Hard NewsHukum

Selepas Bertemu Pengacara Hotman Paris, Kondisi Psikologis Ibu Yusuf Kembali Memburuk

Psikologis ibu yusuf
Psikolog P2TP2A Samarinda Ayunda Ramadhani (kanan) saat dalam konferensi pers di Polresta Samarinda. (Istimewa)

Akurasi.id, Samarinda – Kondisi psikologis Melisari selaku ibu kandung dari mendiang Ahmad Yusuf Ghazali (4) dikabarkan kembali memburuk. Hal ini berdasarkan analisa dari Psikolog, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak (P2TP2A) Samarinda, Ayunda Ramadhani, Senin (17/2/2020) dalam konferensi pers di Mapolresta Samarinda.

baca juga: Breaking News: Demi Kepentingan Penyelidikan, Polisi Bongkar Makam Yusuf

Menurut Ayunda, memburuknya kondisi psikologi Melisari terlihat saat tayangan videonya bersama tim kuasa hukum, saat berjumpa dengan pengacara kondang Hotman Paris, Sabtu (15/2/20) lalu di Warung Kopi Joni, Jakarta.

Sembari memegang foto mendiang Yusuf, Melisari terekam terus menitikkan air mata, sambil menangis tersedu-sedu. Kondisi ini diungkapkannya, berbeda saat Melisari masih dalam pendampingan timnya dan menjalani lima kali masa pendampingan psikologis.

“7 Februari kemarin baik-baik saja, sudah stabil,” ucap Ayunda saat dikonfirmasi.

Setelah merasa sehat dan tidak perlu lagi mendapatkan pendampingan psikolog, kata Ayunda, tak berapa lama kemudian ia mendapat kabar kalau ibunda Yusuf ini bertolak ke Jakarta.

“Reaksinya sedih. Membutuhkan pendampingan psikologis. Yang jelas kami prihatin dengan ini,” imbuhnya.

Ayunda pun menegaskan kalau dalam masa penemuan jenazah anaknya, hingga 7 Februari lalu, tim Ayunda pun terus melakukan pendampingan secara berjenjang.

“Jangan sampai ada asumsi, kami tak bergerak. Saya sendiri, menyediakan jadwal, hanya memang berhalangan terus,” tegasnya.

Sejak jenazah balita itu dipastikan sebagai Yusuf, lanjut Ayunda, kondisi psikologis Melisari memang tampak dirundung duka mendalam. Hal ini pun dinilainya sangat wajar. Karena jenazah Yusuf ditemukan dengan keadaan tragis, yakni tanpa kepala, organ dalam, lengan dan kakinya.

iklan-mahyunadi-MAJU-KUTIM-JAYA

“Anak ini diprediksi sebelumnya masih hidup. Tapi begitu ditemukan dengan kondisi begitu, tentu terjadi kesedihan yang luar biasa,” terangnya.

Apa yang dialami Melisari juga merupakan kondisi normal di bawah situasi yang tidak normal. Bahkan kondisinya bisa menjadi trauma akan pemberitaan apabila saat ini tidak kembali mendapatkan pendampingan psikologis.

“Yang jelas saat ini berada dalam fase krisis. Kami juga berharap agar kasus ini bisa terselesaikan dengan sejelas jelasnya,” pungkasnya. (*)

Penulis: Muhammad Upi
Editor: Dirhanuddin

Tags
Show More

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close