Lifestyle

Rindu Kuliner Makassar? Kafe Losari Sediakan Makanan Khas Tradisional Sulsel

kafe losari
Sop ubi dan kapurung menjadi menu favorit di Kafe Losari. (istimewa)

Akurasi.id, Bontang – Jika rindu dengan kuliner khas Sulawesi Selatan (Sulsel), warga Bontang dan sekitarnya tak perlu jauh-jauh pergi ke sana. Di Kota Taman –sebutan Bontang- telah hadir sebuah kafe yang menyajikan makanan tradisional khas Makassar, yakni Kafe Losari.

baca juga: Menilik Rasa dan Sejarah di Balik Makanan Khas Bontang Gami Bawis

Terletak di Taman Residen Ruko nomor 5, Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Bontang Utara, Kafe Losari ini menyediakan beragam makanan khas Makssar dengan harga terjangkau. Di antaranya coto makassar Rp 25 ribu, sop ubi Rp 15 ribu, kapurung Rp 15 ribu, dan lainnya. Kafe yang baru buka 4 bulan lalu ini juga menyediakan jajanan khas. Misalnya pisang ijo, pallubutung, pisang epe dengan berbagai topping, jalangkote, baroncong, dan barongko. Harga jajanannya terjangkau mulai dari Rp 3 ribu hingga Rp 15 ribu per porsi.

Seperti kafe pada umumnya, Kafe Losari juga menyediakan makanan umum lainnya seperti nasi goreng, ayam goreng, mie goreng, mie rebus, stik kentang, roti selai, pisang goreng, singkong goreng, dan lainnya. Di sini juga menyediakan minuman seperti sarabba, es sirup markisa, es sirup DHT, es campur, aneka jus, kopi, dan lainnya.

“Kalau yang menjadi favorit di sini Kapurung dan Sop Ubi. Relatif sih banyak juga yang suka menu lainnya,” papar Safaruddin, Owner Kafe Losari kepada Akurasi.id, Kamis (16/1/20).

kafe losari
Buka setiap hari, Kafe Losari lebih ramai dikunjungi saat Sabtu dan Minggu malam. (istimewa)

Safaruddin mengatakan Kafe Losari merupakan cabang dari Warung Coto Makassar miliknya di Jalan MT Haryono depan Rudal. Dia membuka cabang di sekitar Jalan Ahmad Yani lantaran lokasinya lebih strategis dan ramai. Buka setiap Senin sampai Minggu mulai pukul 09.00 Wita hingga 22.00 Wita, kafenya selalu ramai dikunjungi pelanggan. Terutama saat Sabtu dan Minggu malam.

Baca Juga  Wakil Ketua DPRD Bontang Minta Pemerintah Serius Tangani Dampak Flu Burung

“Kadang saya buka sampai jam 12 malam kalau ramai,” kata pria kelahiran Makassar, 28 Februari 1974 ini.

Awal merintis kafe, suami dari Herni ini menggelontorkan biaya sekira Rp 100 juta. Safaruddin mengungkapkan saat membuka Kafe Losari dirinya ingin membuat konsep yang berbeda dari kafe pada umumnya yang kini menjamur di Bontang. Akhirnya tercetuslah ide berdagang makanan tradisional khas Makassar dengan konsep kafe yang lebih modern. Sehingga pengunjungnya tidak hanya berasal dari orang dewasa saja, namun juga untuk para remaja.

“Kelebihan Kafe Losari menurut saya karena belum ada yang menyamakan,” ulasnya.

MAHYUNADI

Omset yang dia dapatkan dalam berdagang makanan cukup fantastis. Dalam sebulan Safaruddin mengaku bisa memperoleh hasil sekira Rp 50 juta. Dalam sehari dia bisa meraup omset sebesar Rp 2 juta hingga lebih. Dari hasil penjualan, kini Safaruddin bisa memperkerjakan sebanyak 5 karyawan.

“Alhamdulillah. Saya senang berdagang sejak dari dulu waktu buka Warung Coto Makassar 1997 lalu,” pungkasnya. (*)

Penulis: Suci Surya Dewi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terkait

Back to top button
Enable Notifications    OK No thanks