Hard NewsHukum

Setahun Beraksi, 6 Preman Minyak ala Robin Hood Ditangkap Kepolisian Kutim

6 preman
Salah satu kapal yang dipakai komplotan premanisme untuk memalak kru kapal pengangkut batubara. (Ist)

Akurasi.id, Sangatta – Sebanyak 6 preman  meresahkan awak kapal dan warga sekitar sungai Desa Senyiur, Muara Ancalong, Kutai Timur (Kutim) akhirnya dijebloskan ke penjara. Setahun terakhir mereka kerap memalak minyak dari kru kapal yang melintasi sungai 81, 82, dan 100. Bak Robin Hood, hasil jarahannya dibagikan kepada yang membutuhkan.

baca juga: Jenazah Napi yang Diduga Korban Pengeroyokan Diautopsi, Tim Forensik Temukan Benjolan Pada Organ Dalam

Aksi premanisme yang dilakukan kelompok pemalak kru kapal itu ditangkap Minggu (9/2/20) lalu. Sebelumnya kepolisian sudah berulang kali mendapat aduan masyarakat, terurama awak kapal pengangkut batu bara maupun sawit yang melintas di wilayah Sungai Senyiur.

“Sudah setahun mereka ini, sehari-hari melakukan pemalakan terhadap kru kapal yang melintas di Sungai Senyiur,” kata Kasatreskrim Polres Kutim AKP Ferry Putra Samodra, Rabu (12/2/20).

Ferry menambahkan jika enam pelaku yang meresahkan itu sudah diringkus Tim Panther Polres Kutim.

“Sudah resmi kami tahan,” tegasnya.

Sementara ketua preman berinisial SA (42) mengaku bersama komplotannya terpaksa melakukan aksi tidak terpuji itu. Selain menghidupi ekonomi keluarga dan rekannya, uang atau minyak hasil jarahan tersebut disumbangkan untuk penerangan masjid serta dialokasikan ke kegiatan sosial lain.

Para penjarah beralasan hasil nelayan di Desa Senyiur menurun secara kuantitas dan kualitas sejak wilayah tempatnya bermukim dijadikan akses kapal perusahaan besar. Akibatnya, nelayan setempat harus kehilangan mata pencaharian. Bahkan, beberapa orang terpaksa beralih sebagai perompak kapal yang melintas.

“Saya dulunya kerja sebagai sekuriti, tapi kontrak tidak diperpanjang. Akhirnya jadi tukang ikat tali kapal yang datang. Teman-teman lain banyak yang nelayan, tapi ikan sudah sedikit, susah didapat. Kami sepakat minta sumbangan ke kapal yang lewat sini,” ungkap SA.

SA mengklaim bahwa hubungan dengan sejumlah awak kapal selama ini berlangsung baik. Bahkan menurutnya sudah seharusnya awak kapal memberikan sumbangsih pada desa setempat. Dia mengaku telah bermitra menjadi tukang ikat tali atau tambatan kapal sejak 2016.

“Kami meminta sejak 11 Desember lalu. Saya minta sesuai permohonan yang ditandatangani kepala desa, camat, dan RT. Sudah disetujui kades,” dalihnya.

iklan-mahyunadi-MAJU-KUTIM-JAYA

Dalam pengakuannya SA menjelaskan dalam satu hari ada lima kapal yang melintas. Satu jeriken senilai Rp 150 ribu. Jika kapal tidak memberikan minyak, maka diganti dengan nominal tersebut.

“Tidak semua kapal memberi. Kami satu tim ada tiga orang,” ungkapnya.

SA menambahkan bahwa perbuatan yang dilakukan bersama komplotannya itu karena merasa selama ini hanya menjadi penonton saja. Bahkan terkena dampak debu batu bara.

“Merasa debunya saya yang makan, tidak dapat apa-apa hanya jadi penonton,” tandasnya. (*)

Penulis: Ella Ramlah
Editor: Suci Surya Dewi

Tags
Show More

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close