CorakIsu Terkini

Ratusan Ayam Mati, Perternak Unggas di Kampung Jawa Merugi

Ratusan Ayam Mati, Perternak Unggas di Kampung Jawa Merugi
Ratusan ayam mati karena flu burung, Yadi menunjukkan ayamnya yang tersisa. (Muhammad Budi Kurniawan/Akurasi.id)

Ratusan ayam mati, peternak unggas di Kampung Jawa merugi. Sudah dua kali terkena flu burung, peternak ayam tersebut mengalami kerugian mencapai ratusan juta.

Akurasi.id, Bontang – Musmulyadi (67) yang telah berkecimpung di dunia peternakan ayam kampung harus pasrah melihat ratusan unggas kesayangannya mati. Penyebabnya virus flu burung yang menyerang peliharaannya pada Oktober lalu.

Baca juga: Diterpa Covid-19 dan Virus Flu Burung, Para Penjual Ayam di Bontang Terancam Gulung Tikar

Bukan kali ini saja ayam miliknya mati akibat keganasan flu burung. Medio 2004, hal serupa pun pernah menimpanya. Kala itu, sekira 200 ayam kampung miliknya mati akibat terinfeksi virus flu burung yang terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia pada waktu itu.

“Seingat saya, dua bulan sebelum tsunami Aceh, semua ayam saya mati diserang flu burung. Dan yang ini kali kedua,” ucap Musmulyadi saat ditemui di rumahnya, Jalan Gamelan RT 19 Nomor 7, Kampung Jawa, Kelurahan Bontang Baru, Kecamatan Bontang Utara, pada Rabu (18/11/2020).

Alhasil unggas peliharaan yang berjenis ayam Bangkok Vietnam itu seluruhnya mati tanpa tersisa satu pun hingga dirinya mengalami kerugian ratusan juta.

”Waktu itu saya sudah pasrah. Namun karena hobi saya dari dulu memelihara ayam, saya tidak kapok. Saya kembali memelihara ayam. Ternyata sekarang kena lagi 150 ekor ayam saya mati lagi,” ucapnya.

Pria yang kerap disapa Yadi Batako itu diketahui sudah berternak ayam pada tahun 1967 ketika masih tinggal di Kabupaten Blitar.

“Tahun 1967 saya sudah mulai hobi memelihara ayam, hingga merantau ke Bontang pada tahun 1980 hingga sekarang masih tetap berternak ayam,” ujarnya.

Selama ini ayam ternak milik Yadi biasa dijual dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Pembelinya pun kebanyakan dari luar kota. Seperti Samarinda, Balikpapan, Kutai Timur (Kutim), bahkan sampai luar pulau.

Baca Juga  Sempat Diproyeksi Hanya Rp9 Triliun, APBD Kaltim 2021 Diketok Diangka Rp11 Triliun

“Memelihara ayam ini, selain dijadikan hobi, saya jadikan bisnis juga, lantaran hasilnya cukup menjanjikan,” terangnya.

Yadi saat ini hanya berharap virus flu burung yang tengah menimpanya ini dapat segera berlalu, agar dirinya dapat berternak ayam kembali.

“Sekarang ayam saya tinggal 5 ekor, itu pun saat flu burung menyerang saya ungsikan ke tempat lain agar tak tertular. Sekarang saya cuma bisa pasrah, ya semoga saja flu burung ini usai,” pungkasnya. (*)

Penulis: Muhammad Budi Kurniawan
Editor: Suci Surya Dewi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terkait

Back to top button
Enable Notifications    OK No thanks