Catatan

Telaah Kritis Terhadap Pendidikan Indonesia

Telaah Kritis Terhadap Pendidikan Indonesia
Ahmad Fauzi (Istimewa)

Ditulis Oleh: Ahmad Fauzi

26 April 2019

Terjadi pro dan kontra dalam mendeskripsikan masalah pendidikan. Hal ini dapat menghambat identifikasi dan penyelesaian masalah pendidikan. Dalam beberapa penelitian menyebutkan, pendidikan Indonesia tertinggal 120 tahun dibanding negara-negara maju. Banyak indikator yang menyebabkan lambannya pengembangan pendidikan di negara ini. Secara faktual, memang kita perhatikan kualitas pendidikan kita masih sangat rendah. Ini kenyataan yang terwujud di masyarakat.

Anggaran negara sebesar 20 persen untuk pendidikan jangan sampai disia-siakan. Harus ada upaya evaluasi. Anggaran yang besar ini harus dimaksimalkan untuk perbaikan, peningkatan kualitas infrastruktur, dan pengembangan kemampuan guru. Setiap tahun, harus ada goals yang jelas untuk peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

Kita masih memiliki pekerjaan rumah untuk memperbaiki pendidikan di negara ini. Guru yang mengajar di kelas tidak memberikan pandangan yang luas kepada murid. Para peserta didik tidak memahami esensi ilmu yang dipelajari. Misalnya pelajaran matematika, apa manfaat yang kita dapatkan dari pelajaran tersebut? Inilah yang kerap diabaikan.

Dalam upaya memajukan peserta didik, BJ Habibie menganjurkan, murid harus dituntun untuk mengetahui potensinya. Kata beliau, “Pelajarilah apa yang disukai. Fokuslah pada minat. Tetapi tetap mempelajari ilmu-ilmu yang lain.” Mengapa dari sekarang kita tidak mengarahkan pola pikir murid sesuai pandangan Habibie tersebut? Jika orientasi pendidikan pada kejuruan, mengapa tidak difokuskan pengembangannya?

***

Secara umum, saya perhatikan, kualifikasi guru di Indonesia masih rendah. Maaf, saya tidak bermaksud merendahkan guru. Kenyataan faktual menunjukkan demikian. Guru masih dijadikan sebagai jabatan formal semata. Di Firlandia, para guru sudah berpendidikan magister dan doktor. Mereka benar-benar memahami bidang keilmuannya. Ketika mengajarkannya kepada murid, guru sudah mampu menanamkan dan mengaplikasikan pemahaman yang baik. Akibatnya, Firlandia dikenal sebagai negara yang memiliki pendidikan terbaik di dunia. Hal ini dipengaruhi regulasi rekrutmen guru yang ketat. Demikian juga dari aspek penggajian. Guru diberikan gaji yang tinggi.

Sependek pengetahuan saya, di sekolah-sekolah di Indonesia, masih banyak guru yang ditempatkan pada bidang yang tidak sesuai keilmuannya. Padahal, pemahaman tentang bidang studi sangat penting. Barangkali masalah ini disebabkan sistem rekrutmen yang masih sangat lemah.

Guru memiliki tanggung jawab untuk mengolah pengetahuan yang dimilikinya supaya relevan dengan konteks zaman. Jika seorang guru mengajar biologi, maka dia harus mampu mengajarkan ilmu tersebut berdasarkan perkembangan ilmu biologi di era modern. Negara-negara di dunia sudah mengembangkan rekayasa genetika. Hal-hal seperti ini harus diolah sedemikian rupa agar relevan dengan kehidupan peserta didik. Guru perlu menanamkan tujuan di balik rekayasa genetika. Sehingga peserta didik paham perkembangan genetika. Begitu pula dengan ilmu kimia. Guru dituntut untuk menjelaskan kepada murid tentang fungsi atom. Energi ini mesti dijelaskan dengan baik sehingga dapat dipahami oleh murid. Singkatnya, guru dapat memberikan pandangan tentang manfaat atom. Yang pasti, metodelogi guru untuk mengajar pun perlu terus ditingkatkan agar siswa termotivasi untuk mencari ilmu pengetahuan yang diajarkan tanpa diberikan pekerjaan rumah sekalipun.

