Catatan

Menyoal Pabrik Semen di Kaltim 

Menyoal Pabrik Semen di Kaltim 
Toni Kumayza (Istimewa)

Ditulis Oleh: Toni Kumayza

8 April 2019

Karts Sangkulirang‑Mangkalihat adalah tandon alam untuk menyimpan cadangan air. Tidak ada makhluk di muka bumi ini yang sanggup membuat air.

Framing media terhadap aksi adalah bagian dari perang wacana kapitalis. Perusahaan tentu memonopoli media-media mainstreem. Corporate social responsibility (CSR) sebelum pendirian pabrik dalam ekspansi ruang kapitalis adalah cara efektif memecah belah perlawanan. Setidaknya barisan kontra tambang akan memilih diam.

Dengan sejumlah “politik kebajikan” yang dilancarkan, perusahaan akan berupaya membangun citra melalui wacana media. Misalnya kemunculan sepanduk dukungan masyarakat lokal di pegunungan karst atas pendirian pabrik tersebut. Ini adalah bentuk adu domba dan pecah belah sesama anggota masyarakat.

Analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) adalah kuasa produktif untuk menundukkan perlawanan secara rasional. Amdal sebagai ruang negosiasi sosial dengan membawa bukti ilmiah harus dikritisi setidaknya pada aspek: Pertama, sains disalahgunakan ketika data ilmiah dipilih secara sengaja untuk mendukung argumen para pemangku kepentingan.

Kedua, tidak ada sains yang independen. Pemerintah atau civil society tidak memiliki anggaran yang cukup untuk mempekerjakan para ilmuwan agar dapat melakukan studi Amdal. Pekerjaan ilmiah umumnya dilakukan orang-orang profesional yang disewa perusahaan. Akibatnya, para profesional ini tidak independen untuk berbicara secara bebas tentang dampak negatif proyek.

Pertumbuhan ekonomi lewat pengukuran produk domestik bruto (PDB) yang dipercaya untuk membangun kesejahteraan lewat investasi adalah suatu nalar yang perlu dikritisi. Asumsi pertumbuhan ekonomi sama dengan kemajuan dan naiknya PDB menjadikan kehidupan lebih baik masih menjadi mantra yang diyakini para birokrat, politisi, akademisi, ekonom, hingga masyarakat arus utama.

PDB menyederhanakan kompleksitas sosial menjadi angka-angka yang kering dan menekankan pada ekonomi pasar sembari mengabaikan kepentingan manusia, sosial, dan ekologi. PDB menghantarkan sebuah era kekayaan materi sembari menumbuhkan ketimpangan, pengurasan sumber daya alam (SDA), dan naiknya keresahan sosial. PDB tak lebih dari cara mengubah yang gratis menjadi berbayar. Maka mengizinkan ekspansi kapitalis, sama saja memberikan kesempatan untuk merampok ruang-ruang kehidupan kita.

Pertumbuhan ekonomi boleh jadi adalah agama sekuler yang dianut dunia. Tapi ia adalah dewa yang gagal bagi sebagian besar masyarakat dunia. Dorongan tiada akhir untuk terus menumbuhkan perekonomian telah melemahkan masyarakat dan lingkungan. Ia menyulut perebutan secara beringas atas energi dan sumber daya lainnya; ia gagal menciptakan lapangan kerja yang dibutuhkan, dan ia mengandalkan konsumerisme pabrikan yang diciptakan bukan untuk memenuhi kebutuhan paling dasar manusia.

Selama ratusan tahun semenjak era Belanda, Kaltim bergantung pada industri SDA. Industri yang tunduk pada batas-batas tehnologi yang telah mendominasi secara politik, menghancurkan, serta mewariskan kerusakan besar dan lama bagi tanah dan manusia. Perekonomian berbasis SDA adalah perekonomian paksaan, berasal dari luar, dan turun dari tampuk-tampuk tertinggi kekuasaan dan kemakmuran. Inilah hasil dari kecerdasan abstrak industrial dan bayaran, yang asing bagi hakikat tanah, bagi pikiran dan kehidupan rakyat.

Secara umum, mereka untung kita buntung. Sebab kapitalisme adalah perekonomian dengan biaya-biaya tak dibayar. Karena biaya untuk produksi tak diperhitungkan dalam perencanaan bisnis. Mereka tidak membayar biaya hancurnya puncak gunung, nyawa yang hilang pada lubang tambang, kontaminasi ikan dan manusia oleh zat kimia, naiknya keasaman laut, dan pemanasan global akibat karbon dioksida.

Kendati pabrik semen dapat dipaksa memikul biaya polusi dan kerusakan lingkungan, sejatinya harga yang dibayar dalam bentuk uang tidak akan pernah mendekati biaya penuh akibat kerusakan bumi dan isinya. Kini yang terjadi adalah demi sesuap nasi kita akan menghancurkan puncak gunung.

Seorang kawan mengatakan tepat di wajahku, “Aku tahu makanku berasal dari situ. Tapi aku benci menghancurkan pegunungan seperti itu.” Wahai kawanku yang tersandera sistem kerja, kalian terpaksa mengambil pekerjaan yang jenisnya-jenisnya ditentukan kapitalisme yang menyebabkan konflik batin antara kebutuhan akan pekerjaan dan kebutuhan akan lingkungan yang sehat.

Inilah konflik batin dalam benak buruh terdidik yang lahir dari mereka (birokrat, politisi, akademisi, pengusaha) yang terus berusaha mengubah setiap hal di muka bumi ini menjadi komoditas yang bisa diberi label harga. Kalian yang tak berjiwa terus memanipulasi hasrat agar terus tumbuh dan menjual lebih banyak.

Janganlah jumawa akan kemenangan manusia atas alam. Karena untuk setiap kemenangan seperti itu, alam akan membalasnya kepada kita. Frederich Engels berkata, “Memang setiap kemenangan pada saat pertama membawa hasil-hasil yang diinginkan. Tetapi pada saat kedua dan ketiga, dampak-dampak berbeda yang tak terduga selalu sering menghapus yang pertama.” (*)

Editor: Ufqil Mubin

Sekilas: Toni Kumayza adalah dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kutai Kartanegara Tenggarong. Saat ini, Toni Kumayza sedang menempuh studi doktoral di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

5/5 (3 Reviews)
Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar!

avatar
Back to top button
Close
Close