CorakHeadlineIndepth

Mengeksplor Pulau Beras Basah, Destinasi Wisata Khas Kota Taman yang Butuh Sentuhan Pelayanan Air Bersih

beras basah
Keindahan Pulau Beras Basah menjadi destinasi wisatawan lokal maupun di luar daerah. (Suci Surya Dewi/Akurasi.id)

Akurasi.id, Bontang – Keelokan Pulau Beras Basah adalah bukti ciptaan Sang Maha Agung. Pastilah terkesima bagi siapa pun yang memandang. Tak ada salahnya jika sering datang berkunjung. Akanlah lebih baik jika keindahannya kelak terkenang.

Gaung deru mesin kapal-kapal motor terdengar bersahutan dari berbagai penjuru Pelabuhan Tanjung Laut Bontang, Kalimantan Timur. Tandanya bahtera besi siap mengarung lautan. Kali ini tujuannya Pantai Beras Basah, sebuah pulau kecil dengan segala keindahan alamnya.

Kamis (17/10/19) pagi itu, Pelabuhan Tanjung Laut dipenuhi puluhan orang  berbaju merah seragam. Mendengar tanda kapal akan berangkat, rombongan penumpang segera beranjak dari tempat penungguannya untuk menaiki kapal. Tak butuh waktu lama, sang nakhoda memutar balik kapal dan melaju. Meninggalkan sekira 50 kapal dan perahu yang masih bersandar di peraduan.

Perjalanan puluhan peserta Pelatihan Jurnalistik gawaian Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Bontang ditemani 3 buah kapal. Kapal KM Sheila 2 jadi yang terakhir meninggalkan pelabuhan tepat pukul 08.15 Wita. Sedangkan 2 kapal lain, KMN Rama Jaya dan KM Rizky Anugerah berangkat 15 menit lebih awal menuju Pulau Beras Basah.

Baskara di ufuk timur memancarkan cahaya. Hangatnya bercampur embusan sepoi angin menampar wajah. Kapal terus melaju memecah deburan ombak lalu menyisakan buih di permukaan laut. Di perjalanan, kedua mata dimanjakan panorama rerimbunan mangrove. Kicau burung sayup terdengar di balik pepohonan bakau. Alunan syahdunya kalah dengan deru mesin kapal. Aroma laut yang dikeluarkan alga yang hidup di permukaan laut terhirup. Baunya pun bercampur gas pembuangan solar dari knalpot kapal.

Perjalanan panjang tak terasa diiringi riang canda tawa. Rasa antusias terpancar dari wajah para penumpang. Ada yang sibuk mendengarkan musik, mengobrol, dan berswafoto narsis mencari angle menarik dari segala penjuru arah. Bahkan ada yang melamun menikmati buaian kapal menerjang gelombang.

beras basah
Akses menuju Pulau Beras Basah melalui Pelabuhan Tanjung Laut. (Suci Surya Dewi/Akurasi.id)

Di balik perjalanan yang nyaman, nakhodalah yang paling berjasa. Pria bertopi merah itu Udin namanya. Segala perbekalan tentu dia siapkan sebelum berlayar. Kacamata jenis aviator selalu dikenakan agar matanya terlindung pantulan sinar matahari dari berbagai sudut. Tak hanya digunakan pilot saat penerbangan, benda tersebut juga penting bagi kapten kapal.

Nakhoda KM Sheila 2 itu sudah berpengalaman 2,5 tahun mengemudikan kendaraan laut. Hilir mudik mengantar penumpang dari pelabuhan menuju Pulau Beras Basah menjadi nafkahnya. Sabtu dan Minggu merupakan jadwal rutin berlayarnya. Sebab waktu tersebut ramai penumpang berlibur ke pantai destinasi pariwisata andalan Kota Taman –sebutan Bontang-.

Sekali berlabuh, kapal KM Sheila 2 mematok harga Rp 1 juta untuk perjalanan pulang pergi (PP) dari pelabuhan ke Pulau Beras Basah. Wajar, ukuran kapal milik Udin tersebut lebih besar dengan kapasitas 40 sampai 50 orang. Maksimal 17 orang bisa duduk di atas kapal bersama nakhoda. Di bawah, sisi depan dan belakang juga bisa diisi masing-masing 10 hingga 15 orang. Di tengah kapal terdapat ruang privasi nakhoda berisi dipan.

Butuh waktu perjalanan 30 menit agar kapal tiba di Pulau Beras Basah. Jika menggunakan speed boat, tentunya perjalanan lebih cepat 15 menit. Artinya hanya dibutuhkan waktu 15 menit saja untuk sampai di pantai.

