Dinas Perpustakaan dan Kearsipan

Mengenal Kepala DPK Bontang Retno Febriaryanti, Perempuan Pekerja Keras yang Kaya Pengalaman

Mengenal Kepala DPK Bontang Retno Febriaryanti, Perempuan Pekerja Keras yang Kaya Pengalaman
Mengenal Kepala DPK Bontang Retno Febriaryanti. (Dok Akurasi.id)

Mengenal Kepala DPK Bontang Retno Febriaryanti, perempuan pekerja keras yang kaya pengalaman. Menjabat sebagai sekretaris diberbagai OPD membuatnya mengalami banyak pengetahuan dan pengalaman berkesan. Saat diamanahi sebagai pemimpin, Retno pun memiliki banyak inovasi yang terealisasi.

Akurasi.id, Bontang – Sejak dilantik Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni pada 29 Juni 2020 lalu, Retno Febriaryanti resmi menjabat sebagai Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Bontang.

Baca juga: Tingkatkan Minat Menulis Anak, DPK Bontang Menyelenggarakan Webinar

Sebelumnya, perempuan berjilbab yang karib disapa Retno ini menjabat sebagai sekretaris DPK Bontang. Rupanya, segudang pengalaman sebagai sekretaris pernah ia rasakan.

Retno mengatakan medio 2000 hingga 2009 dirinya bekerja di Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (Disperindagkop) Bontang sebagai sekretaris. Pada 2015-2019, dia juga menjabat sebagai sekretaris di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bontang.

“Setelah itu, 2019 sampai Juni lalu menjadi sekretaris sekaligus Plt di DPK Bontang,” kata retno kepada Akurasi.id, belum lama ini.

Selama menjadi sekretaris di berbagai organisasi perangkat daerah (OPD), Retno mengaku setiap tempat memiliki tantangan dan keunikan tersendiri. Namun, baginya selama menjadi sekretaris DLH yang paling berkesan.

Perempuan kelahiran Wonogiri 1968 silam ini merasa terkesan saat menjadi pelaksana harian (Plh) menggantikan sementara posisi kepala dinas yang tengah ibadah haji selama 1 bulan. Saat itu, dirinya membantu dan menemani Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni menerima penghargaan Rekor Muri.

Kala itu, kata Retno, Pemkot Bontang bekerjasama dengan masyarakat menyelenggarakan kegiatan pemeliharaan tanaman di sepanjang Jalan Soekarno Hatta, Jalan Roem, Jalan Bessai Berinta, dan Jalan Taman Prestasi Kota Bontang pada 30 September 2016 lalu.

Rangkaian acara diawali dengan pemupukan tanaman secara simbolis oleh Walikota Bontang dan diikuti oleh masyarakat. Tak hanya memupuk tanaman, masyarakat juga membersihkan blok dari rumput dan ilalang.

Rekor Muri itu mencatat pemeliharaan tanaman sepanjang 17,83 kilometer, sebanyak 1.990 pohon dari 11 jenis tanaman dipupuk dan dipelihara oleh 1.158 peserta yang terdiri dari seluruh SKPD di lingkungan Pemerintah Kota Bontang.

“Saya merasa terkesan bisa ikut membantu wali kota menerima penghargaan Muri pemupukan tanaman terpanjang itu,” akunya.

Kini selama bekerja di DPK Bontang, perempuan yang mengawali karirnya sebagai CPNS Dinas Perindustrian di Semarang medio 1993-1994 ini merasakan berbagai suka cita. Memiliki hobi membaca buku, Retno mengaku senang dapat bekerja dan menjalani hobinya secara bersamaan. Dekat dengan buku, baginya sangat mudah membuka jendela dunia.

“Saya juga merasa senang jika ada pengunjung yang datang dan memberi survei puas. Jadi turut merasa bangga. Melalui indeks survei itu juga, ketika ada masukan kami follow up,” beber perempuan yang juga hobi olahraga bulu tangkis ini.

