CorakHeadline

Penderita Tumor Usus yang Ditolak Operasi

Penderita Tumor Usus yang Ditolak Operasi
Tubuh Sayyid semakin kurus karena didera tumor. (Suci Surya Dewi/Akurasi.id)

Ditulis Oleh: Suci Surya Dewi

7 Agustus 2019

Sayyid Ahmad Diana Al Habsih memandang sendu gambar diri dan keluarga tercintanya yang terpajang di dinding triplek kamarnya. Foto yang dicetak dengan kain spanduk itu menjadi saksi kebahagiaannya pada 2014 silam.

Masa-masa indah di hari ulang tahun putri bungsunya, Syarifah Siti Rogayyah (7), terekam jelas dalam ingatannya. Pria yang karib disapa Sayyid ini mengenang memori itu. Kenangan saat tubuh tambunnya masih bugar dengan senyum khasnya.

Ingin rasanya Sayyid menangis. Namun kering sudah air matanya sebab terlalu sering meratapi nasibnya. Sang istri, Siti Mahmudah (39), terus memotivasinya. Perempuan ini setia merawat suaminya.

Tubuhnya kini hanya terbalut kulit. Ringkih. Tulang belulangnya jelas terlihat. Entah ke mana perginya lemak dan daging yang membalut tubuh gagahnya dulu. Berat badannya menyusut sangat cepat. Dia teringat pada 2018, berat badannya lebih dari 80 kilogram. Kini tersisa 50 kilogram.

Tangan Sayyid tak pernah lepas menggenggam tasbih. Mulutnya pun tak henti berbisik mengucap istigfar. Memohon ampun pada sang pemilik alam. Tidurnya gelisah sepanjang waktu. Kasur empuk bak terasa duri menusuk sekujur tubuhnya. Dua benjolan besar di sisi kanan dan kiri perutnya terus memproduksi rasa nyeri.

Saat rasa sakit mendera, pria yang tinggal di Jalan Batu Sahasa 4, RT 20, Kelurahan Bontang Utara ini, hanya mampu menahannya dengan memejamkan mata dan mengeluh kesakitan di sekujur perutnya. Kala cuaca dingin, Sayyid merasa kepanasan.

Dia hanya mengandalkan bantuan istrinya saat buang air dan membersihkan tubuh. Saban tubuh, ia dibasuh dengan lap basah agar tubuhnya tetap segar. Siti telaten menyuapkan air dan bubur kala suaminya lapar dan dahaga. Dengan sabar dia membersihkan sisa kotorannya. Meski Sayyid terus memuntahkan isi perutnya.

Hilir Mudik ke Rumah Sakit

Penderita Tumor Usus yang Ditolak Operasi
Sayyid (kiri) saat masih bugar berfoto bersama keluarganya pada tahun 2018. (Suci Surya Dewi/Akurasi.id)

Sungguh Sayyid kalut. Dia bingung dengan jenis penyakit yang dideritanya. Sejak April lalu, dia berkali-kali berobat ke RSUD Bontang dan RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda. Dia didiagnosa beragam penyakit.

Kakak kandung Sayyid, Sarifah Aisyah menyimpan kebingunan serupa. Selama ini, dia selalu menemani adiknya berobat dari Bontang ke Samarinda.

Sarifah menjelaskan, dua tahun lalu Sayyid memang memiliki penyakit hepatitis B lantaran sering nyeri di bagian lambungnya. Selama setahun, pria ini rutin berobat. Kesibukannya bekerja mengakibatkannya berhenti berobat. Alasannya, dia merasa sehat.

Tak disangka, April lalu kondisi Sayyid mulai lemah. Ia sering mengeluh nyeri di bagian perut kirinya. Setelah diperiksa, ternyata ada benjolan kecil di perutnya. Lalu Sarifah menemaninya berobat ke RSUD Bontang. Setelah diperiksa, dokter mendiagnosa penyakit batu empedu di ususnya sehingga perlu dirawat inap. Setelah sepekan, Sayyid diperbolehkan pulang karena dianggap sudah sehat.

“Sehari setelah pulang dari RSUD, besoknya drop lagi. Jadi adik saya ini dirawat lagi ke RSUD dua minggu,” kata Sarifah kepada Akurasi.id, Selasa (6/8/19).

Sayyid mendapat rujukan berobat ke RSUD AWS Samarinda untuk mengoperasi batu empedunya. Selama dua pekan di rumah sakit tersebut, dokter tak kunjung mengoperasinya. Informasi yang diterima Sarifah, dokter masih mengevaluasi penyakit Sayyid dengan terapi obat-obatan.

