Hukum

Perempuan di Kutim Menganiaya Anak Angkatnya hingga Sekujur Tubuhnya Dipenuhi Luka

Anggota komunitas TPPO Kutim memperlihatkan berkas perkara korban penganiayaan. (Istimewa)

Akurasi.id, Sangatta – Bocah di bawah umur di Kecamatan Kongbeng diduga jadi korban kekerasan oleh ibu angkatnya. Kasus kekerasan ini pun mencuat lantaran Polsek Kongbeng menerima aduan masyarakat terhadap dugaan kasus penganiayaan anak di bawah umur itu.

Warga di sekitar rumah pelaku kekerasan berinisial BS itu sering menemukan luka lebam hingga bekas luka bakar yang berbekas di tubuh korban.

Mendengar ada kabar kekerasan terhadap anak itu, komunitas Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) serta Naluri Perempuan Setara (NAPAS) Kutim mengamankan korban dan mendampinginya untuk melaporkan sang ibu angkat ke Polsek Kongbeng.

Indrawan, anggota TPPO, mengaku lega karena telah menyelamatkan nyawa anak tersebut.

Berdasarkan pengakuan korban, di tahun 2017 ia diajak oleh keluarga pelaku untuk bermukim dengannya di salah satu kota di Lampung. Namun korban justru dibawa ke Kalimantan. BS menjanjikan sejumlah uang setiap bulan kepada korban. Uang itu akan dikirim scara berkala ke orang tua korban. “[Tetapi dia] diperlakukan layaknya pembantu,” kata Indrawan, Selasa (3/9/19).

Dia menegaskan, pihaknya hanya memberikan pendampingan. Korban akan diberikan keleluasaan untuk menyampaikan keterangan di kepolisian. “[Khususnya] tentang kronologi kejadian penganiayaan itu,” ujarnya.

Korban Mengalami Trauma

Korban telah dilindungi Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) melalui Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Anak (P2TPA). Sebelumny korban telah diamankan di rumah warga setelah sekujur tubuhnya dipenuhi luka lebam.

Kepala Seksi Perlindungan Khusus Anak DP3A Kutim Yurlena mengatakan, timnya sudah menyembuhkan fisik dan psikis anak berjenis kelamin perempuan itu. Korban mengalami trauma karena penganiayaan tersebut.

“Kami sudah tangani dan saat ini korban berada di rumah aman. Tadi sudah kami bawa ke rumah sakit untuk diperiksa dan mendapatkan perawatan. Kami telah menyiapkan tenaga konselor untuk meredakan trauma yang didapatkan oleh korban,” ujar Yurlena kepada Akurasi.id.

Wanita berkacamata ini menyampaikan, pihaknya menyerahkan kasus ini kepada aparat kepolisian untuk diselesaikan sesuai hukum yang berlaku. Dia ingin semua pihak menghormati kewenangan aparat. “[Sementara] untuk penanganan korban serta melindungi korban, kami lakukan sesuai dengan tupoksi dan SOP yang berlaku,” jelasnya.

Menurut Yurlena, luka akibat cubitan yang dilakukan satu sampai dua kali mungkin saja dapat dimaklumi. Namun perlakuan terhadap korban telah melebihi batas toleransi.

Diselidiki Polisi

Kepala Kepolisian Sektor Kombeng Ipda Hari Supranoto menuturkan, kasus tersebut sedang diselidiki penyidik. “Saat ini dalam tahap penyelidikan. Kami sudah panggil dan mintai keterangan beberapa saksi,” jelas Hari.

Dia mengatakan, apabila terbukti bersalah, maka pelaku akan dijerat dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pelaku terancam hukuman tiga sampai lima tahun penjara dengan denda maksimal Rp 100 juta.

“Mengacu pada Undang-Undang Perlindungan Anak, pelaku dapat dikenai sanksi penganiayaan anak di bawah umur,” tandasnya. (*)

Penulis: Ella Ramlah
Editor: Ufqil Mubin

Tags
Show More

Tinggalkan Komentar!

avatar

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close