HeadlineIsu Terkini

Seruan Persatuan Umat Islam dan Pembebasan Palestina di Yaumul Quds

Seruan Persatuan Umat Islam dan Pembebasan Palestina di Yaumul Quds
Seorang peserta aksi menginjak kertas bergambar bendera Israel di aksi Internasional Quds Day. Hal ini sebagai bentuk penegasan bahwa Israel harus dihapuskan di muka bumi. (Ufqil Mubin/Akurasi.id)

Akurasi.id, Samarinda – Umat Islam seluruh dunia secara serentak mengadakan aksi bela Palestina pada Jumat (31/5/19). Aksi turun ke jalan dengan tema Internasional Quds Day ramai diselenggarakan di beragam negara di Asia, Eropa, Amerika, dan Australia. Di sejumlah provinsi di Indonesia juga diramaikan dengan aksi tahunan ini. Tak terkecuali di beberapa daerah di Kalimantan Timur (Kaltim).

Di Samarinda, puluhan orang mengadakan aksi bela Palestina di perempatan lembuswana. Mereka membentangkan spanduk dan berorasi secara bergantian. Aksi yang berlangsung damai ini diikuti anak-anak, remaja, pemuda, dan orang-orang dewasa. Baik laki-laki maupun perempuan.

Sebagaimana diketahui, Yaumul Quds pertama kali digagas pada 1979 oleh ulama kenamaan asal Republik Islam Iran, Imam Khomeini. Hal ini sebagai bentuk dukungan terhadap bangsa Palestina yang telah bertahun-tahun dijajah kaum zionis Israel.

Sore tadi, sekira pukul 17.15 Wita, Akurasi.id berkesempatan mewawancara Koordinator Aksi Yaumul Quds Samarinda, Habib Ahmad Syahab. Berikut kami sajikan petikan wawancara dengan beliau.

Apa tujuan dari peringatan Yaumul Quds ini?

Seruan Persatuan Umat Islam dan Pembebasan Palestina di Yaumul Quds
Habib Ahmad Syahab (Ufqil Mubin/Akurasi.id)

Ini sebuah gerakan kita sebagai implementasi dari undang-undang dasar yang menolak penjajahan. Sudah jelas dalam undang-undang kita, penjajahan itu sesuatu yang tidak diinginkan dan kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Kenyataannya, Palestina masih saja dijajah.

Ketika kita melihat sejarah, Palestina adalah salah satu negara yang begitu teguh membela Indonesia di awal kemerdekaan. Maka rasanya sangat pantas jika sekarang Indonesia konsisten membela Palestina.

Kita mendukung gerakan pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi. Beliau dengan tegas menunjukkan pembelaannya terhadap Palestina. Beliau juga menolak usaha pemindahan ibu kota Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem. Itu merupakan penghinaan bagi kaum muslimin.

Al Quds ini bukan milik satu golongan. Tetapi milik semua kelompok. Gerakan Al Quds pertama kali diserukan ulama dari Persia, Imam Khomeini. Sejatinya Al Quds adalah milik semua orang yang merasa penindasan tidak boleh ada di muka bumi.

Realitasnya, Palestina merupakan tempat yang terjajah dan tertindas. Padahal mereka adalah saudara-saudara kita. Kita wajib membelanya. Ini masalah kemanusiaan. Kita tidak berbicara atas nama agama, golongan, dan lembaga-lembaga tertentu. Tetapi kita berbicara atas nama kemanusiaan. Karena sekarang ini kemanusiaan sedang diinjak-injak di Palestina.

Kita juga berpegang pada sabda Rasulullah SAW, “Bukan dari kelompok kami yang tidak peduli terhadap masalah saudaranya.” Maka kita berteriak dengan lantang di sini untuk menyampaikan dan meminta komitmen kita untuk Palestina.

Mungkin sekarang kita hanya bisa berdoa dan berteriak. Tetapi inilah bentuk dukungan kecil kita. Ini bentuk dukungan dan realisasi dari undang-undang dasar kita.

Bagaimana keadaan Palestina saat ini?

Kita lihat kondisi Palestina sangat mengkhawatirkan. Apalagi di bulan Ramadan ini. Sejak awal puasa, sudah dilakukan penjajahan dan penindasan terhadap rakyat Palestina. Kemarin saya mendapat kiriman gambar. Mereka berbuka dengan kondisi yang begitu menyayat hati. Mereka dijaga tentara. Para wanita menunjukkan keberaniannya. Mereka tidak takut dengan segala perlakuan ini.

Kita hanya ingin mengingatkan kepada saudara-saudara kita sesama kaum muslimin. Di negeri ini kita sudah diberikan begitu banyak kenikmatan oleh Allah SWT. Kita bisa berbuka puasa bersama keluarga.