Pada prinsipnya, jika disingkat, guru memiliki tanggung jawab untuk memahami pengetahuan secara filosofis dan tehnikal. Problemnya, dewasa ini guru hanya mampu memahami isi buku. Tetapi tidak mampu menafsirkan pengetahuan dalam konteks global. Mungkin saja guru terjebak pada dokumen-dokumen yang dipersiapkan secara teknis sesuai aturan-aturan pengajaran.

Sejatinya, materi pembelajaran memuat 70 persen motivasi. Manfaat pelajaran jauh lebih penting daripada pengetahuan. Dengan berbekal motivasi yang telah ditanamkan guru, murid dapat mencari sendiri ilmu yang berkaitan dengan pelajarannya. Minimnya motivasi ini berimbas pada rasa malas murid untuk belajar dan kebencian terhadap tugas. Ada pola pikir yang berkembang di benak murid, bidang ilmu yang dipelajarinya tidak bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, jika guru berhasil menanamkan motivasi, maka dengan sendirinya murid akan kehausan mencari ilmu. Karena ilmu itu sangat luas. Semakin dipelajari, pelajar akan semakin kehausan.

***

Saya pikir masalah yang sangat mendasar dalam pendidikan adalah orang tua, anak, dan sebagian besar orang masih beranggapan bahwa pendidikan bertujuan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Orientasi peserta didik juga tidak lepas dari dunia kerja. Padahal tujuan pendidikan yang sesungguhnya adalah memanusiakan manusia. Jika tujuan pendidikan hanya untuk mendapatkan pekerjaan, apa bedanya manusia dengan sapi? Sapi pun bekerja dan mencari makan. Pada dasarnya, manusia memiliki potensi yang lebih besar. Bukan sekadar bekerja.

Cara pandang masyarakat terhadap tujuan pendidikan perlu diubah. Hal ini berpengaruh terhadap pengembangan pendidikan. Memang setiap orang membutuhkan pekerjaan. Namun upaya jangka panjang pendidikan bertujuan membentuk khalifah atau pemimpin. Itu jauh lebih penting dari sekadar mendapatkan pekerjaan dan mencari makan. Orang-orang yang berpendidikan memiliki tugas yang jauh lebih besar. Salah satunya, memimpin masyarakat atau menyebarkan manfaat bagi penduduk bumi.

Pada dasarnya dalam jangka panjang, sejalan dengan tujuan pendidikan kita, pendidikan berorientasi pada perbaikan moral. Para nabi diutus ke bumi untuk memperbaiki moral-akhlak. Jika kita perhatikan perjuangan Nabi Muhammad SAW, beliau melawan orang-orang jahil, tidak berpengetahuan, dan rasis.

Sebagian besar masyarakat Arab sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW tidak memahami aturan alam dan kemanusiaan. Nabi diberikan peran untuk memperbaiki akhlak itu. Pada prinsipnya akhlak bertujuan memanusiakan manusia. Nabi datang membawa nilai-nilai kemanusiaan. Menanamkan berbagai ilmu pengetahuan. Sehingga pengikutnya berkewajiban menyebarkan nilai-nilai tersebut dilintas profesi ataupun kelas sosialnya.

Upaya memanusiakan manusia diawali dengan memberikan penyadaran. Kita hidup tidak semata mencari uang atau bekerja. Kita tidak hanya berkepentingan untuk bertahan hidup. Melainkan juga bertugas memahami aspek perjuangan. Setiap orang dituntut bersikap empati terhadap lingkungannya. Makna lainnya, pelajar mampu berkhidmat pada orang-orang di sekitarnya.

Banyak orang yang terjun di bidang politik, ekonomi, dan bidang lainnya mengabaikan nilai kemanusiaan. Sebagian orang cenderung menghidupkan nilai-nilai individualisme. Padahal jika diringkas, tujuan pendidikan dan kehidupan dalam aspek praktis adalah bermanfaat kepada manusia dan menghidupkan moralitas. (*)

Editor: Ufqil Mubin

Sekilas: Ahmad Fauzi adalah mahasiswa Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mulawarman Samarinda.

4.5/5 (4 Reviews)

Tags

Tinggalkan Komentar!

avatar

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close