Hard NewsHeadlineKesehatan

Viral Inses Kakak Beradik di Kutim, Begini Penjelasan Ahli Terkait Bahaya Perkawinan Sedarah

Perilaku inses, selain dilarang agama juga tidak dianjurkan karena tidak baik secara kesehatan, terutama pada keturunan. (Ilustrasi)

Akurasi.id, Sangatta – Terungkapnya kasus inses atau hubungan seksual sedarah yang dilakukan Melati (19) dan TA (23), dua kakak beradik di Desa Singa Gembara, Sangatta Utara, Kutai Timur (Kutim), membuat geger masyarakat setempat. Kasus seksual menyimpang itu turut menarik perhatian Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat.

Baca Juga: Begini Pengakuan Kakak yang Melakukan Hubungan Sedarah dengan Adiknya hingga Hamil 5 Bulan

Kepada media ini, Ketua MUI Kutim Muhammad Adam mengutarakan pendapatnya atas kasus tersebut. Menurut dia, apapun alasannya, pernikahan sedarah harus dihindari. Bahkan pernikahan sedarah ini dilarang oleh agama dan kesehatan.

“Tentu itu adalah sesuatu yang harus kita hindari ya. Karena baik secara agama dan kesehatan sesuatu yang harus dihindari sama sekali,” katanya, Jumat (11/10/19).

Mewakili masyarakat dan sebagai tokoh agama, MUI Kutim mengecam keras atas tindakan inses yang melanggar norma-norma agama dan adat istiadat.

“Namanya manusia itu hidup ada aturannya, sama orang lain saja kalau tak ada hubungan perkawinan itu berzina dan ini jelas melanggar norma agama dan adat,” terangnya.

Peristiwa hubungan sedarah yang terjadi di lingkungan rumah, menunjukkan bahwa kepedulian dan kewaspadaan masyarakat harus lebih ditingkatkan. Adam menilai perlindungan terpadu berbasis masyarakat menjadi kunci bagi pencegahan dan perlindungan perempuan dan anak.

“Apabila anaknya sudah mendekati akil balig, maka memisahkan tempat tidurnya (anak laki-laki dengan anak laki-laki, perempuan dengan perempuan) sehingga terhindar dari perbuatan yang tidak diinginkan,” jelasnya.

Dapat Merusak Garis Keturunan

Dari sisi kesehatan, perilaku inses atau hubungan seksual sedarah pun sejalan dengan larangan agama. Seperti dijelaskan Dokter Spesialis Kandungan RS Amalia Bontang dr Fakhruzzabadi SpOG, anak dari pernikahan sedarah berisiko tinggi lahir cacat.

Dia menerangkan, perkawinan sedarah adalah sistem perkawinan antar dua individu yang terkait erat secara genetik atau garis keluarga, di mana kedua individu yang terlibat dalam perkawinan ini membawa alel atau gen yang berasal dari satu nenek moyang.

“Dunia medis tidak menganjurkan terjadinya perkawinan sedarah. Ini berkaitan dengan ditakutkan gen-gen yang jelek malah ketemu di tubuh si bayi,” tulis dia melalui WhatshApp kepada Akurasi.id, Jumat (11/10/19).

Menurutnya, inses dianggap sebagai masalah kemanusiaan karena praktik ini membuka kesempatan yang lebih besar bagi keturunannya untuk menerima alel resesif merusak yang dinyatakan secara fenotip.

Fenotip merupakan deskripsi karakteristik fisik yang sebenarnya termasuk karakteristik yang tampak sepele, seperti tinggi badan dan warna mata, juga kesehatan tubuh secara keseluruhan, riwayat penyakit, perilaku, serta watak dan sifat umum.

Singkatnya, seorang keturunan dari perkawinan sedarah akan memiliki keragaman genetik yang sangat minim dalam DNA-nya karena DNA turunan dari ayah dan ibunya adalah mirip.

“Kurangnya variasi dalam DNA dapat berdampak buruk bagi kesehatan, termasuk peluang mendapatkan penyakit genetik langka, seperti albinisme, fibrosis sistik, hemofilia, dan sebagainya,” terangnya.

Dapat Berakibat Cacat Pada Keturunan

Efek lain dari perkawinan sedarah termasuk peningkatan infertilitas (pada orangtua dan keturunannya), cacat lahir seperti asimetris wajah, bibir sumbing, atau kekerdilan tubuh saat dewasa, gangguan jantung, beberapa tipe kanker, berat badan lahir rendah, tingkat pertumbuhan lambat, dan kematian neonatal.

Pria yang karib disapa Badi ini menguraikan, semakin dekat hubungan suatu pasangan, seperti ayah dan anak atau saudara kandung maka semakin besar risiko kerusakan genetik janin.

Akan tetapi, orang-orang yang memiliki satu gen rusak masih dapat mewarisi gen tersebut pada keturunannya nanti yang disebut ‘carrier’, karena mereka membawa salinan tunggal namun tidak memiliki penyakit tersebut.

“Di sinilah masalah akan mulai timbul bagi keturunan inses. Bila seorang wanita adalah carrier gen rusak, maka ia memiliki 50 persen peluang untuk menurunkan gen ini ke anaknya,” jelasnya.

Bisa Terjadi Kerusakan Gen Pada Keturunan

Pada kasus inses, besar kemungkinannya pasangan (yang merupakan kakak atau adik) membawa jenis gen rusak yang sama, karena diturunkan dari orangtua yang sama.

Suatu pasangan masing-masing memiliki 50 persen peluang untuk mewariskan gen rusak pada anak, sehingga nanti keturunan memiliki 25 persen peluang memiliki albinisme.

Memang, tidak semua orang yang memiliki albinisme (atau penyakit langka lainnya) yang merupakan hasil dari perkawinan sedarah. Tetapi setiap orang memiliki lima atau sepuluh gen rusak yang bersembunyi di DNA.

Dengan kata lain, takdir juga memainkan peran saat memilih pasangan, apakah mereka akan membawa gen yang rusak atau tidak. Namun untuk kasus inses, risiko berdua membawa gen rusak menjadi sangat tinggi.

Setiap keluarga kemungkinan besar memiliki gen penyakit tersendiri (misalnya diabetes), dan perkawinan sedarah adalah kesempatan bagi dua orang carrier dari gen rusak untuk mewarisi dua salinan gen yang rusak kepada anak-anaknya.

“Pada akhirnya, keturunan mereka dapat memiliki penyakit tersebut,” sebut Badi.

Saat terlibat dalam perkawinan sedarah dan memiliki keturunan dari hubungan tersebut, anak-anak akan memiliki rantai DNA yang tidak variatif. “Yang artinya, anak-anak hasil hubungan inses memiliki alel MHC yang sedikit jumlahnya atau keragamannya,” tutur dia.

Memiliki alel MHC yang terbatas akan membuat tubuh kesulitan mendeteksi beragam material asing, sehingga individu tersebut akan lebih cepat jatuh sakit karena sistem imun tubuhnya tidak dapat bekerja optimal untuk memerangi beragam jenis penyakit. (*)

Editor: Yusuf Arafah

Tags
Show More

Tinggalkan Komentar!

avatar

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close