HeadlineIndepthPolitik

Para Bintang yang Lolos dan Gugur di Dapil Kaltim

Para Bintang yang Lolos dan Gugur di Dapil Kaltim
Rudy Mas’ud dan Safaruddin (Istimewa)

Akurasi.id, Samarinda – Komposisi calon anggota legislatif (caleg) dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kalimantan Timur (Kaltim) diisi oleh “para bintang” yang telah malang melintang di jagat perpolitikan daerah kaya sumber daya alam ini. Tak heran, persaingan perebutan kursi di dapil ini begitu ketat.

Kompetisi tidak hanya terjadi di lintas partai politik (parpol). Tetapi juga di internal partai pengusung caleg. Hal ini ditandai dengan daftar caleg yang kompetitif di sebagian besar parpol. Padahal, hanya delapan kursi yang tersedia di dapil ini.

Panasnya medan persaingan perebutan kursi wakil rakyat ini ditandai dengan beragam fenomena. Ada dugaan money politic, intrik, hingga saling beradu pengaruh di basis lawan. Lepas dari semua tahapan yang dinilai melelahkan itu, kerja keras para caleg selama tahapan pemilu yang berlangsung berbulan-bulan telah menuai hasil.

Baca Juga : Parpol yang Kembali Berjaya di Karang Paci

Pada Selasa (7/5/19) malam, kami menerima data daftar caleg yang mendapat suara tertinggi di Pileg 2019. Sumbernya, Tim Data Hetifah Center. Salah satu tim data tersebut, Ali Taufan. Dia menyebut, pihaknya mengumpulkan seluruh data model DB-1 DPR RI dari hasil pleno kabupaten/kota se-Kaltim. Data itu menampik “informasi liar” yang tersebar di masyarakat. “Banyak rumor yang beredar tanpa sumber yang jelas dan data yang valid,” katanya.

Dari data tersebut terlihat delapan caleg yang melenggang ke DPR RI. Antara lain Rudy Mas’ud dan Hetifah Sjaifudian (Golkar), Safaruddin dan Ismail Thomas (PDIP), G. Budisatrio Djiwandono (Gerindra), Aus Hidayat Nur (PKS), Awang Faroek Ishak (NasDem), dan Irwan (Demokrat). Data itu menunjukkan, hanya Golkar dan PDIP yang masing-masing mengantongi dua kursi. Sisanya, tiap-tiap partai dari empat parpol mendapat satu kursi.

Lalu bagaimana perolehan suara para caleg terpilih tersebut? Berikut Akurasi.id sajikan daftar caleg berdasarkan perolehan suara tertinggi:

NoCaleg TerpilihPartai PolitikPerolehan Suara
1Rudy Mas’udGolkar128.909
2SafaruddinPDIP86.528
3G. Budisatrio DjiwandonoGerindra71.217
4Hetifah SjaifudianGolkar66.487
5Aus Hidayat NurPKS51.409
6Ismail ThomasPDIP49.174
7IrwanDemokrat40.329
8Awang Faroek IshakNasDem34.054

Golkar menempati urutan teratas. Partai berlambang pohon beringin ini mendapat 350.839 suara. Diikuti PDIP yang mengantongi 333.404 suara. Di posisi ketiga ditempati Gerindra dengan perolehan 194.270 suara. PKS mendapat 159.563 suara, NasDem memperoleh 137.587 suara, dan Demokrat mengantongi 112.987 suara.

Para Bintang yang Lolos dan Gugur di Dapil Kaltim

Parpol yang Tersingkir

Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Pemilu 2014 berhasil mendapat satu kursi di Dapil Kaltim. Namun di pemilu tahun ini, partai berlambang kakbah tersebut tak memperoleh kursi. PPP hanya mengantongi 98.411 suara. Posisinya di bawah Partai Demokrat.

Karena itu, kursi partai ini direbut oleh PDIP. Di pemilu lima tahun lalu, partai berlambang banteng itu hanya meraih satu kursi. Kini partai tersebut mendapat dua kursi. Komposisi caleg yang kompetitif membuat partai penguasa ini memperoleh banyak suara.

Nama-nama seperti Safaruddin (mantan Kapolda Kaltim), Rusmadi (pernah menjadi calon gubernur Kaltim), dan Ismail Thomas (mantan Bupati Kutai Barat), bukanlah orang baru dalam jagat politik lokal. Mereka sudah dikenal luas di masyarakat Bumi Etam.