“Katanya dicoba terapi obat dulu. Siapa tau bisa sembuh tanpa operasi,” bebernya.

Kemudian Sayyid diperbolehkan pulang dengan rawat jalan melalui obat-obatan. Namun selama bulan Mei 2019, ia masih mengeluh nyeri. Setelah lebaran Idulfitri, dia kembali dirawat selama sembilan hari di RSUD Bontang.

Berikutnya dia dirujuk di poli penyakit dalam bagian liver di RSUD AWS. Tak cukup sampai di situ. Sayyid dirujuk lagi ke poli bedah untuk membedah ususnya. Langkah ini batal ditempuh. Dokter tidak tahu bagian tubuhnya yang harus dibedah.

Dokter Tak Mengoperasinya

Keluarganya tak patah semangat. Sayyid kembali dirujuk di poli paru dan poli jantung. Akhirnya dokter menyimpulkan bahwa Sayyid didiagnosa mengidap tumor di bagian ususnya. Rencananya, dia akan dioperasi untuk mengangkat tumornya.

Masalah tak kunjung hilang. Kondisi usus Sayyid tak stabil. Dokter menyarankannya tak dioperasi. Kata dokter, tingkat keberhasilan operasi terhadap Sayyid hanya 40 persen.

“Sayyid tidak mau operasi karena tidak ada kejelasan. Apalagi dokter bilang setelah operasi belum tentu sembuh,” ucap Sarifah.

Alternatif lain disarankan dokter untuk mengecilkan benjolan tumornya. Tubuhnya dilaser. Kata Sarifah, efek sampingnya sama seperti kemoterapi. Nafsu makan pasien akan berkurang, bibir kering, rambut rontok, dan badan kurus kering.

“Sayyid akhirnya tidak mau berobat lagi. Dia lebih pilih untuk minum obat di rumah saja,” tutur perempuan berjilbab ini.

Sarifah mengaku, selama ini pengobatan Sayyid ditanggung BPJS Kesehatan. Proses administrasi untuk berobat menggunakan jaminan kesehatan tersebut dianggap ribet. Ditambah, tiga jenis obat paracetamol, antibiotik, dan pereda nyeri yang ditanggung BPJS dianggap tak berefek untuk kesembuhannya.

“Saya antri [di RSUD untuk] ambil obat dari jam 2 sampai jam 5. Jadi sekarang beli obat sendiri di luar. Seminggu habis Rp 500 ribu,” akunya.

Anak Sayyid Putus Sekolah

Sudah setahun Sayyid tak melaut lagi. Laut menjadi tumpuannya mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Sebagai nelayan, dia kerap mengantongi Rp 2 juta per bulan.

Putra keduanya, Sayyibul Ghari (16), terpaksa putus sekolah. Tak melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. Dia menggantikan ayahnya mencari ikan.

“Kalau ayah sudah sembuh, baru saya sekolah lagi,” katanya.

Sedangkan anak pertamanya, Sayyid Andrean (20), terus berusaha mencari pekerjaan demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Dia banyak berkorban untuk sanak familinya. Ia rela menguras tabungannya demi si bungsu yang baru naik kelas 2 SD. Adiknya membutuhkan perlengkapan sekolah di tahun ajaran baru ini.

Sarifah mengaku sedih melihat keadaan adiknya. Menurut dia, Sayyid adalah sosok yang ramah dan suka menolong orang lain. Sejak adiknya sakit, dia sibuk mengurus segala keperluannya. Tak hanya menemaninya berobat, ia juga berusaha mengabulkan semua permintaan adiknya.

“Tanggal 5 Agustus kemarin dia baru ulang tahun. Dia minta untuk bagi-bagi makanan ke panti dan orang di rumah sakit. Dia cuma minta didoakan supaya cepat sembuh,” ratapnya.

Sarifah mengaku tak menghadapi kendala finansial untuk mengobati Sayyid. Sebab dia mendapat bantuan dari saudara dan kerabatnya. Ada pula beberapa orang yang datang memberinya bantuan.

“Kami menerima jika ada yang datang membantu. Bantuan itu akan kami gunakan sebaik-baiknya untuk pengobatan adik saya dan keponakan saya agar lanjut sekolah lagi,” pungkasnya. (*)

Editor: Ufqil Mubin

5/5 (5 Reviews)

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar!

avatar
Back to top button
Close
Close