HeadlineTrending

Biaya Umrah Naik, PCR dan Karantina Tak Ditanggung

Biaya Umrah Naik, PCR dan Karantina Tak Ditanggung
Biaya umrah diperkirakan naik 15-25 persen. Namun, kenaikan biaya umrah tidak mencakup tes PCR dan karantina jemaah. (AP/Hogp).

Akurasi.id — Arab Saudi mengizinkan calon jemaah umrah asal Indonesia beribadah ke tanah suci. Namun, biaya umrah naik diperkirakan mencapai 15 persen sampai 25 persen karena kebijakan baru di tengah pandemi covid-19. Sayangnya, kenaikan biaya umrah itu di luar kewajiban calon jemaah untuk melakukan tes PCR dan karantina yang diberlakukan, baik di bandara kedatangan maupun di bandara keberangkatan.

“(Kenaikan biaya) di luar PCR dan karantina,” kata Ketua Umum Serikat Penyelenggara Umrah Haji Indonesia (Sapuhi) Syam Resfiadi dilansir dari CNNIndonesia.com, Rabu (13/10/2021).

Tetapi, nantinya pihak agen perjalanan akan memfasilitasi informasi terkait tes PCR dan karantina yang bisa diambil oleh calon jemaah. Kondisi biaya umrah naik sendiri digunakan untuk menunjang beberapa aktivitas jemaah selama beribadah di tengah pandemi covid-19.

Antara lain, kamar jemaah yang hanya boleh diisi dua orang, bus perjalanan dengan kapasitas maksimal 50 persen dari total penumpang, termasuk kenaikan harga tiket penerbangan. Kebijakan ini tentu akan mempengaruhi jumlah jemaah yang akan berangkat ke tanah suci. Pun demikian, Syam optimistis jumlah jemaah akan meningkat secara perlahan.

Sebelumnya, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi melalui nota diplomatik Kedutaan Besar secara resmi mengizinkan pelaksanaan ibadah umrah bagi jemaah Indonesia. Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi menyampaikan izin tersebut diberikan setelah Indonesia berhasil menekan laju perkembangan covid-19 yang mulai membaik.

Biro Perjalanan Siapkan Paket Umrah Era Pandemi

Pelaku usaha biro perjalanan mulai mempersiapkan paket umrah menyusul dibukanya kembali pintu Arab Saudi untuk jemaat asal Indonesia. Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyampaikan keputusan Pemerintah Arab Saudi untuk membuka pintu bagi jamaah haji dan umrah asal Indonesia pada Sabtu (9/10) lalu.

Baca Juga  Kronologi Insiden Susur Sungai Ciamis, Berawal dari Pramuka

Ketua Umum Serikat Penyelenggara Umrah Haji Indonesia (SAPUHI) Syam Resfiadi mengatakan agen travel di bawah naungannya tengah mempersiapkan diri untuk memulai kembali usahanya, bahkan sebelum Retno mengumumkan hal tersebut.

“Tentunya kami sebagai penyelenggara harus siap dengan persiapannya seperti brosur, harga paket, dan sebagainya,” kata Syam kepada CNNIndonesia.com, Senin (11/10).

Sesuai dengan Surat Edaran (SE) Kementerian Agama tentang Persiapan Penyelenggaraan Ibadah Umrah 1443 H pihaknya akan memprioritaskan jamaah yang telah membayar biaya umrah. Selain itu, penyelenggara umrah diminta untuk mendata calon jamaah yang sudah dan belum divaksinasi agar dilaporkan ke Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah.

Baca Juga  Wacana Nama Jalan Ataturk di DKI Berujung Protes, Begini Kronologisnya

Biro perjalanan umrah dan haji menyambut baik kebijakan ini sebab selama pandemi banyak usaha sejenis yang dialihtangankan, dijual, bahkan bangkrut Ia mengaku banyak pengusaha yang mengalihkan fokus usahanya menjadi bisnis lain. Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Usaha lain ada jual madu, kurma, kain kafan, menjual mobil dan motor second, beternak ayam, berkebun, impor dan ekspor, membuka restoran, cafe, dan sebagainya,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia meyakini usaha travel umrah dan haji akan bangkit secara perlahan. Namun, setiap perusahaan harus menghitung dengan cermat arus keuangannya. (*)

Editor: Redaksi Akurasi.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Artikel Terkait

Back to top button
Enable Notifications    OK No thanks