur (Kaltim). Sebagai partai tua yang telah memiliki sumber daya yang memadai di tingkat pusat, provinsi, kabupaten, kota, hingga desa dan kelurahan, partai berlambang beringin itu memiliki potensi memenangkan pemilihan legislatif (pileg) 2019.

Jika ditarik ke belakang, pada pemilu 2014 lalu, Partai Golkar meraih kursi mayoritas di tingkat provinsi dan kabupaten/kota di Kaltim. Data yang dirilis Pusat Kajian Politik (Puskapol) menunjukkan, selain Mahakam Ulu (Mahulu), di sembilan daerah di Kaltim, hanya Kabupaten Kutai Barat satu-satunya daerah yang dimenangkan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan.

Sementara untuk delapan daerah lainnya seperti Samarinda, Balikpapan, Bontang, Kutai Timur (Kutim), Kutai Kartanegara (Kukar), Paser, Penajam Paser Utara (PPU) , dan Berau, Golkar unggul dengan jumlah kursi yang beragam.

Di Balikpapan, pileg 2014 telah menempatkan Partai Golkar dengan perolehan kursi mayoritas. Sebanyak 12 kursi diraih oleh partai yang kelak menempati pucuk pimpinan legislatif di Kota Minyak itu. Seturut dengan Balikpapan, di Kabupaten Kukar, partai yang berdiri di masa pemerintahan Orde Baru itu mendominasi perolehan kursi wakil rakyat. Dari 45 kursi di DPRD Kukar, sebanyak 19 kursi diraih Partai Golkar.

Nama partai tersebut moncer di akar rumput. Hal itu didukung sumber daya manusia yang mumpuni di Golkar. Kala itu, Rita Widyasari, masih menjabat sebagai Bupati Kukar, memegang kendali di partai tersebut. Keunggulan itu menjadi salah satu sebab Partai Golkar meraih kursi mayoritas di parlemen.

Pengamat politik dari Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) Tenggarong, Toni Kumayza mengatakan, mesin partai politik (parpol) di pileg 2014 bergerak secara serentak memenangkan Partai Golkar.

“Golkar juga diuntungkan dengan ketokohan. Yang paling realistis, dua hal itu. Unggul di mesin parpol dan ketokohan. Kemudian, Golkar itu petahana di Kukar. Kekuasaan dipegang oleh Golkar. Golkar punya resources yang dapat mengakses APBD,” jelasnya kepada Akurasi.id, Rabu (20/2/19).

Pemilih Pragmatis dan Tergerusnya Akses Finansial

Bagaimana pertarungan di pileg 2019? Toni Kumayza berpendapat, setelah Rita Widyasari ditahan karena kasus hukum yang menjeratnya, loyalis mantan Bupati Kukar itu banyak yang pindah ke partai lain.

“Sekarang (Golkar) diisi oleh anak-anak muda. Golkar ini kehilangan tokoh sentral. Kemudian kehilangan sumber daya (finansial) untuk menggerakkan mesin parpol. Penentu kemenangan di Kukar itu uang. Siapa saja yang pegang uang, mau dia pintar atau enggak, pasti dia terpilih,” katanya.

Kemapanan finansial disebut Toni sebagai sumber daya politik. Sebagai daerah yang memiliki wilayah yang luas, dengan karakteristik pemilih yang nyaris homogen dalam menentukan pilihan, kemenangan parpol dan calon legislatif ditentukan oleh sokongan keuangan.

Selain itu, branding sebagai parpol yang telah mengakar di Kukar, tak dapat dihilangkan di pertarungan pileg 2019. Golkar telah berakar kuat di hati pemilih. Pada titik itu, partai tersebut akan diunggulkan di pileg.

Keunggulan itu belum sepenuhnya dimiliki partai pendatang baru seperti Partai Nasional Demokrat (NasDem), Partai Keadilan dan Persatuan (PKPI), Partai Berkarya, dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Meski begitu, faktor penentu utama keterpilihan sebagai wakil rakyat, tetap ditentukan oleh dukungan finansial.

“Karena pemilih di Kukar itu pragmatis sekali. Caleg (yang memiliki uang, kemudian) pindah dapil (daerah pemilihan) di mana pun, pasti akan terpilih. Itu sudah menjadi tren di Kukar. Misalnya Isnaini, walaupun pindah dapil dan parpol, dia tetap banyak pemilihnya,” jelas dia.

Saat ini, kata Toni, sumber daya finansial tidak lagi sepenuhnya dimiliki Partai Golkar di Kukar. Semenjak partai tersebut ditinggal Rita Widyasari, Golkar kehilangan akses finansial.

“Saya perhatikan akan banyak sekali pergeseran di pileg nanti. Tokoh-tokoh muda yang tampil belum bisa diunggulkan. Apalagi mereka tidak didukung finansial yang memadai. Kekuatan parpol lain juga sudah banyak bermunculan,” tutupnya.

Menakar Kekuatan Golkar di Pileg Kaltim 2019
Pengaruh dari nama-nama besar yang bernaung di Partai Golkar, baik di skala nasional maupun daerah masih menjadi kekuatan tersendiri partau berlambang beringin ini.(Istimewa)

Keunggulan Golkar di Kaltim

Pada pileg 2014 lalu, Partai Golkar memperoleh 12 kursi di DPRD Kaltim. Unggul jauh dibanding PDI Perjuangan dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Keunggulan ini menempatkan kader senior Partai Golkar, Muhammad Syahrun, sebagai ketua DPRD Kaltim.

