CorakKesehatan

RS Maloy Inisiasi Layanan Hemodialisa, Pengidap Gagal Ginjal Kini Bisa Cuci Darah di Sangatta

RS Maloy
Direktur RS Meloy Sangatta memperlihatkan ruang Unit Pelayanan Hemodialisa. (Ella Ramlah/Akurasi.id)

Akurasi.id, Sangatta – Penderita penyakit gagal ginjal di wilayah Sangatta, Kutai Timur (Kutim), kini tidak perlu melangkah jauh untuk mendapatkan pelayanan cuci darah. Pasalnya, seperti halnya Rumah Sakit (RS) Maloy Sangatta, diketahui telah membuka pelayanan khusus terkait perawatan penyakit tersebut.

baca juga: Dianugerahi ‘Ding Dea Laeng Hong’, Kapolda Kaltim: Saya Akan Menjaganya

Saat ini, RS Maloy diketahui sudah membuka Unit Pelayanan Hemodialisa. Setidaknya terdapat 4 unit mesin yang sudah disiapkan di rumah sakit itu untuk melayani pasien yang membutuhkan cuci darah.

Tidak hanya itu, untuk melayani pasien yang ingin cuci darah, rumah sakit tersebut juga sudah menyiapkan sejumlah dokter spesialis penyakit dalam, dokter nefrologi, dokter umum yang bersertifikasi, serta perawat yang terampil, mahir, dan bersertifikat.

Direktur RS Meloy Sangatta, dr Johan Tonglo mengaku, dibukanya Unit Pelayanan Hemodialisa untuk memudahkan masyarakat penderita gagal ginjal berobat. Selama ini, sambungnya, masyarakat yang ingin cuci darah, rata-rata berobat di luar Sangatta, misalnya ke Bontang, Samarinda, Balikpapan, hingga ke luar Kaltim.

Sebelum membuka pelayanan itu, diakui dia, memang tidak mudah. Karena ada sejumlah syarat yang mesti dipenuhi. Salah satunya, keharusan adanya dokter spesialis penyakit dalam yang memahami penyakit gagal ginjal. Di sisi lain, jumlah pasien pengidap penyakit itu di wilayah Kutim, belakangan diketahui sebanyak banyak.

“Dengan adanya layanan ini, kami mengharapkan dapat membantu mempertahankan kualitas dan harapan hidup masyarakat Kutim, khususnya pasien yang terkena penyakit ginjal kronik,” tuturnya saat berbagai cerita dengan Akurasi.id, Kamis (13/2/20) lalu.

iklan-mahyunadi-MAJU-KUTIM-JAYA

Berdasarkan data pasien yang terdapat di RS Maloy, diketahui setidaknya hingga pertengahan Februari 2020 ini, sudah terdapat sebanyak 30 pasien asal Kutim yang telah melakukan perawatan cuci darah. Lewat ketersediaan alat hemodialisa, diharapkan dapat menekan biaya pasien yang selama ini biasa berobat di luar Sangatta.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, dr Bahrani menyampaikan, upaya paling ideal dalam mencegah berbagai bentuk penyakit, termasuk gagal ginjal, adalah dengan memperbaiki pola hidup sehat sejak dini. Baik itu dengan menjaga pola makan maupun rutin berolahraga.

“Dengan adanya Unit Pelayanan Hemodialisa ini, saya kira masyarakat Sangatta tidak perlu jauh-jauh lagi melakukan cuci darah. Tapi bagaimanapun, masyarakat harus mengedepankan pola hidup sehat dibandingkan memilih berobat,” serunya. (*)

Penulis: Ella Ramlah
Editor: Dirhanuddin

Tags
Show More

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close