Hard NewsHeadlineHukum

Modus Jadi Guru Ngaji, Pria Asal Wahau Setubuhi Gadis 14 Tahun, Berdalih Suka Sama Suka

Modus Jadi Guru Ngaji, Pria Asal Wahau Setubuhi Gadis 14 Tahun, Berdalih Suka Sama Suka
Foto: NG, pelaku kasus tindak pidana pencabulan terhadap seorang gadis 13 tahun meringkuk di balik jeruji besi. (Ella Ramlah/Akurasi.id)

Akurasi.id, Sangatta – Entah bisikan setan apa yang merasuki NG (25) pemuda asal Desa Muara Wahau, Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Sebagai seorang yang berprofesi guru mengaji, dia tega melakukan perbuatan tindakan asusila dengan mencabul hingga menyetubuhi muridnya sendiri yang masih di bawah umur, sebut saja Bunga (14).

Baca juga: Usai Salah Seorang Pegawainya Positif Covid-19, Bappeda Kutim Rapid Test 130 Pegawai Lainnya

Ironisnya, aksi persetubuhan yang dilakukan pelaku terhadap korban tidak hanya sekali, melainkan sebanyak tiga kali. Hasrat NG itu tak dapat dibendung manakala bertemu dengan Bunga. Pasalnya dari pengakuan NG, awalnya Bunga yang menaruh perasaan terhadap dirinya.

“Awalnya dia (Bunga) yang punya perasaan sama saya, dan Bunga juga yang pertama mengajak main (bersetubuh),” jelas NG saat ditanyai wartawan Akurasi.id di balik jeruji besi Polres Kutim, Kamis (17/9/2020).

NG yang sudah diamankan polisi berdalih perbuatan asusila tersebut atas dasar sama sama suka dan tanpa ada unsur paksaan. Modus pelaku melancarkan aksi bejat itu dilakukan di rumahnya sendiri, usai mengajarkan korban ngaji. Bunga yang menjadi korban diminta datang ke rumahnya.

“Tidur sama-sama, kemudian Bunga pegang kemaluan. Jadi tidak ada istilah memaksa dan sebagainya enggak ada, kami melakukan sama-sama saja gitu,” ucap NG berdalih.

Kasatreskrim Polres Kutim AKP Abdul Rauf menceritakan awal aksi pencabulan tersebut bisa terjadi. Kepada media ini, Rauf mengatakan, awalnya NG mengirimkan pesan singkat ke Bunga untuk datang ke rumahnya.

“Bunga pun datang ke rumah guru ngajinya dengan kabur lewat jendela, sampai di rumah guru ngajinya dengan kondisi sepi, mati lampu dan sudah malam, NG pun melancarkan aksinya dengan melakukan hubungan layaknya suami istri,” terangnya.

Sementara orang tua Bunga menyadari anaknya yang tak pulang-pulang, orang tua korban mulai kebingungan. Khawatir terjadi apa-apa dengan anaknya, orang tua Bunga pun akhirnya mengambil tindakan dengan melapor ke polisi.

“Tim pun bergerak cepat dan menemukan NG dan Bunga sudah berada di Samarinda,” kata Rauf.

Pria yang pernah menjabat Kapolsek Tenggarong Seberang, Kukar ini mengungkapkan, korban sudah dipulangkan ke rumahnya sejak Rabu (16/9/2020), atau setelah korban dan pelaku diamankan pihaknya di Samarinda.

“Kemarin sudah kami amankan (pelakunya), dan korban sudah kami pulangkan ke rumahnya. Sekarang masih proses pemeriksaan terhadap pelaku,” kata Rauf.

Dia menambahkan, berdasarkan hasil pemeriksaan sementara yang dilakukan terhadap pelaku, diketahui aksi persetubuhan untuk kali pertamanya pada Juni 2020 lalu. Ketika itu, aksi pencabulan terjadi di rumah pelaku. Kemudian aksi kedua dan ketiga, yakni pada September 2020 ini.

“Yang kedua, dilakukan siang hari di rumah pelaku. Kemudian yang ketiga, terjadi sekitar 15 September 2020, bertempat di salah satu kebun sawit yang ada di Desa Mmuara Wahau,” ungkapnya.

Namun apapun yang menjadi alasan dari pelaku untuk mencoba membenarkan perbuatannya, tambah Rauf, perbuatan pelaku dianggap salah karena menyetubuhi anak di bawah umur. Akibat perbuatan cabulnya tersebut, pelaku dijerat dengan Pasal 81 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang tindak pidana persetubuhan terhadap anak, dengan ancaman di atas 5 tahun penjara. (*)

Penulis: Ella Ramlah
Editor: Dirhanuddin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terkait

Back to top button
Enable Notifications    Ok No thanks