HeadlineHukumIsu Terkini

Mengais Pelajaran di Balik Kejahatan Seksual terhadap Anak

Laela Siddiqah (Istimewa)

Akurasi.id, Bontang – Kasus pemerkosaan yang dilakukan SY terhadap anak tirinya bernama Bunga–nama samaran–mendapat sorotan publik. Hal ini menjadi pelajaran penting bagi orang tua untuk melindungi anak dari perbuatan keji tersebut.

Psikolog Lembaga Psikologi Insan Cita Bontang, Laela Siddiqah, mengatakan, kasus kejahatan seksual perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak. Kata dia, orang tua dituntut mengawasi, mendidik, dan membimbing anaknya. Keluarga terdekat juga mendapat bagian penting untuk mengayomi, mengawasi, serta menjaga anak.

Baca juga: Bertahun-tahun Oknum Ketua RT Ini Setubuhi Anak Tirinya yang Masih Belia

Tak cukup peran orang-orang terdekat, Laela menyebut, pemerintah dan penegak hukum pun ikut andil mencegah kejahatan seksual. Dia menyarankan pemerintah memberi perhatian dengan menelurkan kebijakan yang berpihak pada anak.

Sedangkan penegak hukum diharapkan memberi hukuman kepada pelaku agar mendapat efek jera. Sekaligus ancaman untuk orang-orang yang ingin melakukan kejahatan seksual.

“Masyarakat juga berperan penting dengan turut peduli dan mengawasi, menciptakan lingkungan yang aman, dan meminimalkan peluang bagi para pelaku kejahatan pada anak,” saran Laela, Sabtu (13/7/19).

Dia mengungkapkan, terdapat berbagai faktor yang menyebabkan pelaku melakukan kejahatan seksual terhadap orang terdekatnya. Salah satunya, minimnya pemahaman dan kesadaran orang tua menjalankan perannya yang bertugas sebagai pengayom dan pelindung bagi anak kandung, anak tiri, atau anak angkat.

Selain itu, kurangnya pengendalian diri dari tindakan buruk sehingga dapat dengan mudah menyakiti anak. Faktor nihilnya aspek moral dan spiritual dalam diri pun dapat memengaruhi tindakan orang tua menyakiti anaknya.

“Atau adanya kebiasaan perilaku seksual yang tidak sehat. Sehingga pelaku bertindak semaunya untuk memuaskan hasrat seksualnya. Seperti berhubungan dengan bukan pasangannya, hiperseks, addict pornografi, hingga berhubungan intim dengan anak-anak,” terangnya.

Akibat Buruk bagi Anak

Laela berharap kejahatan seksual pada anak yang terjadi di Kelurahan Berebas Tengah beberapa waktu lalu menjadi kasus yang terakhir. Sebab tindakan kekerasan tersebut berdampak buruk bagi korban.

Selain anak memiliki trauma psikologis, tentunya juga berpengaruh pada perkembangannya. Kata dia, luka batin dapat membuat anak merasa tidak berdaya, tidak berharga, hingga kurangnya rasa percaya diri.

“Dampaknya juga bisa mengubah perilaku korban. Anak jadi sangat pendiam atau sebaliknya sangat ekspresif dan agresif. Rasa malu dan penilaian diri anak yang tidak suci lagi dapat memengaruhi kondisi emosi dan sosialisasinya,” tutur Laela.

Karenanya, setiap korban kekerasan anak perlu mendapat penanganan psikologis untuk membantu anak mengobati luka batin dan traumatisnya. Tujuannya anak mampu menghadapi situasi sulit dalam hidupnya dan terbangun kemampuan untuk bangkit.

“Sehingga peristiwa buruk yang dialami anak tidak berdampak negatif untuk kehidupan selanjutnya,” sebut perempuan berkacamata ini.

Upaya Menanggulanginya

Laela menjelaskan, terdapat beragam cara untuk melindungi anak dari kejahatan seksual. Kata dia, orang tua perlu membangun karakter yang kuat pada anak.

Tujuannya agar anak memahami dirinya sendiri sehingga tercipta kepercayaan diri. Dengan demikian, saat anak menghadapi ancaman, ia mampu menyelamatkan dirinya.

“Membangun komunikasi positif dan hubungan emosional yang sehat antara orang tua dan anak juga sangat penting. Sebagai modal berani dan nyaman bercerita apabila terjadi hal yang tidak menyenangkan,” ulasnya.

Cara membangun karakter yang kuat ini dapat dimulai dari memahami tahapan tumbuh kembang anak pada masa-masa perkembangan kritisnya. Pada tahap itu, anak diajarkan mengenali diri, keluarga, dan lingkungan sekitarnya.

Anak juga perlu diberikan ruang, kesempatan, dan kepercayaan untuk beraktivitas secara mandiri sesuai usia dan perkembangannya. Selain itu, anak mesti diberikan ragam stimulasi untuk mengintegrasikan berbagai kemampuan motorik, bahasa, emosi, dan sosialnya.

Hal ini bertujuan agar anak terlatih mengatasi kesulitan mulai dari hal-hal sederhana. “Ajarkan anak untuk bertindak berdasar aturan agama, norma, dan nilai sosial. Sehingga anak dapat melakukan sesuatu secara bebas namun bertanggung jawab. Dan orang tua perlu menjadi teladan bagi anak,” saran Laela. (*)

Penulis: Suci Surya Dewi
Editor: Ufqil Mubin

5/5 (6 Reviews)
Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar!

avatar
Back to top button
Close
Close