Setiba menginjakkan kaki di dermaga, di sisi kanan jembatan mata pengunjung disuguhi huruf terbuat dari aluminium bertuliskan ‘Selamat Datang di Beras Basah’ dengan lukisan motif dayak di bagian fondasinya. Anak-anak kecil bersorak gembira berlarian di bibir pantai. Pekikannya terdengar hingga di dermaga. Terik matahari membuat mereka makin bersemangat bermain air laut yang mulai surut. Para orang tua memilih berteduh di bawah pohon kelapa sembari menikmati sapuan angin laut.

Jika diukur, luas Pulau Beras Basah kini hanya sekira 1 hektar. Jika dikelilingi hanya membutuhkan waktu kurang lebih 7 menit saja. Di dalamnya terdapat banyak pohon kelapa dan pandan laut. Ada 5 kedai di sana yang menyajikan makanan dan minuman ringan. Meja-meja dan bangku panjang ditata rapi agar menarik minat wisatawan.

Harga makanan yang disajikan masih cukup terjangkau. Segala jenis hidangan tradisional tersedia di sana. Harganya sekira Rp 10 ribu saja. Menunya mulai dari kari ayam, soto Makassar, soto Padang, rendang, ayam geprek, dan sebagainya. Menu tersebut dapat diperoleh dari sebungkus mi instan berbagai rasa. Ditambah telur rebus tentulah semakin nikmat rasanya. Harga tersebut masih standar dengan mi instan yang biasa dijual kafe-kafe atau angkringan di Bontang. Sedangkan harga minumannya juga masih terjangkau. Untuk sebuah minuman rata-rata dijual Rp 5 ribu per gelas.

Di atas hamparan pasir putih Pulau Beras Basah, banyak tiang-tiang pancang bambu berdiri tegak di bawah pepohonan. Jumlahnya mencapai lebih dari 15 tenda, hampir memenuhi pinggiran pantai. Pilar tersebut digunakan sebagai penyangga tenda dengan gulungan terpal plastik biru tergantung di atasnya. Saat wisatawan datang, pemiliknya menawarkan harga sewa Rp 100 ribu. Tenda disewakan tanpa batas waktu. Jika negosiasi berakhir sepakat, 2 buah terpal plastik biru kemudian dibentangkan. Satu sebagai alas, satunya lagi sebagai atap.

“Sewanya Rp 100 ribu sampai orangnya pulang. Hari Minggu sudah banyak yang pesan ini,” ucap Herman (56), salah satu pemilik sewa tenda.

Di Pulau Beras Basah disediakan beragam fasilitas. Mulai dari permainan banana boat, snorkeling, musala, dan kamar mandi. Fasilitas air bersih di pulau ini masih terbatas. Setiap pengunjung yang ingin mandi atau buang hajat harus membeli air. Per jeriken harganya Rp 5 ribu.

Seperti Evita misalnya. Wisatawan asal Kelurahan Berebas Tengah ini sengaja berkunjung ke Pulau Beras Basah untuk menjamu kedatangan keluarganya dari Makassar, Sulawesi Selatan. Dia membawa lebih dari 20 orang dengan menyewa kapal milik kerabatnya di Pelabuhan Tanjung Laut.

Untuk membawa keluarga besar berlibur, perempuan berusia 46 tahun ini mengaku wajib menyiapkan uang lebih dari Rp 1 juta. Uang tersebut digunakan untuk menyewa kapal, menyiapkan kebutuhan makan dan jajan, dan untuk membeli air bersih di Beras Basah.

Air Bersih Dianggap Terlalu Mahal

beras basah
Kebutuhan air bersih masih langka di Pulau Beras Basah. (Suci Surya Dewi/Akurasi.id)

Mau tak mau Evita membeli air per jeriken saat ke kamar mandi. Apalagi usai bermain air laut anak-anak dan keponakannya membutuhkan air untuk membilas tubuh. Minimal dia merogoh kocek Rp 50 ribu untuk 10 jeriken air bersih yang digunakan 10 orang anak.

“Belum lagi buat orang dewasa. Biasanya pakai 2 jeriken. Bisa jadi lebih dari Rp 50 ribu cuma buat beli air bersih. Terpaksa dibeli karena enggak ada air bersih,” ungkapnya.

Bagi Evita, harga air bersih Rp 5 ribu per jeriken di Beras Basah termasuk mahal. Bagi dia pengeluaran untuk membeli air bersih di sana nilainya hampir sama ketika membayar tagihan air bulanan PDAM. Dia berharap ke depannya Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang memfasilitasi kebutuhan air bersih agar pengunjung Beras Basah makin bertambah.

“Ya pengin-nya airnya gratis. Biar mengurangi budget kalau liburan begini,” harap ibu 4 anak ini.

