HeadlineIndepthKesehatan

Orang Tua Memaksakan Kehendaknya Pada Anak, Ini Cara Komunikasi yang Tepat

orang tua
Praktisi Psikologi Lembaga Psikologi Insan Cita Bontang Adela Setyawati (dok pribadi)

Akurasi.id, Bontang – Berkomunikasi dengan anak merupakan bentuk pendidikan yang paling penting. Namun tahukah Parents, ketika berbicara pada anak tidak hanya menggunakan pilihan kata (diction) yang tepat. Namun sebagai orang tua perlu memperhatikan nada suara, intonasi, dan cara menyampaikan bahasa yang baik.

Selama ini banyak orang tua yang menganggap komunikasinya kepada anak tidak bermasalah. Bahkan menganggap benar sehingga tidak merasa perlu adanya intropeksi diri. Berikut penjelasan dari Praktisi Psikologi Lembaga Psikologi Insan Cita Bontang Adela Setyawati kepada Akurasi.id.

Apa saja sih yang tidak boleh dilakukan orang tua yang bisa berdampak negatif bagi perkembangan anak?

Memaksa anak mengiyakan keinginan orang yang lebih tua tetapi tidak memberi penjelasan yang dapat mereka pahami. Hal ini sangat tidak mendidik seolah anak dikondisikan pada posisi bahwa dirinya harus selalu mau menuruti keinginan orang dewasa. Padahal orang dewasa tersebut belum tentu baik meski anak tidak paham mengapa hal itu harus dilakukan. Ini berpotensi membuka celah anak menjadi perlahan kehilangan kontrol terhadap dirinya sendiri karena semua harus dilakukan ‘by order’.

Lalu bagaimana solusinya?

Seharusnya anak selalu dikondisikan sebagai sosok yang mampu berpikir, mampu memilih, dan mengambil keputusan. Karena 3 kemampuan tersebut menjadi dasar penting bagi seseorang direntang masa kehidupannya. Di sini orang tua perlu berlatih bagaimana cara tepat menstimulasi anak berpikir terhadap sebuah kondisi. Maka solusinya adalah berikan ruang berdiskusi dengan anak.

Misalnya, setelah kita memaparkan sesuatu hal, lalu kita umpan ke anak untuk ikut berpikir dengan mengucapkan, “Kalau menurut kamu bagaimana, Nak?” Atau “Kamu setuju enggak Sayang dengan penjelasan Mama tadi?”

Lalu seimbangkan porsi untuk mendengarkan anak. Jangan hanya orang tua saja yang ingin didengar. Konsep sederhananya, jika bersedia mendengarkan anak lebih banyak, orang tua akan dimudahkan memantau perkembangan dan lebih gampang masuk ke dunia mereka. Karena kita paham bagaimana cara berpikir anak.

Nah, bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan anak?

Orang tua jangan men-judge atau melabelkan anak dengan kalimat atau kata negatif. Meski komunikasi yang kedua ini cukup banyak dan mudah kita temui di lingkungan, kita harus paham bahwa efeknya sangat buruk bagi pembentukan konsep diri anak.

Dinamika psikologisnya bisa sampai ke tahap anak merasa kurang, tidak berharga, perasaan tidak bernilai, tidak penting, dan yang terburuk ketika muncul prasangka buruk anak sebagai efek dari ucapan yang dilarang tersebut. Bahwa dia adalah anak yang sebenarnya tidak diinginkan keberadaannya oleh orang tua.

Wah, kalau sudah begitu dampaknya bisa jauh sekali kepada anak. Tidak menutup opsi, anak memilih untuk suicide. Jangan sampai ya!

Seperti apa seharusnya sikap orang tua kepada anak?

Jawabannya sederhana: tidak ada orang yang suka di-judge. Maka gantilah bentuk penghakiman dan labeling tadi menjadi sebuah atau dua buah pertanyaan agar memperoleh penjelasan langsung dari anak.

Jika orang tua selalu berhasil melakukan ini, anak akan terbentuk menjadi sosok yang percaya diri, punya keyakinan atas kelebihan dirinya, merasa sanggup dan mampu. Anak juga akan terlatih bersikap realistis. Secara sadar bisa menerima kekurangan dan tidak ambil pusing atau menyoroti sisi lemah dalam dirinya. Dengan cara ini, anak juga dilatih untuk mampu menjelaskan apa yang dia rasakan dan pikirkan.

Sikap apakah yang tidak disukai anak dari orang tuanya?

Ketika orang tua memaksa anak. Sebaiknya orang tua berpikir untuk menawarkan pilihan kepada anak. Tentu saja pilihan yang sesuai harapan orang tua. Bukan sekadar pilihan bebas yang berpotensi menjadi boomerang bagi orang tua.

