Corak

Omset Setiap Hari Rp 10 Juta, Amplang Bengalon Go International

Omset Setiap Hari Rp 10 Juta, Amplang Bengalon Go Internasional Akurasi.id
Karyawan Amplang Bengalon menggoreng dan mengadon amplang. (Ella Ramlah/Akurasi.id)

Akurasi.id, Sangatta – Produk olahan makanan ringan kerap diragukan dapat memasuki pasar mancanegara. Namun seorang ibu rumah tangga di Kutai Timur (Kutim), Sulistiawati, menjawab tantangan dan keraguan tersebut.

Bermodal cita-cita ingin merambah pasar global, hal itu menjadi kekuatan baginya untuk membangun bisnis. Saat ini, Amplang Bengalon sudah tersebar di seluruh kabupaten/kota di Kaltim. Bahkan produk-produknya dijual di pasar Eropa, Korea, Australia, dan Makkah.

Usahanya dilakoni sejak 2009. “Saya ingin go international dengan krupuk Amplang Bengalon,” kata Sulis kepada Akurasi.id saat berkunjung di kediamannya di Bengalon, Selasa (26/3/19).

Setiap hari Sulis mendapat omset Rp 10 juta. Meningkatnya peminat Amplang Bengalon membuat kebutuhan terhadap pekerja semakin bertambah. Usaha rumahan tersebut membuka lapangan kerja baru bagi warga Bengalon.

Omset Setiap Hari Rp 10 Juta, Amplang Bengalon Go Internasional Akurasi.id
Karyawan Amplang Bengalon membungkus amplang. (Ella Ramlah/Akurasi.id)

Perempuan kelahiran 1978 ini mengolah ikan menjadi makanan ringan tanpa bahan pengawet. Bahan baku yang digunakan adalah bandeng yang diambil dari Bontang dan Sulawesi. Saban pekan, bersama 14 karyawannya yang bekerja di usaha rumahannya, dia mampu menghabiskan 315 kilogram ikan.

“Untuk ikan kita ambil dari Bontang dan Sulawesi. Kita enggak ambil dalam bentuk utuh. Tapi hanya daging ikan (fillet) saja yang dikirim ke Bengalon. (Tujuannya) untuk memudahkan proses (pengolahan amplang),” jelasnya.

Di hari-hari besar seperti lebaran dan tahun baru, usaha Amplang Bengalon mampu memproduksi dua kali lipat dari hari biasa. Setiap pekan, Sulis menghabiskan 700 kilogram ikan bandeng.

Sulis mengaku tidak mendapatkan kendala yang berarti dalam menjalankan usahanya. Hanya saja, hambatan yang acap dihadapinya adalah pasokan bahan pokok berupa ikan segar yang sudah di-fillet dan tepung kanji.

“Kalau musim angin di Bontang, kita drop ikan dari Sulawesi. Tapi tetap melalui Bontang untuk mem-fillet-nya. Ditambah lagi dengan tepung kanji. Di sini kami pakai tepung kanji merek khusus. Jika (kanji merek khusus) itu tidak ada, kita terpaksa pakai merek lain,” ungkapnya.

Penggunaan tepung kanji yang umum dijual di pasar bukan tanpa masalah. Dia mengaku kerap diprotes pelanggan. Pasalnya, tekstur amplang berubah. Meski begitu, tidak berarti konsumen kecewa.

Semangatnya untuk mengembangkan bisnis tak pernah padam. Demi memperluas pasar di mancanegara, Sulis membuat produk yang unggul dari segi rasa, gurih, dan renyah. Hal itu tidak terlepas dari penggunaan tehnologi yang handal.

Selama 10 tahun menjalani usaha tersebut, dia belajar banyak hal. Satu waktu, produk yang dibuatnya tak bertahan lama. Dia tertantang agar semakin lebih baik.

Untuk mengembangkan bisnisnya, Sulis bergabung dengan Forum UMKM Kutim. “Di sinilah saya semakin dekat dengan banyak stakeholder,” ungkapnya. (*)

Penulis: Ella Ramlah
Editor: Ufqil Mubin

5/5 (3 Reviews)
Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar!

avatar
Back to top button
Close
Close