HeadlineHukum

Selain Minim Edukasi, Kebiasaan Nonton Film Blue Ditengarai Jadi Pemicu Kasus Inses di Sangatta

(Ilustrasi)

Akurasi.id, Sangatta – Kasus seksual menyimpang yang dilakukan Melati (19) -nama samaran- dan TA (23), dua kakak beradik di Desa Singa Gembara, Sangatta Utara, Kutai Timur (Kutim), menjadi buah bibir masyarakat setempat. Lalu apa yang membuat kasus hubungan sedarah atau inses itu sampai bisa terjadi?

Psikolog Kutim Darma Shanti menyebutkan, berdasarkan jenis hubungannya, ada sejumlah faktor penyebab kasus inses sampai bisa terjadi. Seperti kasus inses yang terjadi di Sangatta, pertama, dapat dipengaruhi ketiadaan kesempatan dan pasangan untuk menyalurkan hasrat seksual secara wajar.

Baca Juga: Begini Pengakuan Kakak yang Melakukan Hubungan Sedarah dengan Adiknya hingga Hamil 5 Bulan

“Menyalurkan secara wajar yang artinya heteroseksual, dewasa, dalam ikatan pernikahan, menurut saya merupakan faktor-faktor yang saling berkaitan menciptakan kondisi ideal bagi inses,” jelas Shanti kepada Akurasi.id.

Kedua, menurut dia, kerahasiaan hubungan sedarah yang membuat itu tidak diketahui oleh lingkungan sekitarnya. Ketiga, Shanti berpendapat, hubungan sedarah itu juga dipicu oleh nilai-nilai yang diterapkan dalam sebuah keluarga.

“Sebetulnya berakar dari nilai-nilai keluarga juga,” ujarnya.

Terkait dengan hubungan sedarah antara kakak kandung dan adiknya di Sangatta, dikatakan Shanti, itu bisa juga terjadi karena faktor seringnya nonton video porno atau blue yang mudah diakses.

Dalam hal ini, dikatakan Shanti, biasanya juga terjadi dominasi terhadap pihak yang tidak mampu untuk menolak seperti anak kandung atau adik ke kakaknya.

“Perasaan tidak tega (anak atau adik) terhadap ayah maupun kakaknya,” ucapnya. “Pengelabuan bahwa seks merupakan ekspresi kasih sayang,” sambung dia.

Shanti menambahkan kasus inses juga bisa bermula dari rasa nyaman yang tumbuh terlalu jauh di dalam lingkungan keluarga. Kondisi itu bisa terjadi sejak kecil ketika keluarga membiasakan hubungan yang erat antara kakak dengan adik.

“Sehingga dari kondisi seperti itu membuat dia tidak bisa lepas dari kondisi itu, ada feeling secure,” urainya.

Dalam kasus hubungan sedarah antara kakak dan adik, dikatakan Shanti, orang tua seharusnya bisa memberikan pendidikan dan pengetahuan kepada anaknya tentang apa yang boleh dan tidak boleh. Misalnya, soal kebiasaan tidur bersama.

Saat masih kecil, lanjutnya, wajar bila seorang kakak dan adik tidur bersama. Namun, ketika keduanya sudah menginjak masa akil balig seharusnya orang tua mulai memisahkan keduanya.

“Harus sudah mulai dipisah, enggak boleh (tidur bersama), mereka harus tahu ini boleh, ini enggak boleh, memberikan rasa sayang kepada adiknya itu boleh, tapi ada batasan,” tuturnya.

Namun, itu berbeda dengan kasus hubungan sedarah antara orang tua dengan anaknya. Dalam kasus ini, menurutnya, ada faktor dari orang tua yang kurang bisa mengontrol diri.

“Biasanya orang tua tidak bisa mengontrol diri,” ujarnya.

Shanti menyebut kasus hubungan sedarah biasanya tidak mudah untuk diketahui dan umumnya baru bisa terbongkar setelah sekian lama terjadi. Sebab, kasus inses ini bagian ranah privasi dan normatif yang tidak akan diumbar secara gamblang di lingkungan sekitar.

Ia berpendapat, salah satu upaya pencegahan hubungan sedarah yang cukup efektif adalah dengan menggunakan aturan agama. Karena agama memang tidak memperbolehkan terjadinya hubungan sedarah tersebut.

Aturan agama, menurut Shanti, juga akan lebih mudah untuk dimengerti dan dipahami oleh siapa saja. “Yang paling bisa melakukan penerapan aturan agama dan pemberian konseling psikologis dan hukum karena kemungkinan ada kelainan,” tandasnya.

Seperti diketahui, Kamis (3/10/19) lalu, Polres Kutim mendapatkan adanya laporan kasus hubungan sedarah yang melibatkan kakak beradik, Melati dan TA. Kasus itu terungkap dari laporan Susilowati, ketua RT di tempat Melati dan MT bermukim.

Awal terungkapnya kasus ini sendiri, bermula dari kecurigaan Susilowati terhadap kondisi Melati yang kerap mual-mual. Selain itu, Melati belakangan juga sudah jarang keluar rumah dan berangkat ke sekolah.

Atas alasan itu, Susilowati berinisiasi menanyakan kondisi Melati. Orangtua Melati yang ditanyakan terkait itu, hanya menjawab jika Melati memang sedang mengidap penyakit kista. Dari situ, Susilowati membawa Melati untuk memeriksakan kesehatannya di sebuah rumah sakit di Sangatta.

Dari situ, Susilowati dan kedua orangtua Melati dikagetkan jika perempuan yang masih duduk di bangku kelas III SMA itu, tengah berbadan dua. Bayi yang ada di dalam kandungan Melati tidak lain adalah hasil hubungan sedarah antara dia dengan kakaknya MT. (*)

Penulis: Ella Ramlah
Editor: Yusuf Arafah

Tags
Show More

Tinggalkan Komentar!

avatar

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close