HeadlineIsu Terkini

Sudah Merambat ke 19 Titik, Sebanyak 2.489 Jiwa di Samarinda Terdampak Banjir

Titik banjir Samarinda
Air dengan ketinggian sepinggang orang dewasa sudah menggenangi Perum Bengkuring, Jalan Terong III pada Senin (13/1/20) pukul 16.30 Wita. (Muhammad Upi/Akurasi.id)

Akurasi.id, Samarinda – Bencana banjir yang melanda sejumlah titik di Kota Samarinda setelah diguyur hujan deras selama dua hari terakhir tidak hanya berdampak pada pemukiman warga. Fasilitas pendidikan turut terendam. Seperti yang terjadi di salah satu SD 024 Samarinda Utara, Jalan Bengkuring Raya, Kecamatan Samarinda Utara.

Baca juga: Dua Hari Diguyur Hujan Deras, Samarinda Ditetapkan Siaga Banjir!!

Meski telah terdampak banjir, akan tetapi aktivitas belajar mengajar di tempat itu ternyata belum diliburkan. Hingga saat ini, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Samarinda Asli Nuryadin pun mengakui hal itu.

Daerah Bengkuring Raya bukan satu-satunya lokasi terdampak banjir. Setidaknya ada tiga titik lain yang ikut tergenang, yakni di Kelurahan Budaya Pampang, Sungai Pinang, dan Samarinda Ilir.

“Memang ada yang terlapor banjir, tapi itu persoalan biasa, karena setiap musim hujan pasti banjir,” ujar Asli.

Dari hal tersebut, Asli belum mengimbau adanya libur kepada pihak sekolah yang terdampak.

“Sabtu kemarin kan sudah turun. Sampai sekarang pun belum ada laporan yang mengatakan sekolah ini terganggu proses belajarnya gara-gara banjir,” imbuhnya.

Asli menyebutkan, jika memang potensi banjir memang mengalami kenaikan, maka pihaknya akan melihat lagi apakah perlu meliburkan sekolah atau tidak. Khususnya sekolah yang terdampak langsung banjir.

“Kalau naik, dan diperkirakan tidak bisa melangsungkan proses belajar mengajar akan kami liburkan,” tutupnya.

Samarinda di Puncak Musim Penghujan

Titik banjir Samarinda
SD 024 Samarinda, Jalan Bengkuring, Sempaja Utara terendam air hingga semata kaki orang dewasa. (Muhammad Upi/Akurasi.id)

Potensi banjir besar terus membayangi Samarinda. Memasuki awal 2020 ini Kota Tepian -sebutan Samarinda- berada di puncak musim penghujan. Diungkapkan oleh Kepala BMKG Stasiun metereologi kelas III Temindung Samarinda, Reza Arian Noor menuturkan kalau Januari hingga Mei mendatang.

“Khususnya Samarinda masih terus berpotensi, karena kita berada di puncak musim,” ucapnya saat di konfirmasi, Senin (13/1/20) sore.

Selama tiga bulan ke depan memang Samarinda telah di prediksi oleh BMKG berada di musim penghujan. Akan tetapi, setelah melewati Januari, yakni pada Februari akan mengalami penurunan intensitas hujan.

Meski demikian, nyata pada Maret mendatang curah hujan kembali mengalami peningkatan. “Seperti itu polanya,” imbuhnya.

Sementara yang dimaksud sebagai puncak musim penghujan, berada di Desember 2019 kemarin dan Januari 2020 saat ini.

“Februari hingga April curah hujan lebih stabil. Memasuki Mei hingga Juni curah kembali tinggi dan menjadi puncaknya musim penghujan,” bebernya.

Reza menerangkan, puncak musim penghujan ada beberapa detailnya, seperti curah hujan yang penuh terjadi selama sebulan. Sedangkan di musim hujan biasa dengan intensitas hujan sedang dan lebat.

Di puncak musim penghujan sendiri, jumlah total curahnya selama sebulan sekitar 400 milimeter. Sementara di bulan lainnya cuman 100 hingga 300 milimeter. Namun intensitas bisa terjadi begitu lebat.

“Untuk hujan pada hari Sabtu dan Minggu yang kita pantau terjadi dari 30 hingga 85 milimeter dalam sehari atau 24 jam. Itu termasuk dalam kategori curah sedang dan lebat,” sambungnya.

