DPRD Kaltim

Sambung IKN, Komisi III DPRD Kaltim Dorong Pemerintah Lakukan Pemetaan Pariwisata

Pariwisata
Ketua Komisi III DPRD Kaltim Rusman Ya’qub. (Dok)

Akurasi.id, Samarinda – Sebagai lokasi pembangunan ibu kota negara (IKN), Kaltim dinilai sudah saatnya menumbuhkan sektor ekonomi lain di luar pertambangan batu bara, minyak dan gas (migas), dan perkebunan kelapa sawit. Salah satu sektor yang dinilai cukup potensial dan belum tergarap maksimal yang sangat perlu dikembangkan yakni pariwisata.

Baca Juga: Makmur Apresiasi Peresmian Jalan Tol, Yakin Bawa Multi Efek

Terkait dengan itu, Ketua Komisi IV DPRD Kaltim Rusman Ya’qub menuturkan, dirinya telah meminta kepada Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim untuk membuat kajian khusus terkait itu, utamanya dalam menentukan potensi pariwisata yang tepat bagi pengembangan ekonomi Benua Etam –sebutan Kaltim- di masa mendatang.

Dengan potensi alam dan pantai yang dimiliki Kaltim, sambungnya, jika dikaji dan dikelola secara serius, maka pelan tapi pasti, ketergantungan ekonomi Kaltim terhadap sektor pertambangan dan perkebunan kelapa sawit akan bisa ditekan. Tinggal bagaimana pemerintah melakukan pemetaan terhadap berbagai potensi tersebut.

Logo dprd KaltimSelain itu, kesiapan Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah (Ripparda) Kaltim dinilai juga penting untuk segera dimatangkan Pemerintah Kaltim. Dari situ, pemerintah bisa melakukan berbagai upaya antisipasi dalam menyambut urbanisasi besar-besaran ke Kaltim ke depannya.

“Kami sedang menanti Ripparda yang dibuat oleh Dispar Kaltim. Selesai itu, baru akan kami evaluasi, yang jelas sampai hari ini, RTRW Kaltim kan harus direvisi, belum lagi kita bicara soal zonasi kawasan,” jelas dia saat dijumpai di Ruang Rapat Komisi IV DPRD Kaltim pada Senin (16/12/19) lalu.

Dari sekarang, Kaltim harus benar-benar memetakan setiap potensi pariwisata yang ada. Dengan adanya urbanisasi dalam skala besar, otomatis akan ikut mendorong kebutuhan di bidang pariwisata. Pemerintah Kaltim, mau tidak mau, harus menyiapkan terlebih dahulu destinasi wisata yang kompetitif dan memiliki daya tarik bagi para wisatawan, baik itu lokal, nasional dan juga mancanegara.

“Misalkan wisata buatan, menurut saya itu temporary. Kenapa tidak kita konsen pada pengembangan taman-taman nasional yang ada di Kaltim, jadi fokusnya pada wisata forestry,” tuturnya.

Jika pengembangan destinasi wisata hanya fokus pada wisata buatan, maka Kaltim akan sulit bersaing dengan kota lain yang sudah jauh lebih siap. Karenanya, mendorong ekonomi pariwisata berbasis alam dan pantai, maupun laut adalah langkah tepat bagi Kaltim, karena sejalan dengan potensi alam yang tersedia.

“Yang saya pahami, kita mau jumlah wisatawan yang banyak datang namun range penerimaannya sedikit, atau sebaliknya jumlah kedatangan tidak hiruk pikuk, tapi secara value added (nilai tambah) itu besar,” ucapnya.

Perpaduan wisata berwawasan lingkungan dengan mengedepankan konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal, serta aspek pembelajaran dan pendidikan atau Ekowisata, akan menjadi salah satu pilihan terbaik bagi pengembangan wisata di Tanah Benua Etam.

“Pengunjung bisa bermalam hingga berhari-hari di Kaltim. Bagaimana misalnya masyarakat Dayak, hidup dan menjaga kawasan hutan. Itu kan cantik sekali, banyak yang tertarik karena sesuai dengan kultur yang ada selama ini,” imbuhnya. (*)

Penulis: Muhammad Aris
Editor: Dirhanuddin

Leave a Reply

Artikel Terkait

Back to top button
Enable Notifications    Ok No thanks