Punya Ragam Inovasi Demi Memuaskan Pemustaka DPK Bontang

Kunjungan murid TK sebelum pandemi. (Dok Akurasi.id)
Kunjungan murid TK sebelum pandemi. (Dok Akurasi.id)

Beragam inovasi yang dicetuskan Retno selama di DPK Bontang. Salah satunya menyulap ruang baca perpustakaan yang kaku menjadi tempat membaca yang nyaman.

Ruang baca di lantai dasar dilengkapi sofa empuk dan lantai beralaskan karpet. Beberapa ayunan juga diletakkan di sudut ruang. Suasana homey dibuat agar pengunjung perpustakaan betah.

“Membuat perpustakaan yang nyaman bagi keluarga. Sehingga jadi pusat rekreasi buat anak sekaligus mengenalkan buku sejak dini,” paparnya.

Meski sudah mengubah suasana perpustakaan, Retno merasa pengunjung masih kurang. Dirinya pun membuat inovasi lain. Kata dia, saat itu tercetus ide ketika melihat para siswa belajar kelompok di selasar perpustakaan. Sore itu perpustakaan sudah tutup.

Akhirnya muncullah inovasi untuk membuka layanan perpustakaan saat malam. Sebab, Retno menyadari aktivitas padat siswa mulai pagi hingga sore di sekolah, membuat mereka jarang memiliki waktu berkunjung ke perpustakaan.

“Kalau malam biasanya anak-anak sekolah belajar kelompok di luar. Dari sinilah perpustakaan malam kami coba wujudkan,” tuturnya.

Akhirnya, perpustakaan malam pun diresmikan. Pada 24 Oktober 2019 program Night Library diresmikan langsung oleh Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni sekaligus launching Milenial’s Let’s Go to Library dan pembukaan Bontang Millenial Act di Halaman Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bontang.

“Kami bersama Asosiasi Ketua OSIS se-Bontang juga mengadakan bazar malam. Kami juga pernah mengadakan gowes malam saat HUT. Alhamdulillah, sejak ada night library tingkat kunjungan naik 500 persen,” terangnya.

Akibat Pandemi Covid-19, DPK Bontang Aktif Gelar Webinar

Perpustakaan yang dahulu ramai dengan riuh kunjungan murid TK dan pemustaka dari berbagai kalangan, kini sepi. Pandemi Covid-19 penyebabnya.

Segala perencanaan kegiatan pun menjadi berantakan. Namun, Retno tak putus asa. DPK Bontang tetap bisa menggelar ragam program dan kegiatan meski pandemi masih menyelimuti Bontang. Melalui web seminar (webinar), kegiatan itu berjalan dengan lancar.

Pemustaka yang biasa berkunjung ke perpustakaan, kini lebih sering mengikuti Webinar. Retno mengungkapkan, pihaknya sempat merencanakan DPK Bontang menjadi pusat inklusi sosial dengan mengadakan beragam pelatihan. Antara lain untuk kaum ibu diberi pelatihan parenting, memasak, dan lainnya. Sedangkan untuk anak diberi pelatihan mendongeng, menulis, dan sebagainya.

“Karena pandemi akhirnya semua itu kami tetap laksanakan, namun melalui daring,” paparnya.

Meski hanya melaksanakan kegiatan secara daring, Retno menjelaskan hal itu dilakukan untuk mencegah penyebaran Covid-19 semakin meluas. Bahkan kunjungan di perpustakaan juga dibatasi. Kata dia, hanya pemilik kartu anggota perpustakaan saja yang boleh berkunjung dan membaca di ruang baca lantai 2. Namun masyarakat Bontang tetap bisa membaca melalui online pada aplikasi i-Bontang yang dapat diunduh melalui Google Play Store.

“Semoga pandemi ini segera berakhir. Sehingga pemustaka dapat berkunjung ke perpustakaan seperti sedia kala,” pungkasnya. (*)

Penulis/Editor: Suci Surya Dewi 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Artikel Terkait

Back to top button
Enable Notifications    OK No thanks