Trending

Secarik Kisah Wartawan Menjalani Isolasi Mandiri, Dikala Canda Tawa Beralih Jadi Kesepian

Secarik Kisah Wartawan Menjalani Isolasi Mandiri, Dikala Canda Tawa Beralih Jadi Kesepian
Ismail yang merupakan seorang wartawan harus menjalani hari-hari di ruang isolasi Rusunawa Guntung, Bontang. (Dok Pribadi Ismail)

Secarik Kisah Wartawan Menjalani Isolasi Mandiri, Dikala Canda Tawa Beralih Jadi Kesepian. Bagaimana tidak, setiap harinya dia harus menyaksikan dan mendengar pasien lain yang berteriak merancu menahan sesak. Berjuang antara hidup dan mati melawan Covid-19.

Akurasi.id, Bontang – Setiap batuk dada Ismail terasa sesak. Nafasnya juga tersengal-sengal. Wajah pria 29 tahun itu pucat pasi. Kedua bola matanya tampak memerah. Suhu tubuhnya juga di atas 37 derajat. Sudah dua hari belakangan Ismail merasakan demam.

Benak Ismail tiba-tiba dicekam ketakutan. Rasa khawatir kian menggunung di dadanya. Selasa, 27 Juli 2021, Ismail memberanikan diri melakukan tes antigen di salah satu fasilitas kesehatan yang ada di Bontang.

Setelah beberapa saat menunggu, sekira pukul 13.00 Wita, handphone Ismail berdering. Pesan singkat dari kontak fasilitas kesehatan seketika membuyarkan lamunannya. Kaget bukan main, pria itu menerima kabar bahwa dirinya dinyatakan positif terpapar Covid-19.

Meski kondisinya terbilang tidak terlalu parah, Ismail tetap diharuskan melakukan isolasi mandiri. Dia bercerita, awal-awal sebelum dirinya di swab antigen, sempat merasakan anosmia (kehilangan indra penciuman dan pengecap).

“Sebelum di swab itu, saya juga sempat merasakan gejala lain seperti demam dan flu. Itu berlangsung dua hari,” kata Ismail, kepada Akurasi.id melalui sambungan telepon, Kamis (29/7/2021).

Menjelang sore, setelah berbincang dengan keluarganya. Ismail memutuskan untuk isolasi mandiri di Rusunawa Guntung, Bontang. Segalanya sudah dipersiapkan, mulai dari pakaian dan alat mandi. Pria berkulit putih itu mengendarai motor seorang diri menuju tempat isolasi.

Pekerjaan sebagai kuli tinta atau wartawan pun harus ia tanggalkan. Dirinya juga harus berpisah dari ayah, ibu, dan adiknya untuk sementara waktu. “Saya memilih isolasi di sana (Rusunawa) agar orang tua tidak terpapar,” ujarnya.

Kamar bernomor 221, yang berada di lantai dua Rusunawa menjadi tempat peristirahatan sementara. Ruangan berukuran 3×4 itu memiliki fasilitas cukup memadai. Terdapat dua bed tempat tidur, kipas angin, lemari, kursi, meja, serta kamar mandi di dalamnya.

Baca Juga  12 Perusahaan Properti China Gagal Bayar Utang sampai US$3 Miliar

Selama isolasi, aktivitas gerakannya terbatas hanya di ruangan itu. Dia juga tak boleh dibesuk kerabat maupun sahabat. Keluarga boleh membawakan makanan atau pakaian dengan cara dititipkan di penjagaan yang ada di depan Rusunawa. Setelah itu, perawat yang akan mengantarkan ke ruangan Ismail.

Hari demi hari Ismail lalui di ruang isolasi. Kesepian perlahan melumat hidupnya bulat-bulat. Dia tak tahu lagi bagaimana melarung kesepian dalam kesendirian yang begitu pekat di lubuk hatinya. Tak ada teman yang benar-benar bisa membantunya dalam hal ini.

Tak ada tempat lain yang bisa dia jajaki untuk mengusir kesepiannya. Dirinya terpaksa mengakrabi dinding kamar pengap itu dengan beberapa obat-obatan yang tertumpuk di sudut ruangan. “Untuk mengusir rasa jenuh, saya memilih main game. Kadang juga saya vidio call sama teman atau keluarga,” ucapnya.

Baca Juga  RI Punya Utang Tersembunyi dari China Rp 245 Triliun

Ismail bilang, selama isolasi, mental harus benar-benar dipersiapkan. Bagaimana tidak, setiap harinya dia harus menyaksikan dan mendengar pasien lain yang berteriak merancu menahan sesak. Berjuang antara hidup dan mati melawan Covid-19.

Hari ini, Kamis (29/7/2021), tepat tiga hari Ismail diisolasi. Mendengar suara batuk yang menggelegar dari ruangan sebelah sudah menjadi santapan sejak pertama kali dirinya diisolasi. Kata dia, beberapa pasien yang terbilang lanjut usia dan memiliki riwayat penyakit, harus dibantu oksigen.

“Kalau mental tidak kuat bisa down. Makanya ketika masuk ruang isolasi kita harus fokus untuk pemulihan diri,” jelasnya.

Ismail mengaku, selama terpapar Covid-19, dia banyak berdoa kepada Tuhan. Selain itu, dia juga harus mengkonsumsi 6 jenis obat-obatan, dan vitamin. “Alhamdulillah pelayanan di sini sangat baik. Selain diberi obat, saya juga dapat makan tiga kali sehari,” akunya.

Baca Juga  Kecelakaan di Tol Cipularang, Direktur Indomaret Meninggal

Menurut dia, peran keluarga serta sahabat sangat membantu dalam proses penyembuhan. Candaan yang kerap teman-temannya lontarkan melalui vidio call menjadi motivasi dan semangat baginya. Terbukti, hari ketiga ini kondisinya sudah mulai membaik. Nafasnya sudah mulai longgar.

“Kondisi saya sudah mulai membaik, kalau tidak ada gejala lagi, 7 hari ke depan saya sudah bisa kembali ke rumah,” ucapnya memberikan keyakinan pada dirinya sembari berbagi cerita atau kisah wartawan menjalani isolasi mandiri. (*)

Penulis: Fajri Sunaryo
Editor: Dirhanuddin

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Artikel Terkait

Back to top button
Enable Notifications    OK No thanks