Lifestyle

Modal Nekat, Pengusaha Interior Lulusan SMP Beromzet Puluhan Juta

interior
Heru dengan hasil karya interior buatannya. (istimewa)

Akurasi.id, Bontang – Tak pernah terbayangkan dalam benak Heru kini bisa menjadi pengusaha interior di Kota Taman –sebutan Bontang-. Mengingat dirinya hanyalah lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Jawa yang sebelumnya kesulitan mencari pekerjaan. Bahkan banyak yang tidak mempercayai Heru hanya lulusan SMP, lantaran hasil karyanya bak profesional dengan omzet puluhan juta.

Baca juga: Orang Tua Memaksakan Kehendaknya Pada Anak, Ini Cara Komunikasi yang Tepat

Masih melekat dalam ingatan Heru 2015 silam. Dirinya menyebrangi pulau Jawa menuju Bontang, Kalimantan Timur untuk mengadu nasib di perantauan. Hanya bermodalkan ijazah SMP, pria kelahiran Klaten, 17 Oktober 1992 ini bekerja sebagai helper pada sub kontraktor di lingkungan Badak LNG. Setahun lamanya, dirinya bekerja membuat interior di rumah sakit, kantor, dan gedung. Bekerja dari Senin sampai Sabtu, Heru digaji harian sebesar Rp 80 ribu.

“Banyak yang dikerjakan di sana. Bikin meja, lemari, background, dan lainnya. Saya tidak punya skill sebelumnya. Di tempat kerja itu saya mulai belajar,” ucapnya kepada Akurasi.id, Senin (9/12/19).

Namun sayang, Heru terpaksa berhenti bekerja lantaran masa kontraknya telah usai. Dirinya mencoba mencari pekerjaan lain dengan pengalaman yang telah didapat dari hasil bekerja sebelumnya. Lalu, suami dari Ayuk Yula ini pun mendapat pekerjaan di sebuah mebel sebagai pemborong saja. Namun dirinya hanya bekerja 3 bulan saja.

Karena menganggur, sang istri berinisiatif mencarikan suaminya pekerjaan. Ayuk yang bekerja sebagai pegawai di gerai ponsel lalu membujuk bosnya agar membuat lemari khusus handphone dengan menggunakan jasa sang suami. Sedangkan bahan dan peralatannya disediakan dari pemilik konter.

“Saat itu ada banyak lemari yang saya buat, tapi bertahap. Saya hanya minta upah jasa Rp 750 ribu per unit lemari,” akunya.

Dari upah jasanya, Heru lalu membeli peralatan mebel yang disediakan pemilik konter sebelumnya. Di sinilah awal mula Heru nekat mendirikan usaha sendiri dari hasil mengerjakan lemari di konter tempat istrinya bekerja. Kemudian, akhir 2015 bersama istri Heru membuka usaha di rumah kontrakan di Jalan Sulawesi Perumahan BTN-KCY. Di sana mereka berwirausaha sembari mempromosikan usahanya melalui grup jual beli online Bontang Facebook.

“Desember 2016 saya buka usaha sendiri dengan nama Alifa Interior HPL di Jalan Pupuk Raya. Alhamdulillah pelanggan semakin banyak,” tuturnya.

Kisaran harga interior buatan Heru tergantung dari jenis bahan dan tingkat kerumitan pengerjaannya. Paling mudah dirinya menerima pesanan meja untuk kantor. Harganya paling murah mulai dari Rp 2 juta. Sedangkan interior termahal yang dia buat yakni membuat kitchen set lengkap dengan harga Rp 40 juta. Lama proses pembuatannya juga tergantung dari tingkat kerumitannya. Misalnya untuk membuat meja, rak sepatu, dan lemari hanya membutuhkan waktu 2-3 hari. Sedangkan membuat perabotan dapur dan perabotan kamar lengkap bisa memakan waktu 2 minggu. Dia menyebut saat ini pelanggannya mulai merambah ke perusahaan maupun instansi pemerintah di Bontang.

“Dalam sebulan penghasilan kotor minimal dapat Rp 10 juta. Paling banyak di bawah Rp 50 juta. Kalau rata-rata Rp 30 juta,” terangnya.

Heru mengaku bersyukur dengan pilihannya menjadi pengusaha diusia muda. Bahkan dia bisa membuka lapangan pekerjaan bagi keluarga dan kerabatnya. Saat ini dia memiliki 2 karyawan dengan gaji Rp 2 juta per bulan. Jika lembur, dirinya menambah Rp 10 ribu per jamnya.

MAHYUNADI

“Rencana saya tambah 2 orang karyawan lagi,” imbuhnya.

Menjadi pengusaha muda, Heru memiliki beragam suka dan duka dalam melakoni usahanya. Dia mengaku senang selama bekerja bisa memiliki banyak pelanggan dari berbagai latar belakang berbeda. Namun, dia kerap kesal jika ada pembeli yang memesan interior namun tidak segera diambil. Bahkan ada pula yang tidak membayar lunas pesanannya.

“Jadi kalau ada yang pesan biasanya saya minta DP (uang muka). Sisanya dibayar setelah barang sudah jadi. Tapi malah enggak diambil-ambil,” keluhnya. (*)

Penulis: Suci Surya Dewi

Tags

Leave a Reply

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close