Catatan

Menumbuhkan Kearifan Lewat Perbedaan Politik

Menumbuhkan Kearifan Lewat Perbedaan Politik
Nikolaus Anggal (Istimewa)

Ditulis Oleh: Nikolaus Anggal, M.Pd

14 April 2019

Debat antarpasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengusung berbagai tema. Beragam tema itu dirancang secara matang oleh panelis profesional. Debat pertama, dihadapkan pada isu hukum, hak asasi manusia (HAM), korupsi dan terorisme. Debat kedua membahas isu energi dan pangan, sumber daya alam dan lingkungan hidup. Debat ketiga, mengelaborasi tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial dan budaya. Debat keempat mengelaborasi tema ideologi, pemerintahan, pertahanan dan keamanan, serta hubungan internasional, dan debat kelima membahas tema ekonomi dan kesejahteraan sosial, keuangan dan investasi, perdagangan serta industri. Dari sekian tema yang dibahas dalam debat, setiap pasangan capres dan cawapres memiliki persamaan dan perbedaan sudut pandang. Bahkan antarpasangan calon saling membagi pengalamannya dalam menghadapi berbagai isu negatif dan cara menanggapi isu yang dihembuskan di publik. Tentu semua perbedaan dan persamaan sudut pandang membantu pemilih untuk lebih terukur dan bertanggung jawab ketika menjatuhkan pilihan.

Tema-tema yang dibahas dalam debat berkaitan dengan berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara untuk menata kehidupan bersama. Sebagai putra-putri bangsa, tentu kita lebih bijak dan arif dalam menanggapi berbagai isu politik sesuai persepsi atau sudut pandang kita. Kita juga harus mampu merespons dengan cerdas, tepat, dan bijaksana berbagai isu politik yang berkembang saat ini. Sesungguhnya kita bersyukur kepada Tuhan karena kita telah meletakkan dan menggunakan Pancasila secara benar sebagai falsafah, dasar negara dan ideologi bangsa serta menjadi sumber pencerahan, sumber inspirasi, dan sumber solusi atas isu-isu politik.

Saya ingin menyampaikan pikiran ini dalam kapasitas saya sebagai anak bangsa. Sebagaimana saudara sekalian yang peduli akan nasib dan masa depan kita, peduli pada arah perjalanan bangsa, dan peduli bagaimana kita membangun kerangka kehidupan bernegara yang sehat dan konstruktif. Saya ingin mengajak kita sebagai anak bangsa untuk berusaha mengembangkan kearifan dalam berpolitik. Kearifan politik (political wisdom) yang saya maksud bukan untuk menyamakan sudut pandang atau membedakan sudut pandang yang diusung dalam debat tersebut. Tetapi membiarkan perbedaan pandangan dan persamaan tersebut apa adanya. Meski kita berbeda sudut pandang dalam melihat suatu tema, tetapi kita tetap satu sebagai anak bangsa yang hidup berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Perbedaan pandangan putra-putra terbaik bangsa mengenai tema debat tertentu, jika saling melengkapi akan melahirkan sudut pandang bersama dalam menata kehidupan berbangsa dan bernegara yang kokoh dan kuat.

Siapa pun yang terpilih sebagai presiden tidak perlu menyombongkan diri tetapi melihat ke bawa dan bersyukur ke atas. Karena yang memilih dia adalah Dia yang di atas yang berkarya di dalam hati orang yang memilihnya serta merangkum lawan politik yang kebetulan belum mendapat kesempatan untuk menang.

Kita boleh saja berjalan di jalan masing-masing sesuai pandangan politik kita atau pilihan politik kita. Hal itu adalah suatu kewajaran di negara demokrasi seperti negara yang kita cintai ini. Tapi yang harus kita ingat bahwa jalan yang benar bukan hanya jalan milik kita. Ada dua cara untuk menumbuhkan kearifan dalam berpolitik. Pertama, dengan banyak belajar dan banyak membaca. Terutama teori-teori dan strategi politik. Baik yang diajarkan para filosof maupun yang pernah dipraktikkan tokoh-tokoh yang sukses dalam berpolitik sebagaimana ditunjukkan dalam debat capres dan cawapres. Dengan banyak belajar dan membaca, kita akan memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kelebihan dan kekurangan setiap teori dan strategi politik. Yang lebih penting kita akan mengetahui bahwa setiap teori dan strategi tidak berada di ruang hampa yang statis. Artinya, teori akan meniscayakan perbedaan pada saat pelakunya berada pada saat dan situasi yang berbeda.