Di Palestina, mereka berbuka puasa dengan berita duka karena saudaranya meninggal dunia. Mereka berbuka dengan kesedihan karena ditinggal orang tuanya. Anak-anak tercerai-berai. Itu realitas di Palestina. Kita tidak bisa diam. Kita menyerukan dan harus menjadi suara bagi keadilan.

Apa langkah konkret yang perlu diambil pemerintah Indonesia?

Kita melihat pemerintah Indonesia sudah banyak memberikan dukungan nyata bagi perjuangan Palestina. Pemerintah sekarang sudah luar biasa memberikan dukungan. Barangkali ke depan perlu aksi yang lebih luas.

Ada hal yang perlu diambil dengan tegas. Masih banyak produk Israel yang masuk ke Indonesia. Kita tahu banyak makanan siap saji dan makanan-makanan yang merupakan produk dari kelompok yang betul-betul mendukung gerakan zionisme Israel.

Kalau memungkinkan dilakukan boikot, bukan hanya dengan seruan. Tetapi aksi nyata. Kita sebagai kaum muslimin betul-betul menolak segala sesuatu yang berkaitan dengan Israel. Semua bentuk penopang kaum zionis Israel, kita tolak. Begitu juga produk-produk negara dan kelompok-kelompok yang mendukung penjajahan Israel terhadap Palestina. Produknya harus kita tolak.

Walaupun sebenarnya sekarang agak sulit. Karena produk-produk ini sudah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat. Tetapi usaha untuk menyerukan dan mengambil tindakan nyata, harus terus kita upayakan.

Yaumul Quds ini masih diadakan secara terbatas oleh umat Islam. Tidak semuanya menyerukan hal yang sama di Jumat terakhir bulan Ramadan. Bagaimana habib melihat ini?

Seruan Persatuan Umat Islam dan Pembebasan Palestina di Yaumul Quds
Seorang remaja membentangkan kertas bertulis dukungan terhadap bangsa Palestina. (Ufqil Mubin/Akurasi.id)

Harusnya kita tidak melihat seruan ini berasal dari kelompok mana. Ketika di situ ada suara kebenaran, maka seharusnya kita berbicara hal yang sama. Ada hadis yang mengatakan, “Lihatlah apa yang dikatakan. Jangan lihat siapa yang mengatakan.”

Konsepsi ini bukan hanya dari perspektif keilmuan. Tetapi dari semua segi. Ketika seruan Al Quds ini muncul dari kelompok tertentu, tetapi tujuannya benar, apa yang disampaikan juga benar, maka kita harus mendukung kelompok tersebut. Siapapun yang menyampaikannya.

Kita sebagai bangsa Indonesia yang beragam harus menerima semua kelompok. Apa pun asal usul dan pandangan serta agama mereka. Jika mereka benar, maka kita katakan benar. Jangan hanya karena bukan golongan kita, kita berlepas diri dari hal-hal seperti ini.

Sekarang ini kita tidak berbicara 01 atau 02. Kita berbicara 03. Yaitu persatuan Indonesia. Ini hal paling penting yang harus kita serukan. Sehingga kita tidak lagi terpecah. Perbedaan itu sebuah konsekuensi. Orang yang lahir dari rahim yang sama pun bisa berbeda pandangan.

Apa yang harus dilakukan umat Islam menyikapi keadaan Palestina?

Bagi kaum muslimin, kita jangan putus mendoakan dan berjuang untuk mereka. Walaupun kita berjuang lewat seruan. Mungkin kita belum bisa berjuang dengan harta. Tetapi jika memungkinkan, kita korbankan harta kita.

Apa pun yang terjadi terhadap Palestina, derita mereka adalah derita kita. Sakitnya umat Islam, sama dengan sakitnya kita. Ini yang harus kita tanamkan dalam diri kita. Apa yang terjadi di Palestina, kita harus menjadikannya sebagai penderitaan kita. Karenanya hari ini, kita turun aksi untuk merasakan derita dan pahitnya keadaan rakyat Palestina.

Saya juga menyerukan pembebasan bagi bangsa Yaman. Negara ini sedang ditindas oleh rezim Saudi Arabia dengan alasan yang tidak jelas. Yang menjadi korban adalah rakyat jelata. Pasar-pasar dan sekolah dihancurkan. Anak-anak menderita kelaparan.

Sekalipun Saudi Arabia itu mayoritas penduduknya beragama Islam. Di sana ada kakbah dan simbol suci umat Islam. Tetapi ketika pemeritahannya zalim, kita tidak bisa diam terhadap perlakuan mereka. Kita harus tegaskan kepada mereka, ini sesuatu yang dilarang oleh Nabi Muhammad SAW. (*)

Penulis: Ufqil Mubin
Editor: Ufqil Mubin

5/5 (2 Reviews)

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar!

avatar
Back to top button
Close
Close