HeadlineIndepth

Miliaran Rupiah Menguap Demi Pengasapan Kretek, 70 Persen Perokok di Bontang Usia Remaja

POLUSI ROKOK
Setiap tahunnya masyarakat Bontang menghabiskan Rp 5,5 miliar hanya untuk kebutuhan pengasapan keretek.

“Sebatang rokok adalah sejumput tembakau yang digulung di atas kertas dengan api di satu ujung dan orang bodoh di ujung yang lain,” tulis seorang penulis, pengkritik dan Peraih Nobel sastra (1925) dari Irlandia dan Inggris 1856-1950), Goerge Bernard Shaw.

Akurasi.id, Bontang – Baskara perlahan beranjak di horizon timur. Tepi langit yang memerah perlahan berganti rupa. Senandung ayam berkokok pun satu persatu menyahut menyambung pagi. Di antara kelenggangan buta dini hari, Yudi tampak bersemedi di teras rumahnya. Balai-balai bambu berderik-derik seiring renyut badan pria paruh baya itu memperbaiki posisi duduk.

Sejumput rokok yang telah terbakar di antara apitan jari telunjuk dan jari tengah tangan Yudi. Dalam bilangan detik, asap perlan membumbung. Kerenyahan dan kesegaran udara pagi yang dipayungi pohon jambu lembut mulai berganti aroma tembakau yang pekat. Mata Yudi melayang-layang seiring tarikan cerutu yang tertancap di mulutnya.

Seruputan kopi panas menjadi pemadu pagi yang tampak begitu nikmat bagi Yudi. Tiga hisapan rokok, satu seduhan kopi. Begitu terus dilakukan pria asal Kota Bontang itu menggusur fajar yang kian meninggi ke tepi langit. Hidup tanpa rokok, layaknya jiwa tanpa raga. Begitu pepatah Yudi mentasdik dirinya. Sehingga sukar bagi dia melewati pagi tanpa seduhan kopi dan rokok.

Merokok bukan barang asing dari dunia entah beranta bagi Yudi. Menelusuri sangkala, dunia perasapan rokok sudah karib dengan Yudi sejak di bangku kelas 2 SMA. Bahkan menelisik jauh ke belakang, dia bahkan sudah mulai mencoba mengkenyut cerutu selepas di bangku SMP. Ketika itu, pria asal Kelurahan Api-api, itu mengawalinya dari puntungan rokok.

Yudi bercerita, pada mulanya, dia dan beberapa kawan sejawat mulai merokok hanya untuk bermain-main saja. Sekadar untuk ajang gengsi dan gagah-gagahan agar tidak dianggap sebagai seorang bancut. Akan tetapi seiring sangkala, kebiasan menyesap cerutu menjadi sulit terelakan. Apalagi ketika dia sudah masuk bangku kuliah.

“Yang namanya zaman dulu, ada anggapan, kalau lelaki yang tidak merokok itu banci. Karena yang namanya gengsi, ya saya sama teman-teman jadi tertantang untuk merokok. Eehh, sekarang malah sudah susah hidup tanpa merokok,” ujar pria berbadan ceking itu sembari melepaskan tawa.

Anak sulung dari tiga bersaudara itu sedianya ingin melepaskan belenggu cerutu dalam hidupnya. Usaha sedianya sudah berulang kali dilakukan. Hanya saja sangkal dia melepaskannya. Alasannya pun tidak jauh, sudah terbiasa dan menjadi candu.

“Pernah beberapa kali saya mencoba berhenti merokok, ya cuman susah. Apalagi kalau sehabis makan, air liur susah dikendalikan. Mulut itu terasa asam. Enggak enak gitu kalau enggak merokok. Tapi pelan-pelan saya pengen coba sih berhenti merokok,” tutur dia.

Perokok di Bontang Mencapai 31 Ribu Orang

Berbagai cara dan upaya sedianya telah dilakukan pemerintah untuk menekan angka perokok di Indonesia. Dari menelurkan regulasi yang mengatur tentang rokok sudah dilakukan. Kewajiban memasang informasi bahaya merokok di semua pembungkus rokok pun sudah ditetapkan. Namun upaya itu belum begitu ampuh mencegah lahirnya perokok-perokok baru.

Di Kota Bontang misalnya, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) nomor 5 tahun 2012 tentang Kawasan Tanpa Asap Rokok. Perda tersebut secara tegas melarang setiap aparatur sipil negara (ASN) merokok di kawasan perkantoran Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang.

Tidak hanya itu, Pemkot Bontang bahkan telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Kawasan Tanpa Rokok (KTR) pada akhir 2018 lalu. Satgas itu terdiri dari berbagai elemen masyarakat. Pada akhir tahun lalu, satgas tersebut bahkan telah dibentuk di 15 kelurahan di Bontang. Hanya saja, candu hidup tanpa rokok sudah terlanjur lekat sebagai gaya hidup dan kebutuhan.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang, Ilham Ahmad menuturkan, berdasarkan data riset kesehatan dasar dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 2018, menunjukkan besarnya prevalensi atau proporsi orang yang merokok di Bontang masih cukup tinggi setiap tahunnya.