Pengamat politik dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Budiman menyebut, kemenangan Golkar di pileg disokong soliditas dan kemapanan partai. Dua hal itu mempengaruhi keputusan pemilih.

“Di kalangan pemilih tua, Golkar ini masih diasosiasikan dengan Orde Baru. Bagi orang yang mengetahui stabilitas keamanan dan kemajuan ekonomi di era Orde Baru, mereka akan menganggap kemajuan itu hasil karya Golkar. Tidak heran mereka akan memilih Golkar. Jarang pemilih tua ini melihat siapa calegnya,” terang Budiman.

Selain itu, partai yang dipimpin Airlangga Hartarto tersebut memiliki sistem regenerasi yang mumpuni. Dalam memilih caleg, Golkar mempertimbangkan jenjang pengkaderan di internal partai.

Umumnya parpol mengambil caleg-caleg dari kalangan eksternal menjelang pemilu demi mendapatkan suara mayoritas dan mengabaikan proses pengkaderan di parpol. Hal itu berbeda dengan Partai Golkar. Sebagian besar caleg di partai tersebut pernah melewati tahapan penggodokan internal dengan menaiki jenjang pengkaderan partai.

“(Para caleg yang notabenenya) figur-figur handal yang telah berproses di partai, itu keunggulan tersendiri bagi Golkar. Buktinya, sekarang kita masih bisa melihat orang-orang lama yang tampil menjadi caleg dari Partai Golkar,” ungkapnya.

Menakar Kekuatan Golkar di Pileg Kaltim 2019

Bakal Hadapi Persaingan Ketat

Kekuatan Partai Golkar Kaltim di pileg 2019, tentu saja tidak lagi utuh dibanding lima tahun yang lalu. Kehadiran partai-partai baru berpotensi menggerus suara Golkar. Salah satunya, “ancaman” dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Partai yang dipimpin Syafruddin itu memiliki peluang mendapat kursi dua kali lipat dibanding pemilu sebelumnya. Jika di pileg 2014 PKB memperoleh 4 kursi di DPRD Kaltim, maka tahun ini perolehan kursi itu diyakini akan bertambah.

Pada medio 2018, dalam wawancara terbatas, Syafruddin yakin partainya akan mendapat 8 kursi di pemilu 17 April mendatang. Dia mengincar kursi pimpinan dewan di Gedung Karang Paci. “Kami menargetkan meraih jajaran pimpinan dengan target maksimal 8 kursi dan minimal 6 kursi,” terangnya.

Pengamat politik dari Unmul Samarinda, Budiman menyebut, target tersebut tergolong realistis. Dia mencontohkan di dapil Samarinda. PKB menempatkan petahana seperti Jahidin dan Herwan Susanto sebagai petarung di dapil tersebut. Keduanya memiliki potensi untuk melenggang sebagai wakil rakyat.

“Sebelumnya hanya Jahidin di dapil Samarinda. Sekarang ada Herwan. Dia itu petahana yang sudah dikenal di masyarakat. Karena dia pernah menjadi ketua DPD Partai Hanura,” katanya.

Ancaman lain, Budiman mencontohkan tampilnya Partai Berkarya. Partai tersebut tak dapat dipisahkan dengan Pemuda Pancasila. Organisasi itu memiliki massa yang militan di Kaltim. “Pemuda Pancasila, kalau dalam konteks Kaltim, mereka ini punya massa yang banyak dan militan. Nah, ada kemungkinan juga Partai Berkarya bisa lolos (di DPRD Kaltim),” katanya.

Pindahnya Andi Harun ke Partai Gerindra juga akan mengancam perolehan suara Partai Golkar. Partai tersebut berpotensi menggerus perolehan kursi Partai Golkar di DPRD Kaltim. “Partai-partai yang lain banyak (menempatkan) eks birokrat dan pengusaha. Otomatis mereka memiliki massa tersendiri. Itu bisa membuat Partai Golkar berkurang kursinya,” tegas Budiman.

Optimis Tetap Unggul

Di tengah beragam ancaman internal dan eksternal di pileg 2019, pengurus Partai Golkar tetap yakin akan unggul dalam perebutan kursi legislatif di Kaltim. Wakil Bendahara DPD I Golkar Kaltim, Rinda Sandayani Karhab mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan strategi khusus untuk mempertahankan kursi mayoritas di Karang Paci, sebutan DPRD Kaltim.

Seleksi calon dilakukan secara profesional dan ketat. Rinda mencontohkan Dayang Donna Faroek yang notabenenya putri mantan Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak, tidak mendapat nomor urut “spesial”.

“Artinya ada tahapan-tahapan yang wajib dilewati oleh setiap caleg. Sudah ada kriteria dengan kualitas dan indikator tertentu yang harus dipenuhi untuk menjadi caleg di Golkar. Karena itu akan berpengaruh pada kemenangan di pileg,” ucapnya.

Jika di pileg 2014 partai berlambang beringin tersebut mendapat 12 kursi, maka di pileg 2019 pihaknya menargetkan perolehan 17 kursi di DPRD Kaltim. Khusus di dapil Samarinda serta dapil 6 (Bontang, Kutim, dan Berau), Partai Golkar menargetkan perolehan kursi mayoritas.

“Karena di dapil 6 itu ada Pak Makmur, Mahyunadi, dan saya sendiri. Di Samarinda, kami menempatkan figur-figur yang bagus. Target kami di dapil 1 dan 6, masing-masing dapat 6 kursi,” tutur Rinda Sandayani. (*)

Penulis: Ufqil Mubin
Editor: Yusuf Arafah

5/5 (4 Reviews)
Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar!

avatar
Back to top button
Close
Close