HeadlineIsu Terkini

Saat Ekonomi Dunia Melambat, Ekonomi Kaltim Justru Tumbuh hingga 6,89 Persen

Ekonomi Kaltim
Kepala BI Perwakilan Kaltim Tutuk SH Cahyono menyampaikan jika pada triwulan III 2019 ekonomi Kaltim mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. (Dirhan/Akurasi.id)

Akurasi.id, Samarinda – Sektor pertambangan batu bara masih menjadi primadona yang menggerakkan ekonomi Kaltim hingga saat ini. Pada triwulan III 2019 ini saja, di tengah ekonomi dunia yang melambat, ekonomi Kaltim justru tercatat mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan.

Merujuk data Bank Indonesia (BI) Wilayah Kaltim, pertumbuhan ekonomi Kaltim pada triwulan III 2019 mencapai 6,89 persen. Angka itu lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada triwulan sebelumnya. Pencapaian tersebut terutama dipengaruhi oleh kinerja sektor eksternal yang membaik di tengah harga komoditas global yang menurun.

Baca Juga: Hadapi Persaingan IKN, UMKM Mesti Mulai Go Ekspor dan Go Digital

Kepala BI Perwakilan Kaltim Tutuk SH Cahyono menyampaikan, berdasarkan lapangan usaha, ekonomi Kaltim triwulan ini didorong oleh sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh sebesar 11,46 persen. Sedangkan di sisi pengeluaran, pertumbuhan ekspor luar negeri sebesar 15,94 persen menjadi penggerak utama ekonomi.

Ada sejumlah faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi tersebut. Di antaranya, kinerja sektor pertambangan didorong oleh kenaikan produksi pada triwulan III 2019 dibandingkan dengan triwulan II pada tahun yang sama serta didukung oleh faktor cuaca yang kondusif dan penyaluran kredit pertambangan yang tumbuh positif sebesar 13,20 persen pada September 2019.

Di samping itu, kenaikan produksi tersebut diperkirakan sebagai upaya antisipatif para pengusaha batu bara dalam menghadapi tren penurunan harga batu bara lebih lanjut di pasar internasional. Sejalan dengan kenaikan produksinya, volume ekspor batu bara juga mengalami kenaikan sebesar 15,24 persen dengan tujuan utama pengiriman ke India dan Tiongkok.

“Restriksi (pembatasan dalam lapangan produksi) impor batu bara yang dilakukan Tiongkok belum terlihat dampaknya terhadap ekspor batu bara Kaltim sampai triwulan ini,” sebut Tutuk, Senin (18/11/19).

Selain itu, pertumbuhan perekonomian Kaltim juga didukung oleh kinerja lapangan usaha industri pengolahan yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan kinerja pada triwulan sebelumnya. Meski secara tahunan, harga crude palm oil (CPO) atau minyak sawit masih turun, namun kenaikan produksi mampu menutupi penurunan tersebut.

“Kenaikan produksi CPO terlihat pada kenaikan volume ekspor CPO hingga 45,17 persen. Sejalan dengan masih terjaganya permintaan CPO dunia. Dan seiring dengan penurunan tarif impor CPO Indonesia dan pembatasan impor India dari Malaysia akibat ketegangan politik,” ungkapnya.

Inflasi Kaltim Triwulan III 2019 Masih Terkendali

Selain pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan dan di luar target. Di sisi pengendalian inflasi, Kaltim juga terbilang cukup bagus pada triwulan III 2019. Pada periode ini, inflasi Kaltim masih terkendali diangka 1,73 persen. Angka itu lebih rendah dibandingkan pada triwulan sebelumnya sebesar 2,71 persen.

Tutuk menerangkan, inflasi yang lebih rendah tersebut terutama bersumber dari kelompok transportasi yang mengalami deflasi (penambahan nilai mata uang) sebagai respons atas normalisasi permintaan pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

Namun demikian, Tutuk tetap mengingatkan, jika pergerakan inflasi bahan makanan triwulan III 2019 perlu harus selalu diwaspadai, karena menunjukkan tren peningkatan harga terutama komoditas cabai rawit dan cabai merah.

MAHYUNADI

“Iklim kemarau di daerah sentra produksi cabai menyebabkan gagal panen di sejumlah wilayah, sehingga mengurangi pasokan di masyarakat Kaltim. Sampai dengan Oktober 2019, inflasi Kaltim masih relatif terkendali dengan mencatat inflasi sebesar 1,41 persen,” terangnya.

Berdasarkan pola historisnya, sambung Tutuk, HBKN Natal dan Tahun Baru yang akan datang dapat berisiko mendorong inflasi lebih lanjut akibat peningkatan kebutuhan yang tidak bisa sepenuhnya dipenuhi pasokannya, utamanya bahan makanan dan transportasi.

“Untuk itu, TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah) di setiap wilayah terus berupaya meningkatkan pemantauan dan koordinasi untuk meminimalisir kemungkinan kenaikan dan spekulasi harga di periode tersebut,” serunya. (*)

Penulis: Dirhanuddin

Tags
Show More

Tinggalkan Komentar!

avatar

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close