“Dari 142.332 jiwa penduduk Bontang dengan usia di atas 10 tahun, dapat dipersenkan yang merokok aktif atau setiap hari merokok yakni 18,05 persen. Yang merokok kadang-kadang 3,84 persen. Artinya ada 21,89 persen jumlah penduduk Bontang yang merokok,” ungkap dia kepada Akurasi.id belum lama ini.

Merujuk data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Bontang semester I 2018, saat ini jumlah penduduk Kota Taman –sebutan Bontang-, tercatat sebanyak 55.504 kepala keluarga (KK) atau 178.718 jiwa. Dengan 93.015 laki-laki dan 83.705 perempuan.

Jika menggunakan data kependudukan dengan usia 10 tahun ke atas atau 142.332 jiwa, maka dapat diestimasikan jumlah mereka yang merokok berkisar diangka 31 ribu orang. Data tersebut merupakan hasil riset yang dilakukan Kemenkes di 500 lebih kabupaten/kota di Indonesia. “Risetnya memang menghasilkan populasi,” ujar Ilham.

Namun demikian, kata Ilham, jumlah populasi orang merokok di Bontang masih terbilang rendah jika dibandingkan dengan angka populasi perokok di Kaltim yang mencapai 25 persen. “Bontang masih di bawah dan masih paling rendah di Kaltim. Tapi kalau lihat proporsi perokok, sudah terlalu banyak orang yang terkena dampak langsung akibat rokok,” ungkap dia.

polusi rokok
Miliaran Rupiah Menguap Begitu Saja

Kepala Seksi Pengendalian PTM Diskes Bontang Ilham Ahmad mengemukakan, dari jumlah perokok di Kota Taman yang tercatat mencapai 31 ribu, jika dilihat dari sisi usia, mereka terbagi ke dalam beberapa kategori, yakni angka 5-9 tahun, 10-14 tahun, dan seterusnya.

Apabila diproporsikan dari strata usianya, maka yang pertama kali merokok rata-rata adalah remaja dengan umur 10-19 tahun. Artinya, dari 31 ribu perokok di Bontang, sekitar 70 persen adalah usia remaja. “Makanya mengapa penting penekanannya pada lingkungan sekolah, karena usia sekolah yang rentan,” imbuhnya.
Jika jumlah perokok itu diturunkan ke dalam hitungan keuangan, maka dapat diperoleh angka-angka yang cukup fantastik. Untuk diketahui, saat ini rata-rata harga sebungkus rokok dijual Rp 12-20 ribu. Data Akurasi.id mencatat, harga paling murah untuk sebungkus rokok dijual Rp 12.400, yakni Sampoerna Hijau Kretek dengan isi 12 batang.

Sedangkan untuk rokok dengan harga tertinggi yakni Malboro Ice Blast. Rokok yang mulai diluncurkan pada 9 Februari 2018 itu dijual Rp 23 ribu dengan isi 20 batang. Saat ini, jumlah perokok di Bontang mencapai 31 jiwa. Bila rata-rata jumlah rokok yang dihisap setiap harinya adalah 12 batang dengan esteminasi harga sebungkusnya Rp 15 ribu, maka pembelanjaan rokok setiap harinya mencapai Rp 465 juta. Setahunnya bisa menghabiskan Rp 5,580 miliar.

“Ketika anak usia remaja sudah terjerumus pada rokok, itu menjadi investasi (yang buruk), karena remaja akan seterusnya mengonsumsi rokok akibat kecanduan,” imbuh Ilham.

Perlu Sinergi dari Semua Pihak

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Diskes Bontang, Jamila Suyuti mengatakan, pembentukan dan pembinaan Satgas KTR merupakan sinergi antara Diskes, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), dan Forum Kota Sehat (Forkohat) untuk mewujudkan Perda nomor 5 tahun 2012.

Menurut dia, Satgas KTR bukan hanya menjadi tanggung jawab Satpol PP, tetapi juga melibatkan unsur masyarakat di setiap kelurahan sesuai spot kawasan tanpa asap rokok. “Tentu sangat diharapkan adanya sinergi supaya aturan itu bisa dilaksanakan dengan baik,” cakapnya.

Diakui, untuk menurunkan populasi perokok di Bontang memang tidak mudah. Apalagi jika tidak ada kesadaran dari masyarakat, maka akan semakin sukar. Di instansi pemerintahan, beberapa di antara badan dan dinas telah menyiapkan ruangan khusus untuk merokok. “Kita semua tentu ingin semua kantor bebas dari asap rokok,” tandasnya. (*)

Penulis: Ayu Salsabilah/Yusuf Arafah
Editor: Yusuf Arafah

5/5 (1 Review)

Tinggalkan Komentar!

avatar

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close