Sedangkan di waktu nyaris bersamaan kala itu, dari pantauan BMKG curah hujan terbesar terjadi di seputaran Bandara APT Pranoto dengan intensitas air sekitar 80 milimeter.

“Curah hujan lebih tinggi terjadi di Utara Samarinda dari sejumlah kawasan lain,” ujarnya.

Sedangkan untuk prediksi sepekan ke depan, lanjut Reza, untuk wilayah Kaltim khususnya Samarinda akan terjadi hujan dengan curah ringan hingga sedang.
“Apabila tiga hari tidak terjadi hujan maka kita harus waspada. Potensi terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat sangat memungkinkan,” jelasnya.

Curah hujan yang dikatakan Reza ini biasanya diiringi dengan kilat, petir dan angin kencang. Yang tentu saja semakin membuat para petugas meningkatkan kesiagaan mereka. Karena bukan tidak mungkin, musibah bencana seperti longsor dan pohon tumbang juga terus mengancam warga.

Bahkan dalam dua hari ke depan, penuhnya Bendungan Benanga saat ini dikarenakan intensitas hujan yang begitu besar di wilayah utara Samarinda.

“Tetap waspada kita masih di musim hujan, tentunya peluang hujan sangat mudah terjadi. Curah hujan masih kita alami sepanjang Januari ini, karena memang lagi musim hujan,” tutupnya.

19 Titik Terdampak Banjir di Samarinda

Titik banjir Samarinda
Ketinggian air di Bendungan Benanga, Lempake, Samarinda Utara, kian mengkhawatirkan saja, karena sudah hampir mencapai batas awas. (Muhammad Upi/Akurasi.id)

Informasi dihimpun, hingga Senin (13/1/20) pukul 16.00 Wita, dua kecamatan terdampak ialah Samarinda Utara dan Samarinda Ilir dengan total keseluruhan masyarakat yang terdampak 2.489 jiwa atau sebanyak 728 kepala keluarga (KK).

Rinciannya ialah, pertama di Kelurahan Budaya Pampang meliputi RT 02 sebanyak 40 rumah, 2 bangunan sekolah, 1 puskesmas dan 1 rumah ibadah dengan jumlah jiwa sebanyak 70 dan KK-nya mencapai 44.

MAHYUNADI

Selanjutnya di Kelurahan Sempaja Timur meliputi RT 35 di Jalan Kestela 2-6 dengan jumlah 450 Jiwa dari 125 KK. RT 36, Jalan Asparagus 1-10 jumlah 251 Jiwa dari 104 KK. RT 37, Jalan Terong 1-12 jumlah 355 jiwa dari 94 KK. RT 38, Jalan Terong Pipit 1-8 jumlah 434 jiwa dari 103 KK.

Kemudian di RT 44, Jalan Pakis Merah 12 jumlah 125 jiwa dari 35 KK. RT 45, Jalan Pakis Merah 17 jumlah 65 jiwa dari 15 KK. RT 46, Jalan Pakis Aji 4-6 jumlah 49 Jiwa dari 10 KK. RT 50, Perum Griya Mukti, jumlah 101 Jiwa dari 50 KK. RT 40, Jalan Bengkuring Raya 1, jumlah 53 jiwa dari 10 KK. RT 26, Perum Puspita, jumlah 64 jiwa dari 15 KK, dengan total jumlah mencapai 1.930 jiwa dari 561 KK.

Sementara di Kecamatan Sambutan, ada Kelurahan Sambutan terdampak. Di sini ada 7 RT meliputi RT 1, Jalan Sejati, Gang Rambai, 56 jiwa dari 12 KK. RT 13, Pelita IV, 8 jiwa dari 2 KK. RT 14, Pelita IV, 19 jiwa dari 8 jiwa.

Kemudian di RT 16, Jalan Sultan Sulaiman, Pelita VI, 14 jiwa dari 6 KK. RT 17, Jalan Sultan Sulaiman, Pelita VI, 133 jiwa dari 39 KK. RT 18, Jalan Poros Pelita VI, 129 Jiwa dari 30 KK. RT 33, Pelita IV, Handil Kopi, 130 jiwa dari 30 KK. Jumlah 489 jiwa dari 123 KK. (*)

Penulis: Muhammad Upi
Editor: Dirhanuddin

Tags
Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close