HeadlineTrending

Fenomena Air Bangai di Sungai Mahakam, Ribuan Ikan dan Udang Mabuk Diburu Warga di Tepi Sungai

Fenomena Air Bangai di Sungai Mahakam, Ribuan Ikan dan Udang Mabuk Diburu Warga di Tepi Sungai
Warga Samarinda menunjukan ikan hasil tangkapan mereka di Sungai Mahakam. (Muhammad Budi Kurniawan/Akurasi.id)

Fenomena Air Bangai di Sungai Mahakam, Ribuan Ikan dan Udang Mabuk Diburu Warga di Tepi Sungai. Warga Samarinda yang mengetahui fenomena perubahan air di Sungai Mahakam itu, lantas berbondong-bondong memburu ikan dan udang yang ada di sepanjang tepi Sungai Mahakam.

Akurasi.id, Samarinda – Fenomena alam berupa surutnya air sungai yang terjadi di perairan Sungai Mahakam atau biasa disebut air bangai, dimanfaatkan puluhan warga untuk menangkap ikan dan udang galah dengan hanya bermodalkan tanggukkan (jaring).

Kondisi itu pun lantas dimanfaatkan masyarakat untuk berburu ikan dan udang di sepanjang Tepian Mahakam. Satu persatu warga menyerokan jaringannya ke bagian sela-sela tepi turap, untuk menangkap ikan atau udang yang hendak keluar sisi sungai.

Salah seorang warga Samarinda bernama Etoy (30) mengaku telah berhasil menangkap ikan dan udang sebanyak 8 kilo. “Dari subuh, jam dua sampai jam lima sudah dapat udang galah 5 kilo. Ini lanjut lagi dari jam satu siang sampai jam 3 sore, dapat ikan patin dan udang galah 8 kilo,” jelas Etoy saat temui di tepi Sungai Mahakam, Jalan RE Martadinata, Selasa (8/6/2021).

Etoy mengaku, dirinya mengetahui adanya fenomena air bangai dari media sosial. Mengetahui hal itu, ia pun mengajak rekan-rekannya untuk pergi menangkap ikan dan udang yang tengah mabuk di pinggir Sungai Mahakam, tepatnya di depan kantor Kegubernuran Kaltim. “Kapan lagi bisa tangkap ikan dan udang dengan mudah begini,” ucapnya.

Selain itu, Ketua Forum Daerah Aliran Sungai Kaltim, Mislan mengatakan, terjadinya air bangai disebabkan adanya perpindahan air rawa ke sungai, dan biasanya terjadi setelah adanya banjir di wilayah hulu yang memiliki banyak daerah rawa-rawa atau dataran rendah.

“Saat air rawa itu ke sungai, gulma seperti enceg gondonk, pampai, dan rerumputan yang terbawa ke Sungai Mahakam, itu mengalami pembusukan dan mengakibatkan Dissolved Oxygen (DO) atau kadar oksigen di sungai berkurang dan menyebabkan ikan dan satwa lainnya mabuk hingga mati,” jelas Mislan.

Baca Juga  Lupa Ingatan Usai Bunuh Istri dan Anak, Polisi Kesulitan Ungkap Motif Pembunuhan
Fenomena Air Bangai di Sungai Mahakam, Ribuan Ikan dan Udang Mabuk Diburu Warga di Tepi Sungai
Warga berbondong-bondong menangkap ikan di tepi Sungai Mahakam. (Muhammad Budi Kurniawan/Akurasi.id)

Selain diakibatkan air rawa yang masuk, biasanya air bangai juga bisa disebabkan perubahan temperatur air yang drastis, yang diakibatkan oleh suhu udara yang panas cukup lama dan dilanjutkan dengan hujan lebat yang cukup lama. Karena kedalaman air meningkat, maka akan membuat tumbuh-tumbuhan berukuran rendah yang berada di tepian sungai tenggelam dan mati, selanjutnya terjadi pembusukan.

“Mestinya DO yang dibutuhkan ikan sungai yang ada di tepi Mahakam maksimal 4, contohnya ikan mas, patin, dan udang galah, itu sebabnya hanya ikan itu saja yang mabuk, karena ikan tersebut membutuhkan DO di atas 4,” ungkapnya.

“Berbanding terbalik dengan ikan-ikan yang hidup di rawa, seperti ikan lele, tomang, dan haruan yang bisa bertahan walaupun kadar DO-nya di bawah 4,” tambahnya.

Baca Juga  Palsukan Data Royalti, Direktur Perusahaan Batu Bara Diciduk Kejati Kaltim

Sampai kapan air bangai berakhir, Mislan menyebut tidak dapat memastikan. Sebab air bangai dapat hilang jika pencampuran air rawa dan sungai ini terbawa ke laut. “Ya, tunggu sampai terbuang ke laut, atau hujan turun, karena pengaruh air hujan dapat meningkatkan kadar oksigen di sungai,” tandasnya. (*)

Penulis: Muhammad Budi Kurniawan
Editor: Dirhanuddin

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Artikel Terkait

Back to top button
Enable Notifications    OK No thanks