HeadlineHukum

Terima Telepon dari Calon Istri, Pernikahan Erik Terancam Batal

Terima Telepon dari Calon Istri, Pernikahan Erik Terancam Batal
Pelaku perampokan di BTN-PKT bersedia menerima segala resiko atas perbuatannya terhadap korban dan calon istrinya. (Ayu Salsabila/Akurasi.id)

Akurasi.id, Bontang – Muhammad Taufik Eriandi atau Erik (32), pelaku perampokan di Jalan Enggang Bontang, menyampaikan permohonan maaf kepada semua pihak yang telah dirugikan atas perbuatannya. Permintaan maaf itu teruntuk korban, keluarga, dan calon istrinya.

Erik bersedia mendapat hukuman apapun yang dijatuhkan padanya. Termasuk jika calon istrinya meninggalkannya. “Saya siap menerima konsekuensinya,” kata dia di Markas Kepolisian Resort (Mako Polres) Bontang, Kamis (18/7/19).

Baca Juga: Erik Merampok Mobil di BTN-PKT karena Terdesak Biaya Nikah

Dari hati yang paling dalam, dia berharap calon istrinya bisa memaafkannya. Kata dia, calon istrinya mendukungnya agar berhenti melakukan tindak kejahatan. Sejatinya, pada 7 Agustus 2019, dia akan melangsungkan pernikahan dengan pacarnya di Kecamatan Babulu Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).

“Kemarin sempat komunikasi lewat telepon. Dia (calon istri) sempat syok,” ungkapnya.

Sebelumnya dia mengaku dicari polisi di rumah calon mertuanya di PPU. “Jadi seharusnya dia sudah tahu kasus yang saya alami. Mudah-mudahan saya bisa dimaafkan,” kata Erik dengan suara serak seperti menahan tangis.

Dia juga meminta maaf kepada Bela Indi Sulistyo. Korban yang telah dirampok dan dianiayanya. Erik mengaku telah melancarkan aksinya seorang diri dan menyesali perbuatannya.

“Saya minta maaf pada korban dan keluarga korban, serta minta maaf kepada warga Bontang karena sudah membuat resah. Juga keluarga dan semua pihak yang saya rugikan,” ucapnya.

Erik mengucapkan terima kasih kepada aparat kepolisian yang telah memperlakukannya dengan baik. Dia mengaku perbuatannya salah dan tak patut dicontoh orang lain. “Saya khilaf. Sampai berbuat yang tidak baik,” imbuhnya.

Kasubag Humas Polres Bontang, Iptu Suyono, mengatakan, tersangka tindak pidana pencurian dengan kekerasan itu diduga melanggar Pasal 365 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dengan ancaman 15 tahun penjara.

“Tetapi karena tersangka menyerahkan diri dan mengakui perbuatannya, biasanya vonis hakim akan lebih ringan. Sebab tersangka murni kepepet ekonomi,” ujarnya. (*)

Penulis: Ayu
Editor: Ufqil Mubin

Tags
Show More

Tinggalkan Komentar!

avatar

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close