Catatan

Pembunuhan Tragis dan Duka Kita

Perang, Hoaks, dan Kepentingan Ekonomi di Suriah
Ufqil Mubin (dok pribadi)

Ditulis Oleh: Ufqil Mubin

16 Maret 2019

Penembakan warga Muslim yang dilakukan Brenton Tarrant di masjid Al Noor dan masjid Linwood Avenue, Christchurch, Selandia Baru, menewaskan 49 orang dan melukai puluhan orang. Pembunuhan tersebut dilatari kebencian terhadap penduduk beragama Islam di negara persemakmuran itu.

Pelaku pembunuhan melangsungkan aksi biadabnya setelah menulis manifesto setebal 74 halaman. Lewat catatan tersebut, kita menemukan alasan Brenton yang ingin membersihkan imigran Muslim di New Zealand. Dalihnya, agar masa depan warga kulit putih tidak dirampas para pendatang. Artinya, peristiwa ini berlangsung terencana melalui persiapan yang sangat apik.

Tak ada yang membenarkan aksi biadab yang dimotori pria 28 tahun kelahiran Australia itu. Pembunuhan massal ini adalah duka kita. Saya mengapreasiasi sikap para pemimpin dunia yang telah mengutuk peristiwa tragis tersebut. Jacinda Ardern, Perdana Menteri Selandia Baru, menyebut kasus ini sebagai serangan teroris. Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, juga ikut mengutuk aksi Brenton.

Di Indonesia, baik Presiden Joko Widodo maupun Prabowo Subianto, sependapat, bahwa aksi brutal itu harus dikecam. Namun patut kita tekankan, aksi terorisme ini tidak boleh berhenti pada kutukan, kecaman, dan desakan rekonsiliasi.

Setiap pemimpin negara di dunia harus memberikan rasa aman pada seluruh rakyatnya. Karena itu, aksi radikal itu harus dijadikan pelajaran nasional sebagai antisipasi bahwa semua negara menyimpan potensi kejadian serupa.

Saya perhatikan di media sosial, masyarakat Indonesia ikut berduka terhadap pembantaian di New Zealand itu. Sebagian orang mengaitkannya dengan kebrutalan terhadap warga Muslim. Kelompok ini bersimpati sambil menyebarkan kebencian kepada para penganut agama dan ras tertentu.

Di sisi lain, tak sedikit pula yang menganggap pembuhan itu sebagai peristiwa kemanusiaan paling tragis di pertengahan Maret 2019 ini. Kelompok terakhir, memilih tidak mengaitkannya dengan konflik keagamaan. Ini murni pembunuhan keji yang tidak dibenarkan agama apapun.

Dilihat dari latar belakang Brenton, kasus ini membuktikan dua hal. Pertama, suku dan etnis tertentu tidak identik dengan aksi terorisme. Kerap kita temukan luapan kebencian dari masyarakat Barat terhadap etnis dan suku tertentu karena terorisme yang sering terjadi di Timur Tengah. Kenyataannya, terorisme juga bermunculan di Barat.

Kedua, terorisme tidak identik dengan agama tertentu. Kemunculan islamophobia di Barat disebabkan kebencian terhadap umat Islam yang acap melakukan aksi pemboman di berbagai tempat. Kematian-kematian tragis ribuan orang lantaran bom bunuh diri dan perang saudara, dinilai sebagian masyarakat Barat karena doktrin dan ajaran Islam yang salah.

Realitasnya, kelompok-kelompok sayap kanan yang terafiliasi dengan Brenton juga dilatari “semangat” yang sama. Titik tekannya sama. Jargon agama dan rasial yang digunakan untuk membenarkan kebencian, kekerasan, dan pembunuhan.

Doktrin dan aksi-aksi terorisme dapat menjangkiti semua suku, etnis, kelompok, penganut agama, dan seluruh paham di dunia. Warna kulit bukan tolak ukurnya. Baik kulit putih maupun kulit hitam, semuanya sama. Tak ada satu pun kelompok yang terbebas dari ganasnya doktrin kebencian.

Sudah terlalu banyak darah yang memenuhi bumi karena kebencian. Dunia sudah sesak karena dikotori luapan kebencian. Jargon-jargon keagamaan, paham, dan apa saja yang membawa narasi permusuhan, sudah memenuhi dunia ini.

Kita sebagai bagian dari masyarakat yang terikat dalam kemanusiaan, dibebani tugas agar terus-menerus mencerahkan diri dan memberikan pencerahan kepada orang-orang di sekitar kita, bahwa dunia harus diisi dengan cinta dan kasih. Atas nama apapun, tugas kita sama, menghentikan kebencian dan permusuhan. (*)

Editor: Ufqil Mubin

5/5 (5 Reviews)
Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar!

avatar
Back to top button
Close
Close