HeadlineIndepth

Penuhi Pendidikan di Pelosok Desa, Pemdes dan Agusriansyah Getol Perjuangkan Pembangunan SMA di Pedalaman Karangan

Penuhi Pendidikan di Pelosok Desa, Pemdes dan Agusriansyah Getol Perjuangkan Pembangunan SMA di Pedalaman Karangan(Istimewa)

Akurasi.id, Sangatta – Pemenuhan pendidikan bagi anak di daerah pelosok menjadi konsentrasi anggota DPRD Kutim Agusriansyah Ridwan. Sebagai orang yang lama bergelut jadi tenaga pendidik, Agus –sapaan karibnya- sadar betul betapa sulitnya mendapatkan pendidikan yang baik dan berkualitas di daerah pedalaman.

Baru-baru ini, politikus Partai PKS itu sukses mendapatkan nota persetujuan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim untuk pembangunan sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kecamatan Karangan, Kutai Timur (Kutim).

Dalam surat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim yang diperoleh media ini, persetujuan pembangunan itu telah tertuang dalam surat nomor 421.4/604/Disdikbud.III/2019 tentang Penetapan Operasional Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Karangan.

Kepada Akurasi.id, Agus bercerita, ada sejumlah alasan mengapa dirinya dan pemerintah desa (pemdes) begitu getol memperjuangkan adanya pembangunan SMA di Karangan. Antara lain, secara konstitusional, pendidikan merupakan hak dari setiap masyarakat Indonesia.

Salah satu alasan di balik berdirinya Indonesia, yakni dalam rangka mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara. Di sisi lain, Undang-Undang (UU) nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) menyebutkan, setiap warga yang sudah berusia anak, berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran yang layak.

Selain itu, baik eksekutif dan legislatif berkewajiban memastikan ketersediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Menyiapkan sekolah yang layak, berkualitas, dan mudah dijangkau adalah di antaranya. Begitu juga dengan anak-anak yang ada di pelosok Kutim.

“Berangkat dari pengalaman penerimaan siswa pada 2018, ada banyak sekali alumni SMP Karangan yang tidak tertampung di SMA yang ada di kecamatan lain. Itu dikarenakan di Karangan belum memiliki SMA,” kata dia, Rabu (2/10/19).

Dia menyebutkan, penerapan sistem zonasi turut menghambat sejumlah alumni SMP Karangan untuk melanjutkan pendidikan di SMA yang berada di luar Kecamatan Karangan. Akibatnya, banyak dari para pelajar tersebut yang terbengkalai.

Atas pertimbangan itu, Agus bersama kepala desa dan tokoh masyarakat setempat sepakat untuk mengusulkan adanya pembangunan SMA di Karangan. Dengan harapan, bisa mengakomodir pelajar SMP yang ada di daerah itu.

“Masyarakat menyampaikan keluhannya kepada saya sebagai wakil rakyat di Kutim. Walau mereka tahu persis kalau kewenangan SMA itu ada di Pemerintah Kaltim,” ujarnya.

Tanpa berpikir panjang, Agus mengamini keinginan masyarakat Karangan. Pria kelahiran Sangkulirang itu, kemudian menyusun secara bersama-sama dasar kajian dan proposal pengusulan pembangunan SMA ke Disdikbud Kaltim.

“Usulan itu kami diskusikan dengan semua stakeholder di Karangan. Beberapa bulan setelah kami usulkan ke provinsi, alhamdulillah, tim dari Disdikbud Kaltim turun mengecek lokasinya,” ungkap dia.

Mulai Buka Penerimaan Siswa Baru

Untuk menyongsong rencana pembangunan SMA 1 Karangan oleh Pemprov Kaltim, Agus dan stakeholder terkait di Karangan langsung bergerak cepat dengan membuka penerimaan siswa masa ajaran 2019-2020. Kegiatan belajar mengajar itu saat ini difokuskan sementara di SMP 3 Karangan.

“Sementara ini, kegiatan belajar mengajar dilakukan di SMP 3 Karangan. Di situ masih ada ruangan yang bisa dimanfaatkan. Sekarang kami sedang mendorong agar SMA segera dibangun tahun depan,” tutur Agus.

