Lifestyle

Solusi Jitu Menghentikan Kebiasaan Mengisap Rokok

Solusi Jitu Menghentikan Kebiasaan Mengisap Rokok
Klien UBM menjalani rangkaian tes untuk evaluasi pasca berhenti mengisap rokok. (Suci Surya Dewi/Akurasi.id)

Akurasi.id, Bontang – Puskesmas Bontang Utara II memfasilitasi pecandu yang ingin berhenti merokok. Puskemas ini menyediakan layanan gratis berupa pojok Upaya Berhenti Merokok (UBM). Gerakan ini dimotori Dwiyanti, Emi Erliani, dan Anugrah Wati. Mereka terdaftar sebagai dokter terlatih dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Calon klien yang ingin berhentik mengisap rokok harus memiliki niat yang kuat. Hal ini diungkapkan Konselor Pelayanan UBM Puskesmas Bontang Utara II, Dwiyanti.

Klien akan diajukan berbagai pertanyaan untuk mengetahui tingkat keseriusannya. Dari skala 0 sampai 10, klien dianggap memiliki motivasi kuat berhenti merokok jika mendapat nilai di angka tujuh ke atas.

“Semua perokok tahu dampaknya merokok. Tapi niat dan keinginan untuk berhenti masih kurang,” kata Dwiyanti saat ditemui Akurasi.id, Kamis (25/7/19).

Dia menyebut, ada tiga metode untuk berhenti merokok. Pertama, berhenti seketika. Biasanya ini dapat dialami perokok yang bersungguh-sungguh menghentikan kebiasaan mengisap rokok. Penyebabnya faktor trauma seperti kehilangan orang terdekat karena rokok.

Metode kedua dengan pengurangan. Perokok mengurangi jumlah rokok yang dikonsumsi. Misalnya dalam sehari menghabiskan 16 batang rokok. Maka dalam sehari dikurangi dua batang menjadi 14 batang. Hal ini terus dilakukan setiap hari hingga seseorang tidak mengonsumsi rokok.

Metode ketiga dengan menunda kebiasaan. Dwiyanti menjelaskan, cara ini digunakan untuk perokok berat. Contohnya, jika ia merokok saat bangun tidur, maka dia harus menunda dua jam untuk mengisap rokok dengan melakukan aktivitas lain.

“Misalnya hari ini boleh merokok jam 7. Besok ditambah lagi jamnya jadi jam 9. Begitu seterusnya sampai bisa berhenti merokok,” ungkap perempuan berjilbab ini.

Klien yang sudah memiliki niat untuk berhenti mengisap rokok perlu mengikuti beberapa tahapan. Konselor akan mewawancara klien dengan mengajukan pertanyaan berapa lama waktu merokok, berapa banyak rokok yang dihabiskan dalam sehari, kondisi lingkungan dan kegiatan sehari-hari, dan upaya berhenti merokok.

“Saat wawancara, biasanya ada yang pernah mencoba berhenti. Tapi gagal karena ajakan teman. Faktor lingkungan yang bisa memengaruhi klien perlu dihindari,” sarannya.

Setelah wawancara, klien menjalani pemeriksaan kesehatan dengan mengecek penyakit seperti hipertensi, jantung, dan asma. Pemeriksaan berupa pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar perut, cek tensi, cek gula darah, serta cek kadar karbondiosida dan peak flow meter untuk mengukur kekuatan paru-paru.

Apabila klien memiliki riwayat penyakit, maka pihaknya akan bekerja sama dengan ahli terkait. Klien memiliki yang penyakit gula akan ditangani ahli gizi. Biasanya perokok yang mulai berhenti akan mengalihkan perhatian dengan mengonsumsi camilan dan permen.

“Maka bisa berbahaya jika klien berhenti merokok tapi jadi diabetes. Maka perlu integrasi dengan ahli gizi untuk mengatur pola makannya,” tutur dia.

Klien yang sudah menjalani konseling rutin akan kembali dievaluasi untuk menetapkan target waktu berhenti merokok. Keberhasilan menghentikan aktivitas ini tergantung upaya klien.

Tak Instan

Dwiyanti mengaku, selama ini banyak klien yang pulang dengan perasaan kecewa lantaran mengira dapat berhenti merokok dengan bantuan obat. Padahal untuk berhenti mengisap rokok harus dilakukan secara perlahan.

“Mereka lupa kalau dulu awalnya merokok satu batang, lalu jadi dua, tiga batang, sampai satu bungkus sehari. Begitu juga jika ingin berhenti. Harus bertahap,” tegasnya.

Klien yang berhasil akan dievaluasi seminggu sekali. Seseorang diidentifikasi berhasil akan dievaluasi setiap dua hingga empat minggu sekali. Klien yang memiliki motivasi berhenti mengisap rokok namun sulit mengupayakannya akan dianjurkan melakukan hipnoterapi.

“Jika dalam kurun waktu tiga bulan tidak berhasil, maka dirujuk ke spesialisasinya,” tutur dia.

Sejak diluncurkan Juni lalu, klien UBM berjumlah sembilan orang. Salah satunya Eko Heri. Karyawan bagian keamanan di Puskesmas Bontang Utara II ini sudah sebulan mengikuti konseling UBM.

Dia menjadi perokok sejak duduk di bangku SMA. Padahal dalam keluarganya tidak ada perokok. Dia menghabiskan sebungkus rokok setiap hari.

“Saya merokok kalau lagi kumpul sama teman-teman. Enggak enak kalau enggak ikut merokok,” kata pria berusia 25 tahun ini.

Pria yang akrab disapa Eko itu termotivasi untuk berhenti mengisap rokok karena ingin hidup lebih sehat. Sejak mengikuti konseling, dia sudah mulai menghentikannya secara perlahan. Hasil tes kesehatan setiap evaluasi terus meningkat.

Dia mengalihkan kebiasaannya dengan mengunyah permen. Di awal-awal menghentikan aktivitas mengisap rokok, dia menghabiskan 30 butir permen dalam sehari. Beruntung dia tidak memiliki penyakit gula.

“Sekarang 10 butir permen saja. Perubahannya sekarang doyan makan. Terus napas lebih enak karena dulu sering batuk kalau pagi,” pungkasnya. (*)

Penulis: Suci Surya Dewi
Editor: Ufqil Mubin

Tags

Leave a Reply

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close