Sementara PPP, hanya Farid Wadjdy (mantan Wakil Gubernur Kaltim) dan Kasriyah (anggota DPR RI) yang relatif kompetitif. Enam caleg lain yang diusung PPP dinilai memiliki elektabilitas dan tingkat keterpilihan yang rendah.

Penyebab lain, sebagaimana yang dinyatakan secara gamblang oleh Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum PPP, Suharso Monoarfa, penangkapan Romahurmuziy karena tersandung kasus jual beli jabatan membuat suara partai berlatar Islam yang lahir di era Orde Baru ini tergerus.

“Saya tidak bisa mengatakan hal tersebut tidak memengaruhi suara PPP. Pengaruhnya tentu ada,” ujar Suharso di depan awak media saat berkunjung ke Samarinda, Kamis (11/4/19).

Hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei di Pemilu 2019 memperlihatkan PPP berada di urutan terbawah dari seluruh parpol yang memenuhi ambang batas parlemen. Suara partai ini diperkirakan berada di angka lima persen.

Padahal di Pemilu 2014, PPP berhasil memperoleh 6,53 persen atau 8.157.488 suara. Dilansir Okezone.com, Suharso mengatakan, penyebab lain merosotnya suara PPP karena praktik politik uang atau money politic di Pemilu 2019.

Kata dia, ada serangan massif politik uang yang berupaya keras menggusur PPP. Sehingga lumbung suara partai tersebut tergerus. “Saya kira money politic itu luar biasa,” ujarnya.

Dengan tergesernya PPP, maka kursi DPR RI dari Dapil Kaltim mengalami perubahan. Pun demikian dengan parpol lain. Tak semua petahana kembali terpilih di Pemilu 2019. Berikut nama-namanya:

Partai20142019
NasDemAri YusnitaAwang Faroek Ishak
PKSAus Hidayat NurAus Hidayat Nur
PDIPZuhdi YahyaSafaruddin
Ismail Thomas
GolkarMahyudinRudy Mas’ud
Hetifah SjaifudianHetifah Sjaifudian
GerindraG. Budisatrio DjiwandonoG. Budisatrio Djiwandono
DemokratIhwan Datu AdamIrwan
PPPKasriyah

Alasan PDIP Berhasil “Menggusur” PPP

Para Bintang yang Lolos dan Gugur di Dapil Kaltim
Yunarto Wijaya (Istimewa)

PDIP menunjukkan kelasnya di Pemilu 2019. Di tingkat nasional, partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri itu menempati urutan teratas. Di Kaltim, partai yang berlatar “merah” ini berhasil mendapat dua kursi. Safaruddin dan Ismail Thomas pun melenggang ke Senayan.

Mengutip Beritasatu.com, Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya menyebut, ada tiga hal yang menyebabkan PDIP berhasil unggul di pemilu tahun ini. Antara lain ideologi atau nilai perjuangan, infrastruktur, dan ketokohan.

“Ketiga hal tersebut sebenarnya kekuatan partai untuk bisa bertahan di era modern dan PDIP mempunyai tiga kekuatan tersebut,” ujar Yunarto, Kamis (10/1/19).

Kata dia, PDIP kental dengan ideologi marhaenisme atau partai wong cilik. Garis ideologi itu sangat kuat di elite partai, pengurus, dan pendukung atau simpatisan. “Infrastruktur partai juga tidak diragukan. PDIP adalah partai yang mempunyai sejarah panjang dengan infrastruktur partai yang kuat dan matang. Jaringannya terus menguat,” ungkap dia.

Selain itu, faktor yang paling penting adalah ketokohan. Menurut dia, aspek ideologi dan infrastruktur belum cukup kuat menopang partai jika tidak didukung unsur ketokohan.

“Di tengah menguatnya politik kultus, faktor ketokohan sangat penting. PDIP memiliki itu dan mendapatkan angin segar. Selain ketokohan Megawati Soekarnoputri, juga dengan kehadiran Joko Widodo. Megawati membuat PDIP tetap solid secara internal dan Jokowi memberikan efek elektoral kepada PDIP,” terangnya. (*)

Penulis: Ufqil Mubin
Editor: Ufqil Mubin

5/5 (2 Reviews)
Tags

Artikel Terkait

1
Tinggalkan Komentar!

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
newest oldest most voted
trackback

[…] Para Bintang yang Lolos dan Gugur di Dapil Kaltim […]

Back to top button
Close
Close