HeadlineIndepth

Miris, Sejak 1988, Warga Kecamatan Kaubun di Kutim Hidup Tanpa Setrum Listrik PLN

Miris, Sejak 1988, Warga Kecamatan Kaubun di Kutim Hidup Tanpa Setrum Listrik PLN
Listrik seolah menjadi barang mahal dan langka bagi warga yang ada di Kecamatan Kaubun, Kutim hingga saat ini. (Ilustrasi)

Akurasi.id, Sangatta – Listrik seolah menjadi barang yang begitu mahal dan langkah bagi masyarakat yang ada di sejumlah desa di Kecamatan Kaubun, Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Bagaimana tidak, sejak 1988, warga Kecamatan Kaubun telah hidup tanpa setrum listrik PT PLN.

baca juga: Miris, Empat Desa di Batu Ampar Kutim Hidup Tanpa Listrik Selama 28 Tahun

“Ketiadaan listrik (PLN) di desa kami sudah sejak tahun 1988 atau sejak awal program transmigrasi mulai masuk di Kutim,” demikian dikatakan Hari Slamet (48) salah seorang warga Desa Bumi Jaya, Kecamatan Kaubun kepada Akurasi.id.

Kepada media ini, Hari bercerita, listrik memang menjadi masalah klasik yang hingga dengan saat ini belum mampu diberikan pemerintah. Demi menyulam malam dari gulitanya malam, warga setempat hanya mengandal listrik dari mesin genset.

“Untuk sebagian warga, ada yang sudah menggunakan PLTS, pembangkit listrik tenaga surya. Tapi sebagian besar warga masih menggunakan mesin genset untuk dapatkan listrik,” kata dia saat media ini bertandang ke Desa Bumi Jaya belum lama ini.

Demi mendapatkan penerangan dari pukul 18.00 Wita hingga pukul 22.30 Wita, sebagian besar warga Kecamatan Kaubun, khususnya Desa Bumi Jaya, mesti merogok isi kantong dalam-dalam setiap bulannya. Ya, setidaknya warga harus mengeluarkan biaya antara Rp1-1,5 juta setiap bulannya.

“Untuk warga yang menggunakan mesin genset, setiap bulannya harus mengeluarkan uang minimal Rp1,5 juta. Karena harus membeli solar genset setiap harinya. Dalam sehari saja dibutuhkan sekitar 5 liter solar. Dan satu liter solar dijual Rp10 ribu,” ungkap Hari.

“Itu belum termasuk biaya untuk membeli oli dan beberapa kebutuhan lainnya. Pokoknya butuh biaya besar setiap bulannya kalau mau mendapatkan listrik,” sambung pria yang telah hidup berpuluh-puluh tahun di Desa Bumi Jaya tersebut.

Sumarno (41) yang juga warga Desa Bumi Jaya berujar, bahwa ketiadaan layanan listrik PLN di Kecamatan Kaubun sudah berlangsung sejak tahun 1988. Dalam medio itu, baru ada 2 kali listrik desa yang diupayakan bisa melayani kebutuhan setrum warga.

“Pada tahun 1990, sempat ada listrik dari koperasi desa. Tapi hanya jalan setahun. Kemudian mesinnya rusak. Selain itu, layanan listrik dihentikan, macet, karena biaya operasionalnya juga sangat besar,” tutur pria berkumis tebal tersebut.

Pada 2012 lalu, listrik desa sempat kembali diupayakan melayani kebutuhan setrum warga. Listrik desa ini sempat berjalan selama 1 tahun lamanya. Namun lagi-lagi gagal menerangi rumah warga dalam jangka waktu lama dikarenakan mesin genset desa kembali rusak.

“Masalahnya juga sama sih, biaya operasional yang dibutuhkan juga sangat besar. Makanya, layanan listrik yang ke rumah-rumah warga jadinya macet lagi. Sekarang kami memilih membeli genset pribadi, ya walau biaya yang kami keluarkan juga tidak sedikit,” imbuhnya.

Program Listrik PLN Baru Sebatas Pemasangan Gardu

Upaya pemasangan listrik dari PT PLN diakui warga setempat sudah sempat jalan dari medio 2017-2018 lalu. Antara lain, dengan dibangunnya sejumlah gardu listrik yang membentang di sepanjang Jalan Poros Kecamatan Kaubun yang telah dirampungkan pada tahun 2019 lalu.

Hanya saja, masyarakat belum tahu kapan pastinya layanan listrik itu akan bisa masuk ke rumah-rumah warga. Menurut Hari Slamet, pada akhir 2019 lalu, sempat tersiar kabar, jika pada awal 2020, layanan listrik PLN sudah bisa menyetrum ke rumah-rumah warga.

Hal itu sempat menjadi kabar yang cukup menggembirakan bagi warga setempat. Karena pasca kabar itu tersiar, ada sejumlah petugas PLN yang turun ke rumah-rumah warga untuk melakukan pemasangan instalasi listrik.

“Gardu listrik sudah rampung dibangun sejak 2019 lalu. Kemudian instalasi juga sudah dipasang di rumah-rumah. Tinggal listriknya saja lagi yang belum ada masuk ke rumah-rumah. Kami enggak tahu kapan bisa direalisasikan,” tutur Heri masih kepada wartawan media ini.

Pihak PLN, baik dari Rayon Sangatta, Bontang hingga Samarinda, menurut Heri telah berulang kali datang ke Kecamatan Kaubun dan bertemu warga. Dari pertemuan itu, PLN baru sebatas menjanjikan jika pemasangan instalasi listrik sudah mulai dapat dilaksanakan sejak akhir 2019 lalu.

“Sudah ada 3 desa yang telah melakukan pemasangan instalasi, Desa Bumi Etam, Bumi Rapak, dan Bumi Jaya. Cuman kapan listriknya akan bisa melayani rumah warga, ya kami juga belum tahun lagi. Dari pihak PLN juga belum ada berani menjanjikan,” imbuhnya.

Heri berkata, untuk pemasangan instalasi listrik, warga telah mengeluarkan biaya sebesar Rp2,5 juta, Uang itu sudah termasuk biaya penyambungan dan uang jaminan langganan (BPUJL). Dalam hal biaya ini sendiri, warga tidak ada yang keberatan karena besarnya keinginan mendapatkan layanan listrik memadai dari PLN.

“Dari PLN, sempat sih menyampaikan kalau sebelum Ramadan lalu, listrik sudah bisa menyala. Cuman hingga dengan sekarang, layanan listrik belum ada terealisasi. Ya, sejujurnya kami sangat berharap adanya layanan listrik,” katanya.

“Kami juga ingin merasakan rumah-rumah kami diterangi listrik seperti rumah warga yang ada di daerah perkotaan di Sangatta. Bila ada listrik 24 jam, pasti ada banyak usaha yang juga bisa kami kembangkan,” tandasnya. (*)

Penulis: Redaksi Akurasi.id
Editor: Dirhanuddin

Tags

Leave a Reply

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close