Trending

Pengusaha Kian “Sesak Nafas” Hadapi Pandemi Tiada Akhir, Aturan Berjilid Perlahan Mencekik

Pengusaha Kian “Sesak Nafas” Hadapi Pandemi Tiada Akhir, Aturan Berjilid Perlahan Mencekik
Pemberlakuan aturan PPKM yang berjilid-jilid membuat banyak pelaku usaha seperti kafe dibuat sesak napas. (Ilustrasi)

Pengusaha Kian “Sesak Nafas” Hadapi Pandemi Tiada Akhir, Aturan Berjilid Perlahan Mencekik. Pengetatan aturan yang seolah tiada berkesudahan, memaksa pelaku usaha mutar otak demi menghindari usaha gulung tikar. Misalnya memangkas gaji hingga karyawan. Kondisi itu membuat pengusaha kian “sesak nafas”.

Akurasi.id, Samarinda – Terjangan pandemi yang sejatinya dimulai pada 2020 lalu, kini memasuki babak baru. Disaat seluruh elemen tengah mencoba memulihkan diri, lantaran kasus Covid-19 sempat landai, dipaksa harus kembali merasakan terjangan kasus yang lebih dahsyat.

Imbasnya membuat seluruh sektor tedampak, makin keras berjuang bahkan ada yang memilih untuk mengalah dan gulung tikar. Seperti yang dirasakan Andri, salah satu pemilik kafe di Samarinda. Ia mengungkapkan sulit mempertahankan usaha di tengah pandemi. Terlebih dengan adanya perpanjangan PPKM Level IV ini.

Memang sejatinya kafe-kafe di Samarinda masih diizinkan buka dengan aturan pengurangan jumlah pengunjung hingga 50 persen. Ditambah dengan aturan prokes ketat dan jam malam hingga pukul 21.00 Wita. Namun, hal ini tentu saja mengurangi pendapatan bisnis yang komoditas utamanya sebagai tempat santai masyarakat pada malam hari.

“Pada siang hari biasanya orang-orang itu kan bekerja. Nah, malam harinya baru ramai. Karena waktunya mereka santai sambil ketemu teman-teman atau rekan kerja,” terangnya.

Ia mengaku, selama pandemi pendapatan kafenya berkurang hingga 50 persen. Lantaran pengunjung berkurang. Untuk itu ia pun harus memangkas gaji karyawan hingga setengahnya. “Jadi dampaknya tidak hanya di kami pelaku usaha. Namun juga karyawan turut terdampak,” ucapnya.

Kendati demikian, ia masih bersyukur lantaran usaha yang dimulainya sejak 2 tahun lalu itu, masih mampu bertahan di tengah gempuran ketidakpastian pandemi saat ini. Tidak seperti usaha lainnya yang mengalami kerugian hingga 90 persen bahkan terpaksa harus gulung tikar. “Banyak loh kafe-kafe yang bahkan memutuskan untuk tutup,” ujarnya.

Sementara itu, Viko salah satu pekerja swasta di Kota Tepian merasa santai dengan pemberlakuan PPKM Level IV yang kini kembali diperpanjang. Ia hanya menganggap ini salah satu pemberlakukan kebijakan lanjutan pemerintah. Namun, yang membuatnya tidak nyaman dengan adanya PPKM ini, dikarenakan banyaknya pembatasan-pembatasan. Seperti mal yang hampir rata-rata seperti bangunan mati. Lantaran sepi tak ada pengunjung.

Baca Juga  Kabar Baik !! Arab Saudi Buka Pintu bagi Jamaah Indonesia, Kemenag Bontang Tunggu Regulasi

Toko-tokonya pun banyak tutup. Hanya diramaikan dengan adanya beberapa restoran dan pusat perbelanjaan. Kemudian aturan pembukaan kafe atau tempat makan. “Bahkan banyak meme-nya, buka kafe terasa seperti buka booking order (BO), takut digrebek,” ujarnya.

Ia pun merasa prihatin dengan apa yang terjadi kepada masyarakat saat ini. Kemudian, berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah daerah untuk lebih memperhatikan masyarakatnya yang mengalami kesulitan perekonomian.

Baca Juga  125 Pegawai BPN Terlibat Mafia Tanah

“Ya harapannya semoga bantuan-bantuan yang diberikan berupa bansos tepat sasaran. Karena kenyataannya masih banyak masyarakat yang tidak merasakan bantuan itu,” pungkasnya. (*)

Penulis: Devi Nila Sari
Editor: Dirhanuddin

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Artikel Terkait

Back to top button
Enable Notifications    OK No thanks