HeadlineRiwayat

Rangkul Siswa Pecandu Narkoba, Abdul Haris Ingin Majukan Pendidikan Lewat Legislatif

Abdul Haris. (Suci Surya Dewi/Akurasi.id)

Akurasi.id, Bontang – Dua puluh dua tahun bukan waktu singkat bagi Abdul Haris mengabdikan diri di dunia pendidikan. Dia terpaksa memutuskan mundur dari jabatannya sebagai kepala sekolah SMK Yayasan Karya Pembangunan Pendidikan (YKPP) Bontang. Hal itu dia lakukan sejak dilantik sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bontang periode 2019 – 2024.

Haris, sapaannya, tak bisa melepas memori kala menjabat sebagai kepala sekolah. Segala macam persoalan maktab menjadi tanggung jawabnya. Salah satunya mengatasi para siswa yang kerap menguji kesabarannya. Baginya, turun tangan ketika siswanya berkelahi sudah menjadi hal biasa. Namun, ada pengalaman berharga yang sulit dia lupakan hingga saat ini. Yakni menangani siswa secara khusus karena kasus narkoba.

Desas-desus anak didiknya mengonsumsi obat haram sudah menjadi rahasia umum di sekolah. Namun Haris memilih untuk mengatasinya sendiri tanpa menggunakan jalur hukum. Dia mengungkapkan, Joko –bukan nama sebenarnya—hampir setiap pagi masuk ke ruang kepsek tanpa sepengetahuan guru dan siswa lain. Sebab dia wajib menjaga privasi muridnya meski semua tahu Joko tersandung masalah serius.

Setiap pagi, Joko tidak pernah absen bertatap muka langsung dengan Haris. Saat masuk ke dalam ruangan, Haris menjamu siswanya itu dengan air minum yang telah disediakan sebelumnya. Pendekatan melalui hati ke hati terus dia lakukan sehingga Joko lebih terbuka terhadapnya. Rupanya, sang pelajar ini sudah menggunakan narkoba sebelum masuk di SMK YKPP.

“Jadi penanganannya saya kasih minum. Kemudian beri penjelasan akibat dari kecanduan merusak saraf motorik dan sensorik,” bebernya.

Tak hanya itu, bahkan Haris juga menuntun Joko untuk membaca Alquran dan menghapalkannya. Tujuannya, agar siswa tersebut tak lagi kembali ke jalan yang salah. Menurut Haris, menangani Joko harus dengan cara memanusiakan siswa ketimbang dengan cara keras. Dia mengaku cara penanganan siswa tergantung dari kasusnya. Jika kenakalan siswa seperti perkelahian, hukuman yang diberikan berupa fisik. Misalnya push up, lari, dan sebagainya. Sedangkan pecandu narkoba harus dengan metode pendekatan.

“Beda penanganannya dengan anak yang berkelahi, angkat kuping, angkat perut. Jika pemakai narkoba semakin keras ditangani maka semakin jadi nanti,” ungkapnya.

Dalam kurun waktu 2 bulan saja, Joko akhirnya mulai sembuh dari ketergantungan obat-obatan terlarang. Penanganan tersebut berjalan lancar sebab orang tua Joko turut mendukung Haris untuk mengubah anaknya menjadi lebih baik. Bahkan Haris rela merogoh kantong demi tes urin ke rumah sakit untuk melihat hasil perkembangan Joko selama tobat memakai narkoba.

“Bagi saya itu pengalaman berkesan mengatasi pengguna narkoba. Sekarang anak tersebut sudah bekerja dan sukses,” kata Haris.

Mengubah Citra Buruk Sekolah dengan Prestasi

Sebelum menjadi kepala sekolah, lulusan S1 Jurusan Kurikulum Teknologi Pendidikan di Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Ujung Pandang ini mengawali karirnya sebagai guru. Dia mengajar Bahasa Indonesia di SMEA Pepabri mulai dari 1990 hingga 1992. Namun Haris memilih mengakhiri pekerjaannya untuk merantau ke Bontang, Kaltim. Pria kelahiran Pare-pare, 6 April 1964 silam ini mengikuti ajakan saudara untuk mengubah nasib di Kota Taman.

“Setelah saya merantau, Sempat nganggur. Niat jadi guru lagi sempat enggak ada,” akunya.

Bosan menganggur, Haris mencari pekerjaan dan diterima sebagai karyawan di CV Dahlia Sangatta. Belum genap setahun bekerja, Haris kembali lagi ke Bontang karena mendapat panggilan kerja di Sekolah YKPP. Pada 1993, Haris dipercayakan dengan jabatan wakil kepala sekolah.