Ada sejumlah sarana dan prasarana yang diharapkan bisa dibangun pada 2020. Antara lain, ruang kelas baru (RKB), toilet, lapangan upacara, musalah, dan perpustakaan sekolah. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran secara maksimal.

“Rencananya, SMA ini akan dibangun di Desa Pengadan. Dari pemerintah desa dan masyarakat setempat sudah ada menyiapkan lahan sekitar 4 hektare. Yang sudah bisa langsung dipakai ada 2 hektare dan itu lahan yang dihibahkan,” jelasnya.

Rencana pendirian SMA di Karangan telah dikomunikasikan Agus kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim Isran Noor-Hadi Mulyadi. Kedua pimpinan di Benua Etam –sebutan Kaltim- itu disebut-sebut telah merestui usulan proyek pendidikan tersebut.

“Kami semua berharap tahun depan sudah ada pembangunan fisik yang dilakukan,” harapnya.

Rencananya, pembangunan SMA Karangan bakal membutuhkan anggaran sekitar Rp 5-10 miliar. Nantinya, pembangunan SMA itu tidak hanya bersumber dari APBD Kaltim, tetapi juga diharapkan dari dukungan perusahaan yang beroperasi di daerah setempat.

“Saya akan mencoba mendorong partisipasi perusahaan melalui dana CSR (corporate social responsibility). Dari pemerintah kabupaten juga tentu sangat kita harapkan, walau memang kewenangan SMA ini ada di provinsi,” tandasnya.

Didukung Masyarakat, Diharapkan Segera Direalisasikan

Mimpi masyarakat Karangan memiliki SMA di daerah itu kini tinggal menghitung hari saja. Setelah perjuangan panjang selama beberapa tahun terakhir, usulan pembangunan SMA di Karangan telah diaminkan Disdikbud Kaltim.

Kepala Desa (Kades) Pengadan Syafruddin Jabir cukup bersyukur dengan telah disetujuinya pembangunan SMA itu. Sebab menurut dia, keberadaan SMA di Karangan sangat diharapkan para orang tua dan pelajar.

“Di Karangan ada 3 SMP. Tetapi belum ada SMA-nya. Mereka yang lulusan SMP, kalau mau melanjutkan sekolah, ya harus ke kecamatan lain, misalnya ke Kaubun, Sangkulirang, atau Kaliurang,” tuturnya.

Kata dia, ketika misalnya para orang tua memaksa anak mereka melanjutkan sekolah di luar kecamatan, maka sudah dapat dipastikan mereka harus mengeluarkan biaya lebih. Sementara ekonomi masyarakat di Karangan masih bisa dibilang cukup pas-pasan.

“Kami puunya SMAP, sayang kalau enggak ada SMA-nya. Bagi kami, SMA ini sangat penting. Apalagi dengan sistem penerimaan siswa yang sudah menggunakan zonasi, akan sangat membantu warga,” katanya.

Pada penerimaan siswa baru tahun lalu, tidak sedikit pelajar di Karangan yang nyaris putus sekolah karena tidak diterima di sejumlah sekolah. Beberapa di antara pelajar itu bahkan ada yang sampai merasa frustasi karena gagal masuk SMA.

“Alhamdulillah, tahun ini, usulan sekolah sudah disetujui, anggaran pembangunannya sudah disetujui juga untuk 2020 sekitar Rp 2 miliar dari provinsi,” ungkapnya.

Besarnya euforia pelajar melanjutkan pendidikan di jenjang SMA dapat dilihat dari antusias mereka yang begitu tinggi. Terbukti, pada pembukaan proses penerimaan siswa 2019-2020, sudah ada 42 pelajar mendaftar. Mereka terbagi ke dalam dua jurusan, IPA dan IPS.

“Kami cukup bersyukur karena ada Pak Agusriansyah. Beliau adalah teman dan sahabat saya yang cukup membantu kami mengurus dokumen usulan pembangunan sekolah ini. Alhamdulillah, semua usaha kami membuahkan hasil,” tandasnya. (*)

Penulis: Muhammad Aris
Editor: Yusuf Arafah

5/5 (1 Review)

Tags

Tinggalkan Komentar!

avatar

Artikel Terkait

Lihat Juga

Close
Back to top button
Close
Close