Lifestyle

Pemasangan “Kontrasepsi” Dapat Mengurangi Risiko Kematian

Pemasangan “Kontrasepsi” Dapat Mengurangi Risiko Kematian
I Putu Satrya Wijaya. (Suci Surya Dewi/Akurasi.id)

Akurasi.id, Bontang – Pemasangan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) atau intra uterine device (IUD) pada ibu pasca bersalin bisa menurunkan angka kematian. Sebab kehamilan di tahun pertama pasca persalinan memiliki risiko tinggi keguguran (abortus) dan anak lahir dalam keadaan prematur.

Selain itu, risiko seperti berat badan lahir rendah (BBLR), pendarahan hemorrhagic postpartum (HPP), kematian bayi, dan kematian ibu hamil (maternal) pun acap mengintai perempuan yang baru melahirkan anak.

Hal ini dijelaskan Spesialis Obstetri & Ginekologi Rumah Sakit (RS) Pupuk Kaltim Bontang, dr I Putu Satrya Wijaya, dalam Seminar Efektifitas IUD Pasca Salin dan Insersinya serta Coaching dalam Layanan KB, di Ruang Auditorium RS PKT, Selasa (23/7/19).

Dia menjelaskan, pemasangan IUD terbagi menjadi  dua: postpartum segera dan postpartum lanjut. Postpartum segera terbagi lagi menjadi AKDR pasca plasenta pemasangan IUD 10 menit setelah plasenta lahir, AKDR postpartum dini yang dilakukan lebih dari 10 menit hingga 28 jam setelah plasenta lahir, serta pemasangan IUD intra caesarea (operasi sesar) dan pasca keguguran.

Sedangkan postpartum lanjut merupakan AKDR yang dipasang 40 hari setelah ibu melahirkan anak. Satrya menyebut, jenis pemasangan IUD ini memiliki perbedaan.

IUD lebih mudah dipasang setelah melahirkan karena ukuran rahim lebih besar dari ukuran normalnya. “Sehingga saat pemasangan bisa meminimalisir rasa nyeri,” jelasnya.

Setelah 40 hari ibu melahirkan anak, banyak orang yang ingin memasang alat kontrasepsi IUD. Namun tertunda karena berbagai alasan seperti sibuk mengurus bayi dan tidak ada yang mengantarnya ke rumah sakit atau klinik.

Karenanya, Satrya berharap para ibu yang bersalin pulang dalam keadaan memakai kontrasepsi jangka panjang. “IUD memiliki kelebihan dipakai dalam jangka panjang lima hingga 10 tahun. Jadi ibu enggak perlu bolak-balik ke RS untuk suntik atau minum pil yang berisiko lupa minum,” ungkapnya.

Namun IUD juga memiliki kekurangan. Di awal-awal, sebagian ibu tidak cocok dengan IUD. Penyebabnya, ibu merasa nyeri setelah IUD dipasang. Sebelum ibu memasang IUD, biasanya dokter akan memberi evaluasi. Evaluasi pertama dilakukan dengan mengecek rahim ibu saat pemeriksaan kandungan ketika hamil.

“Evaluasi kedua ketika IUD akan dipasang setelah melahirkan,” kata dokter kelahiran 1982 ini.

Setelah pemasangan IUD, perempuan tidak perlu takut melakukan hubungan badan dengan suami. Jika IUD dipasang setelah melahirkan anak, maka perlu dievaluasi setelah 40 hari untuk mengetahui kesiapan ibu. Apabila IUD dipasang setelah 40 hari, ibu bisa berhubungan sesuai kesiapan fisiknya.

“Saat ibu sudah merasa nyaman, itu tanda sudah siap. Jika ibu merasa nyeri, tandanya belum siap dan perlu dievaluasi lagi,” terangnya.

Disinggung mitos kanker akibat penggunaan IUD, Satrya menampiknya. Setiap orang memiliki mekanisme pertahanan tubuh yang diperoleh dari luar dan di dalam tubuh. IUD bisa menciptakan radang lokal dalam rahim sehingga mekanisme pertahanan tubuh lebih meningkat.

“Dengan meningkatnya pertahanan tubuh tersebut, bisa mencegah masuknya virus HPV yang menyebabkan kanker seperti kanker serviks,” bebernya. (*)

Penulis: Suci Surya Dewi
Editor: Ufqil Mubin

Tags

Leave a Reply

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close