Dan setahun berikutnya, dia juga merangkap sebagai guru Bahasa Indonesia dan bagian kurikulum. Hingga pada 1997 Haris mengemban amanah menjadi kepala SMK YKPP. Dia pun mempunyai PR untuk mengubah citra sekolah yang sempat memburuk. Kata Haris, upaya yang dilakukan yakni berdoa, kedua memotivasi guru supaya citra buruk sekolah dikikis sedikit demi sedikit. Ketiga, pendekatan ke seluruh siswa dan terakhir menjalin silaturahim dengan masyarakat lingkungan sekitar. Hasilnya, YKPP menjadi sekolah yang maju dan banyak memiliki prestasi.

“Bisa berinteraksi, mengantar siswa lulus, dan berhasil, itu pengalaman berharga selama 20 tahun lebih menjadi kepsek,” paparnya.

Ingin Memajukan Pendidikan Melalui Politik

Tak pernah terpikirkan dibenak seorang Abdul Haris untuk berkecimpung di dunia politik. Agustus 2018 dia nekat terjun menjadi politisi melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Mulanya, dia sering diajak oleh Basri Rasse untuk membesarkan PKB. Saat itu dia tidak kunjung merespon lantaran berpikir berat meninggalkan profesi sebelumnya.

“Awalnya tidak ada niat, pertimbangannya setelah merenung akhirnya Bismillah, saya mencoba ikut memajukan pendidikan dengan jalur lain,” katanya.

Haris pun meminta dukungan dari istri, anak-anak, orang tua, keluarga besar, dan masyarakat sekitarnya. Dia juga didukung para guru dan siswanya. Bahkan para guru menjadi tim suksesnya saat pencalonan sebagai caleg DPRD. Upaya, doa, dan dukungan pun membuahkan hasil. Haris memperoleh 1.308 suara di dapil 1 atau Kecamatan Bontang Selatan.

“Saat dinyatakan terpilih, saya langsung mengundurkan diri dari sekolah. Mereka sempat tidak rela. Akhirnya saya diikutkan kepengurusan yayasan sebagai sekretaris,” terangnya.

Haris mengaku dia termotivasi duduk di DPRD ingin memajukan pendidikan di Bontang. Baginya pendidikan harus didukung dan berkualitas. Contohnya Balai Latihan Kerja (BLK) yang dianggap hanya sekadar melaksanakan pelatihan lalu setop setelah menerima sertifikat. Ketika dilihat skill atau kemampuannya ternyata belum bisa memenuhi standar industri.

“Impian saya mau mendorong BLK bersinergi dengan industri. Jangan hanya lulus saja ketika mendaftar ke industri ternyata tidak sesuai. Apa yang dikerjakan di industri benar-benar dilatihkan,” tegasnya.

Dalam pandangan Haris pendidikan di Bontang cukup baik dilihat dari prestasi yang dihasilkan dari berbagai sekolah tertentu di Kota Taman. Dia melihat prestasi tersebut tidak merata ke sekolah lainnya. Dia berharap setiap sekolah memiliki prestasi tersendiri di bidang akademik maupun non akademik.

“Untuk prestasi akademik ingin dorong di sekolah swasta yang masih rendah, Dinas Pendidikan diharapkan bisa fokus untuk itu,” imbuhnya.

Menjadi Ayah Sekaligus Sahabat

Di balik pembawaannya yang tenang, rupanya Haris merupakan sosok ayah yang paling dekat dengan kedua anaknya: Agusta Citra Kirana (21) dan Junika Khusnul Khotimah (19). Suami dari Sudarti ini mengaku kedua putrinya lebih terbuka saat mengobrol dengan ayahnya. Bagi Haris, anak-anaknya sudah seperti sahabatnya sendiri.

“Respon anak-anak pas saya jadi caleg, mereka malah setuju dan bahkan si bungsu ikut membantu. Saya sering sharing, akrab seperti sahabat bersama mereka,” ujarnya sambil tersenyum.

Saat ini, kedua putrinya tidak berada di Bontang lantaran harus bekerja dan kuliah. Putri sulungnya fokus menjadi pramugari Batik Air. Sehingga waktu bertemu dengan orang tuanya hanya setahun sekali ketika cuti. Haris mengungkapkan anak pertamanya itu tidak mau menjalani kuliah dan hanya ingin bekerja.

“Dia enggak mau kuliah. Jadi dia sempat ikut pendidikan di Yogyakarta selama 6 bulan, lalu melamar kerja sebagai pramugari di Batik Air. Alhamdulillah diterima,” tuturnya.

Sedangkan putri bungsunya, Junika, saat ini menjalani kuliah di Brawijaya Malang. Kata Haris, Junika paling aktif membantunya mengurus segala berkas keperluan untuk menjadi caleg DPRD. Sampai sebelum pelantikan menjadi anggota DPRD, Haris menyempatkan diri mengantar anak keduanya itu mencari indekos di Malang.

“Saya sering rindu sama anak-anak. Kalau sempat, saya pasti mengunjungi mereka,” pungkasnya. (*)

Penulis: Suci Surya Dewi
Editor: Yusuf Arafah

Tags

Leave a Reply

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close