Kedua, dengan cara memperluas pergaulan, mengikis keengganan membuka hubungan persahabatan, bahkan dengan lawan politik sekalipun. Dengan cara inilah kita bisa lebih memahami orang-orang yang berbeda haluan politik dengan kita. Dengan cara menjalin persahabatan, bukan tidak mungkin lawan politik pun akhirnya bergabung dan berada satu barisan dengan kita. Nelson Mandela, pemimpin Afrika Selatan, mengatakan, “If you want to make peace with your enemy, you have to work with your enemy. Then he becomes your partner.”

Di tengah suhu politik yang kian menghangat, kearifan berpolitik menjadi keniscayaan agar suasana hati tetap adem-ayem walau cuacanya panas. Kearifan politik yang berwawasan Nusantara terus menerus kita pupuk agar kompetensi politik berjalan elegan sesuai prinsip-prinsip moral dan etika politik yang harus ditaati oleh semua pihak yang berkepentingan demi budaya dan peradaban bangsa yang berwawasan Nusantara dan berlandaskan Pancasila dan UUD 45. Memupuk kearifan politik menjadi tugas kita sebagai anak bangsa yang lahir dari kandungan Ibu Pertiwi.

Kearifan berpolitik adalah sikap yang proporsional dalam batas-batas tertentu. Antara kerifan dan ketegasan bukan sikap yang saling menafikan. Tetapi bisa menjadi kombinasi yang sangat konstruktif. Kearifan membutuhkan ketegasan yang proporsional. Misalnya dalam hal penegakan hukum untuk menjamin pelaksanaan prinsip keadilan. Kearifan politik yang sesuai wawasan Nusantara yang bisa kita pupuk dengan cara menjaga sikap dan tutur kata yang sopan sebagaimana ditunjukkan oleh capres dan cawapres kita: Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi. Sebagai putra-putri bangsa, kita boleh berbangga hati karena memiliki putra-putra terbaik bangsa yang saling mengakui kelebihan dan kekurangan serta saling berbagi beban.

Kewajiban kita sebagai anak bangsa adalah memaknai konstelasi politik dengan melibatkan dan menginternalisasikan keluhuran nilai dalam mengelola kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan prinsip etika, keadilan, toleransi, dan kebersamaan dalam satu komunitas basis manusiawi di mana pun kita berada. Kita adalah saudara sebangsa. Persaudaraan itu tidak bisa digantikan oleh kepentingan apa pun. Dengan kata lain, kita memiliki kewajiban bersama untuk mewujudkan kearifan dalam berpolitik untuk menjamin tetap kokohnya kebersamaan kita sebagai bangsa di tengah kebhinekaan dalam rangka membangun keutuhan bangsa dan kesatuan wilayah nasional yang merupakan esensi dari wawasan Nusantara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 45. Hal ini merupakan landasan untuk melanjutkan kehidupan bernegara kita menuju cita-cita kebangsaan.

Karenanya, sikap dan perilaku, paham serta semangat kebangsaan atau nasionalisme yang tinggi yang merupakan identitas atau jati diri bangsa Indonesia, sebagaimana ditunjukkan oleh capres dan cawapres kita dalam setiap tema debat dalam rangka menata kehidupan bernegara berdasarkan Pancasila.

Pancasila sebagai dasar negara memiliki fungsi yang sangat penting bagi bangsa Indonesia. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa berarti Pancasila sebagai cita-cita moral, sebagai pedoman, pegangan atau kekuatan rohaniah bangsa Indonesia dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pancasila sebagai jiwa bangsa Indonesia berarti Pancasila memberikan corak khas pada bangsa Indonesia serta sebagai pembeda dengan bangsa lain.

Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia artinya Pancasila sebagai ciri, sikap dan tingkah laku bangsa Indonesia, sebagai pedoman dan pegangan pembangunan bangsa dan negara agar berdiri dengan kokoh. Pancasila merupakan perjanjian luhur yang telah disepakati secara nasional sebagai dasar negara. Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum dan cita-cita serta tujuan yang akan dicapai bangsa Indonesia. Pancasila sebagai falsafah hidup yang mempersatukan bangsa Indonesia dan Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia.

Implementasi nilai-nilai luhur Pancasila dalam membangun kearifan berpolitik sebagaimana ditunjukkan capres dan cawapres kita merupakan suatu keharusan bagi anak bangsa dalam menata kehidupan bersama sebagai saudara sebangsa dan setanah air. Dengan demikian, kita menjadi figur kehidupan dalam membangun kearifan berpolitik. (*)

Editor: Ufqil Mubin

Sekilas: Nikolaus Anggal adalah dosen di Sekolah Tinggi Kateketik Pastoral Katolik Bina Insan Samarinda Kalimantan Timur.

5/5 (2 Reviews)
Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar!

avatar
Back to top button
Close
Close