Hard NewsHeadline

Waspadai Efek Domino Ekonomi Global, Kaltim Mesti Berbenah dari Pertambangan

Kepala Perwakilan BI Kaltim Tutuk SH Cahyono mendorong pemerintah mengembangkan ekonomi alternatif di luar sektor pertambangan batu bara. (Yusuf Arafah/Akurasi.id)

Akurasi.id, Samarinda – Pertumbuhan ekonomi Kaltim dalam beberapa bulan terakhir terbilang cukup positif. Pada triwulan II 2019, pertumbuhan ekonomi Kaltim tercatat sebesar 5,43 persen. Walau angka itu sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumya 5,46 persen. Namun hal itu tidak boleh lantas membuat Kaltim berpangku tangan. Ekspor batu bara yang senantiasa mengalami kontraksi sedianya diwaspadai dapat berefek dominasi bagi ekonomi Kaltim.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kaltim Tutuk SH Cahyono menuturkan, ekonomi global yang sedang melambat, sangat memegaruhi pertumbuhan ekonomi nasional maupun Kaltim. Karena sejauh ini, pertumbuhan ekonomi Kaltim masih ditopang penuh dari sektor pertambangan batu bara serta minyak dan gas (migas).

Meski relatif mengalami penurunan, ekspor hasil pertambangan yang begitu kuat masih sangat mendominasi pertumbuhan ekonomi Kaltim dalam beberapa tahun terakhir. Begitu juga dengan ekspor non migas masih dirasakan cukup kuat, walau pertumbuhannya sedikit melambat.

“Harga jual batu bara juga mengalami tren penurunan. Kalau untuk inflasi, dalam beberapa bulan terakhir juga mengalami tren penurunan,” ungkap Tutuk pada acara konferensi pers di kantor BI Kaltim, Jalan Gajah Mada, Samarinda, Senin (3/9/19).

Walau akselerasi usaha industri pengolahan terus mengalami perbaikan, terutama setelah beroperasinya Kilang Minyak Balikpapan dan industri pengolahan non migas seperti kelapa sawit (CPO) juga menunjukan tren serupa dengan adanya penggunaan B20 dan pengembangan B30, namun hal itu tidak boleh membuat pemerintah berseru diri.

Karena laju pertumbuhan ekonomi Kaltim pada triwulan II 2019 tertahan oleh melambatnya kinerja usaha konstruksi dan pertanian. Pembangunan proyek berskala besar (tahun jamak) yang telah memasuki tahap akhir berdampak pada aktivitas konstruksi yang tidak setinggi medio sebelumnya.

“Sementara untuk usaha pertanian, terdampak siklus el nino yang melanda sebagian besar wilayah Kaltim pada April 2019. Akibatnya, cuaca menjadi lebih panas dan kering, sehingga kurang mendukung kinerja pertanian, utamanya sektor perkebunan,” jelasnya.

Pangan Kaltim Masih Bergantung Hasil Impor

Hasil produksi pertanian di Kaltim yang masih cukup rendah dinilai dapat memberikan dampak negatif terhadap inflasi maupun pertumbuhan ekonomi. Apalagi Kaltim hingga saat ini masih mengandalkan impor bahan pangan dari daerah tetangga seperti dari Sulawesi atau Jawa.

Ketergantungan yang tinggi terhadap impor pangan menurut Tutuk patutnya diwaspadai Pemerintah Kaltim. Sebab jika impor pangan mengalami keterlambatan atau mengalami penurunan, baik karena stok yang terbatas maupun akibat kemarau, maka hal itu dapat memberikan tekanan terhadap harga jual pangan.

Tutuk menyarakan, Pemerintah Kaltim ada baiknya mulai menguatkan produksi pangan di tanah Benua Etam –sebutan Kaltim. Mulai penguatan perusahaan daerah (perusda) hingga suplai pangan ke masyarakat harus diperhatikan dengan baik oleh pemerintah.

“Produk dari luar harus diwaspadai dampaknya. Misalnya, pemerintah atau masyarakat harus mulai melakukan gerakan menanam cabai di setiap rumah tanggan, sehingga bisa membantu mengurangi ketergantungan impor dari daerah lainnya,” kata dia.

Medio 2015-2018 dapat menjadi cermin bagi pemerintah betapa makanan atau pangan dapat memberikan sumbangsi terhadap inflasi Kaltim. Hal yang demikian patutnya diwaspadai pemerintah. Caranya, dapat berupa mencari alternatif ekonomi lain di luar sektor pertambangan, misalnya mendorong hilirisasi CPO, batu bara, dan migas.

“Selain itu, Kaltim memiliki potensi pariwisata yang begitu luar biasa. Begitu juga dengan potensi sosial dan budayanya. Jika bisa dikelola dan dimanfaatkan dengan baik, pariwisata dapat menjadi solusi mendongkrak ekonomi alternatif Kaltim agar menekan inflasi setiap tahun,” terangnya.

Permintaan Ekspor Batu Bara Menurun

Pada triwulan III 2019, Bank Indonesia memperkirakan ekonomi Kaltim akan tetap tumbuh positif. Hanya saja, pertumbuhannya sedikit lebih rendah bila dibandingkan pada triwulan II 2019 yang mencapai 5,43 persen.

Melambatnya ekonomi Kaltim di antaranya sebagai dampak dari permintaan eksternal (ekspor) untuk komoditas batu bara yang mulai menurun, terutama dari Pemerintah Tiongkok. Disebutkan Tutuk, Pemerintah Tiongkok mulai menerapkan restriksi impor per Juli 2019 untuk menjaga target impor batu bara sesuai target di akhir tahun 2019.

“Langkah itu juga diambil untuk mendukung penjualan batu bara domestik Tiongkok yang mulai kehilangan kompetitifnya karena harga di pasar internasional yang terus turun,” katanya.

Tahun Depan Program Hilirisasi Dimulai

Pengembangan ekonomi di luar sektor pertambangan diakui Kepala Biro (Karo) Perekonomian Pemprov Kaltim Nazrin sedianya sudah mulai dilakukan pemerintah. Misalnya dengan melakukan moratorium izin usaha pertambangan (IUP) dalam beberapa tahun terakhir.

Nazrin berujar, salah satu upaya Pemprov Kaltim mengurangi ketergantungan terhadap sumber daya alam (SDA) tidak terbarukan, yakni dengan mendorong pembangunan dan pengoperasian sejumlah pelabuhan berskala internasional, seperti Pelabuhan Kariangau Balikpapan dan Pelabuhan Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan (KEK MBTK) di Kutai Timur.

“Selain itu, pemerintah juga sedang menyiapkan pembangunan Kilang Migas Balikpapan dan Bontang. Kemudian untuk sektor perkebunan kelapa sawit, pemerintah sedang fokus melakukan hilirisasi. Pada 2020, program hilirisasi sudah dimulai,” kata dia.

Sedangkan dari sisi kegiatan ekspor, diakui dia, Kaltim sejatinya memiliki banyak potensi untuk dikirim ke luar negeri. Hanya saja, saat ini, pemerintah masih belum dapat memetakan secara baik apa yang dibutuhkan negara lain dari Indonesia. “Kaltim punya potensi besar, tinggal memetakan apa yang dibutuhkan negara lain saja,” tandasnya. (*)

Penulis: Muhammad Aris
Editor: Yusuf Arafah

5/5 (1 Review)
Tags

Tinggalkan Komentar!

avatar

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close