Catatan

Utopia Demokrasi Melibas Prostitusi

Utopia Demokrasi Melibas Prostitusi
Retno Furi Handayani, A.Md(Dok Pribadi)

Ditulis Oleh: Retno Furi Handayani, A.Md

15 Februari 2019

Awal 2019 ini dibuka dengan berita yang cukup mengejutkan dan membuat miris. Pemberitaan tentang kasus prostitusi online yang melibatkan dua public figure. Sampai sekarang kasus ini masih terus bergulir dan menarik untuk didalami dan ditelaah.

Tidak menutup kemungkinan masih banyak kasus serupa yang belum terungkap. Hal ini ditegaskan Direktur Kriminal Khusus Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur, Kombes Pol. Ahmad Yusep Gunawan. Dia mengungkapkan, kedua tersangka sudah terbiasa mempromosikan artis dan selebgram melalui akun instagramnya. Khususnya terkait jasa layanan prostitusi.

Yusep menduga, banyak artis dan selebgram yang terlibat prostitusi online. Permasalahan ini layaknya fenomena gunung es. Yang terungkap jauh lebih sedikit dari yang sebenarnya terjadi. Mungkin ini bukan kali pertama masyarakat mendengar figur publik yang tertangkap sedang berkencan dengan lelaki hidung belang.

Dalam sistem yang bukan berdasar sistem Islam, fenomena tersebut sangat mungkin terjadi. Hal ini dikarenakan tidak ada aturan yang tegas mengatur interaksi antara pria dan wanita. Semua disandarkan atas nama hak asasi manusia. Negara kehilangan peran dalam mengatur interaksi antar manusia.

Negara juga abai dengan pengaturan interaksi lawan jenis tersebut. Negara memisahkan antara aturan Islam dengan kehidupan sehari-hari. Akan menjadi sebuah utopia jika berharap kemaksiatan akan hilang dalam sistem sekuler yang berlaku sekarang.

Dalam kasus ini, yang paling dirugikan adalah kaum wanita. Mereka hanya dijadikan objek seksualitas semata. Tanpa mendapat perlindungan. Wanita hanya dinilai dengan nominal bukan dengan memuliakannya. Harga dirinya hanya dihargai senilai rupiah.

Pengaturan Islam Terhadap Kehidupan Pria dan Wanita

Manusia secara fitrahnya dianugerahi naluri (ghariizah) melestarikan keturunan. Islam mengatur hal tersebut dengan memerintahkan para wanita menutup aurat secara syar’i. Para lelaki dituntut menundukkan pandangan atas wanita yang bukan mahramnya.

Dalam interaksi sosial, Islam telah mengaturnya. Pria dan wanita harus terpisah dalam berinteraksi. Tidak membolehkan khalwat atau menyendiri dengan seorang wanita yang bukan mahram.

Rasulullah Saw bersabda: “Janganlah seorang laki-laki itu ber-khalwat dengan seorang wanita kecuali ada mahram yang menyertai wanita tersebut.” (HR. Bukhari & Muslim)

Islam melarang ikhtilat. Yaitu bercampur baurnya antara lelaki dan wanita tanpa ada unsur syar’i. Diperbolehkan interaksi hanya di tempat-tempat umum. Misalnya dalam interaksi perdagangan, pendidikan, dan kesehatan.

Dalam menyalurkan nalurinya, manusia diberikan solusi melalui pernikahan. Hal ini bertujuan memuliakan wanita. Segala tanggung jawab atasnya akan dibebankan kepada lelaki yang menikahinya. Nilai pengabdian wanita bukan hanya diukur dengan nominal namun dinilai dengan pahala dan surga.

Poligami termasuk solusi untuk melindungi martabat wanita. Hak-hak mereka akan terlindungi. Juga sebagai solusi agar terhindar dari perselingkuhan dan zina.

Agama Islam sangat lengkap mengatur kehidupan manusia. Tidak ada aturan yang diragukan sedikit pun. Karena aturan ini bersumber dari Sang Pencipta. Lantas masihkah kita enggan menerapkan aturan Islam dalam kehidupan kita sehari-hari, baik secara individu maupun masyarakat? Dengan diterapkannya Islam dalam kehidupan akan menghindarkan kita dari kerusakan dan memberikan berkah baik di langit maupun di bumi.

Allah Swt berfirman: “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami). Maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 96)

Editor: Ufqil Mubin

Sekilas: Retno Furi Handayani, A.Md adalah seorang ibu rumah tangga.

5/5 (1 Review)

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar!

avatar
Back to top button
Close
Close