Di ujung pantai, terdapat sebuah kamar mandi sekaligus toilet untuk pengunjung. Terlihat Maeteng, seorang pria tengah memindahkan air bersih dari tandon ke jeriken berkapasitas 5 liter menggunakan selang. Jumlah jeriken lebih dari 50 itu dia angkut. Masing-masing 2 jeriken di tangan kanan dan kirinya. Kemudian puluhan jeriken di tata rapi di depan pintu toilet.

Cukup sulit meraih tirta di Pulau Beras Basah. Setiap pagi Maeteng hilir mudik membeli air bersih di salah satu perusahaan air swasta di kawasan Prakla, Kelurahan Berbas Pantai, Kecamatan Bontang Selatan. Maeteng meminjam kapal milik temannya yang juga pedagang di pulau itu. Dia membawa tandon berukuran 650 liter, satu drum, dan beberapa jeriken 25 liter dan 30 liter menuju perairan kawasan Prakla.

Dalam sehari, Maeteng mengisi 1 tandon ukuran 1.200 liter. Dia membeli 6 drum air bersih untuk mengisi penuh tandonnya. Dia membeli air seharga Rp 10 ribu per drum. Jika dalam sehari membeli 6 drum air, itu berarti total air yang dibelinya sebesar Rp 60 ribu ditambah membeli solar kapal Rp 35 ribu. Jadi modalnya hanya Rp 95 ribu per hari.

Sedangkan 1 buah drum bisa menghasilkan 37 jeriken air berkapasitas 5 liter. Keuntungan Maeteng tentu berlipat ganda. Sebanyak 37 jeriken air yang dijual Rp 5 ribu totalnya menjadi Rp 185 ribu per drum. Untuk 1 buah tandon milik Maeteng bisa menghasilkan Rp 1,1 juta lebih.

Maeteng memiliki 5 buah tandon. Namun dalam sehari hanya bisa mengisi 1 tandon saja. Sebab kondisi air laut pasang surut tidak memungkinkan dia mengangkut air ke Pulau Beras Basah. Jadi selama 5 hari, kelima tandon Maeteng terisi penuh seluruhnya. Di akhir pekan seperti Sabtu dan Minggu, dapat dipastikan pengunjung Pulau Beras Basah ramai dan air milik Maeteng laku keras. Hasil penjualan kemudian dibagi untuk modal dan gaji kepada anak buahnya.

“Kalau paling ramai 2 hari dapat Rp 2 juta. Bisa sampai 10 orang yang bantu ambil air ke Bontang. Masing-masing dapat Rp 100 ribu,” papar pria kelahiran 62 tahun silam ini.

MAHYUNADI

Solusi Air Bersih Masih dalam Kajian

Pulau Beras Basah selalu berbenah melalui Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Dispopar) Bontang. Belum lama ini, pulau yang masuk kawasan Kelurahan Bontang Lestari tersebut dipercantik tampilannya. Mulai dari pembangunan jembatan dermaga berpagar warna-warni dan perbaikan tulisan icon Beras Basah berbahan aluminium yang pernah rusak terkikis ombak. Kamar mandi dan musalanya dirawat serapi mungkin. Namun sayang, kebutuhan air bersih masih dikeluhkan lantaran ditarik harga.

Kepala Bidang (Kabid) Pariwisata Dispopar Bontang, Ramli Mansurina, menuturkan terkait kebutuhan air bersih di Pulau Beras Basah sedang dikaji oleh konsultan.  Pihaknya berharap ada potensi sumber mata air di dalam pulau. Kata dia, berdasarkan pengalaman konsultannya, mereka pernah menemukan sumber mata air bersih suatu pulau di Aceh yang ukurannya lebih kecil dibandingkan Beras Basah.

“Beras Basah tidak bisa jika kami (Dispopar) saja yang menangani. Tentunya ada dinas terkait seperti PDAM dan Dinas Perkim (Perumahan, Kawasan Pemukiman, dan Pertanahan) yang menunjang fasilitasnya,” kata dia, Jumat (18/10/19).

Ramli menyebut solusi air bersih akan direncanakan dan dikaji tahun depan. Untuk saat ini pihaknya masih fokus dengan pembangunan pujasera di pinggir Pantai Beras Basah. Anggaran yang digelontorkan senilai Rp 1,7 miliar untuk penggarapan pujasera itu akan dijadikan pusat kuliner. Sehingga para pedagang nanti akan dipindahkan ke pujasera. Tujuannya agar Pulau Beras Basah tak lagi kumuh.

“Nanti akan kita bangun menara pandan, ada pergola, dan gazebo-gazebo. Tapi bertahap dulu. Jadi ke depannya tidak ada kegiatan di atas pasir. Murni untuk tempat pengunjung,” imbuh dia. (*)

Editor: Dirhanuddin

5/5 (7 Reviews)

Tags

Tinggalkan Komentar!

avatar

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close