Apa efeknya jika sering memaksa anak?

Jika anak sering dipaksa menjadi seolah-olah dia anak baik. Namun itu hanya dilakukan selama anak tahu dirinya sedang diamati. Hal tersebut menurunkan kemampuan anak dalam membangun sisi awareness atau kesadaran dalam dirinya. Padahal hal inilah yang terpenting.

Orang tua mana yang tidak mau jika anaknya tetap ingat melakukan sesuatu dan tetap mematuhi aturan ketika anak tidak berada di sisi orang tuanya? Maka caranya bukan dengan memaksa sehingga anak takut dan enggak mau repot. Lalu mereka terbiasa untuk melakukan sesuatu karena kondisi dipaksa.

Jika hal ini kerap terjadi, ingat anak adalah peniru ulung. Anak sangat mungkin bisa mengadopsi cara orang tuanya untuk meraih keinginannya.

Contoh dalam kehidupan sehari-hari seperti apa?

Misalnya mengganti kalimat perintah kepada anak, “Adek mau mandi 5 menit lagi atau 15 menit lagi?” Lalu jelaskan kondisinya dengan jelas kepada anak. Misalnya jika anak memilih mandi dalam waktu 5 menit, maka paparkan konsekuensinya. Demikian pula dengan opsi jika anak memilih waktu 15 menit untuk segera mandi.

Akhirnya anak terbiasa terstimulasi untuk berfikir serta menimbang berbagai konsekuensinya sebelum memutuskan sesuatu. Bukankah skill ini begitu penting untuk terus diasah sepanjang perjalanan hidup kita?

Kebiasaan apa lagi yang tidak boleh lakukan orang tua?

Orang tua yang melarang ketika si anak menangis. Padahal anak sedang sedih atau kesal. Sehingga perlu sekali meluapkan perasaannya dengan menangis.

Mengapa tidak boleh dilakukan?

Karena perasaan itu tidak boleh ditahan untuk dipendam. Kalau pun akan ditahan itu hanya sementara, selanjutnya harus dilepaskan dengan cara-cara yang tepat. Dan menangis adalah salah satu cara tepat yang dapat dilakukan.

Apa efeknya jika ini seringkali dilakukan terhadap anak?

Anak akan terkondisi dan ‘belajar’ bahwa perasaan tidak nyaman yang muncul saat kita menghadapi sesuatu bukanlah hal penting yang harus diregulasi. Salah satunya dengan menangis.

Anak akan ‘terpola’ seolah-olah merasa kuat dan tangguh. Padahal sebenarnya tidak. Ada waktu di mana perasaan anak mengalami dinamika. Bukankah manusia memang diciptakan Allah dengan begitu sempurna? Memiliki otak dan perasaan, lalu kenapa harus dilarang ketika anak ingin menangis?

Anak yang sering dilarang menangis mereka akan tumbuh sebagai individu yang minim rasa peka terhadap lingkungan dan perasaan orang lain. Seiring berjalannya waktu mereka akan sulit menumbuhkan empati pada rasa susah yang orang lain rasakan. Karena saat diri mereka kesusahan dan tidak nyaman, mereka justru mendapat penolakan dan larangan dari orang terdekat yang seharusnya paling mengerti perasaan mereka. Sedih kan?

Lalu bagaimana orang tua harus menyikapinya?

Orang tua seharusnya memberikan waktu dan ruang untuk anaknya dalam mengelola perasaannya. Karena ini skill yang sangat penting dalam perkembangan seorang manusia.

Bukankah ada banyak sekali permasalahan yang harus menjadi rumit bukan karena ketidakmampuan kita memikirkan solusinya. Namun lebih kepada kelemahan kita untuk mampu mengelola perasaan negatif dalam diri kita.

Orang tua dapat mengarahkan anak dengan berkata, “Kamu boleh menangis untuk membuat perasaanmu lega. Secukupnya saja ya Nak. Karena kita harus fokus mencari solusi dari masalah ini, okey Nak?”

Nah terbayang enggak kalau kita menjadi anaknya, terus orang tua kita berkata seperti itu. Apa rasanya? Perasaan menjadi adem dan nyaman. Kesimpulannya, jadilah orang tua yang lebih memahami anak dengan melakukan pendekatan dengan berdiskusi. Kemudian seringlah berkomunikasi tanpa melabeli anak dengan kalimat negatif. (*)

Penulis: Suci Surya Dewi

Tags
Show More

Tinggalkan Komentar!

avatar

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close