Corak

Yuniarti Arbain Menghidupkan RS Amalia yang Nyaris Ditutup

Yuniarti Arbain Menghidupkan RS Amalia yang Nyaris Ditutup
Yuniarti Arbain. (istimewa)

Akurasi.id, Bontang – Pada medio 2012, terbangun image di masyarakat, apabila berobat ke Rumah Sakit (RS) Amalia Bontang, maka pasien yang keluar tidak akan sembuh. Bahkan secara ekstrem, tak sedikit pasien yang meninggal dunia. Kabar ini begitu mudah tersiar dari mulut ke mulut.

Kala itu, RS Amalia hampir ditutup. Akhir tahun 2013, almarhum Haji Arbain membeli RS Amalia. Saat itu RS ini memiliki lima orang dokter. Meliputi dokter umum dan dokter kandungan.

Awal tahun 2014, RS Amalia mulai beroperasi dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Meski fasilitas kesehatannya relatif lengkap, rumah sakit ini hanya menerima lima pasien rawat inap dalam sebulan.

Selama beroperasi, RS Amalia merekrut 60 tenaga kerja. Yuniarti Arbain ditunjuk sebagai direkturnya. Ia tak lain putri bungsu Haji Arbain. Meski sepi pengunjung, penggajian karyawan tidak pernah tersendat. Sebab semua kebutuhan rumah sakit dan penggajian karyawan disokong ayahnya.

Ujian Berat

Pada April 2013, Haji Arbain berpulang ke Rahmatullah. Perempuan yang biasa disapa Yuyun ini pun terpuruk. Dia mengaku kalang kabut mengoperasikan rumah sakit sepeninggal ayahnya.

Kondisi keuangan keluarga Yuyun juga ikut jatuh. Istri dari Fakhruzzabadi ini bingung menggaji karyawannya. Ditambah hutang rumah sakit semakin menumpuk. Hutangnya mencapai Rp 17 miliar.

Hampir setiap hari Yuyun menangis. Perempuan kelahiran 7 Juni 1982 ini putus asa. Dia berencana menjual RS Amalia. Namun niatnya dicegah para karyawannya. Suami dan karyawan RS Amalia memotivasinya. Akhir tahun 2014, alumni S1 kedokteran Universitas Muslim Indonesia ini bangkit kembali.

“Mereka (para karyawan) selalu menyemangati saya. Mereka rela tidak digaji sampai RS Amalia bangkit lagi,” ucap Yuyun.

Dosen yang kini menjadi konsultan RS Amalia ini berusaha bangkit. Dia memulai lagi dari nol. Yuyun nekat turun ke pasar dan pusat perbelanjaan modern. Ia menjadi sales promotion girl (SPG) selama lima bulan untuk mempromosikan RS Amalia.

Yuyun mengincar ibu-ibu hamil di pasar. Dia kerap membagikan brosur. Dengan “menjual” nama sang suami, Yuyun mempromosikan RS Amalia yang memiliki dokter kandungan baru. Tak sedikit tatapan sinis didapatkannya lantaran citra buruk RS Amalia yang terlanjur melekat di ingatan masyarakat.

“Setiap ada ibu hamil, saya tawarkan gratis. Jika merasa cocok, periksa berikutnya baru bayar. Tapi respons mereka banyak yang kurang yakin,” kenangnya.

Tak hanya menjadi SPG, alumni SMAN 2 Bontang ini mempresentasikan rumah sakitnya ke perusahaan-perusahaan di Kota Taman. Namun pihak perusahaan kembali meragukan kualitas RS Amalia lantaran kabar miring yang telah tersebar.

Ia tak patas semangat. Dia memiliki tekad sekuat baja. Yuyun terus meyakinkan mereka hingga mendapat kepercayaan perusahaan-perusahaan untuk menjalin kerja sama.

“Ternyata ini PR besar saya yang harus diselesaikan. Masih banyak orang yang belum percaya dengan RS Amalia saat itu,” aku Yuyun.

Kata dia, dalam mengembangkan bisnis rumah sakit, dasar menjadi dokter saja tidaklah cukup. Sebab di rumah sakit tidak hanya pelayanan kesehatan. Dia juga harus menguasai ilmu manajemen ekonomi, apoteker, laundry, hingga ahli gizi.

Sadar akan hal itu, Yuyun pun melanjutkan pendidikan S2 Manajemen Rumah Sakit di Universitas Hasanuddin Makassar.

“Saya setiap Jumat berangkat kuliah. Senin balik lagi ke Bontang. Begitu terus sampai dua tahun. Alhamdulillah sudah kelar kuliahnya,” tutur Yuyun.

Butuh waktu lima tahun bagi Yuyun untuk membuat RS Amalia bangkit. Saat ini, RS tersebut memiliki karyawan, staf, dan dokter sekira 188 orang. Jika tempo dulu RS Amalia kekurangan pasien, kini jumlah pasien yang berobat sampai over load. Bagi Yuyun, hasil yang dia petik saat ini merupakan buah dari doa dan usaha yang ditempuhnya dengan sabar.

“Jangan pernah menyerah, yakin, dan percaya bahwa mampu menjalani semua ujian dan cobaan yang Allah berikan kepada kita. Jangan lupa minta doa restu kepada kedua orang tua,” imbuhnya.

Membagi Waktu untuk Keluarga

Selama menjadi wanita karir, Yuyun tak pernah melupakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Ibu dari tiga orang anak ini memiliki tugas rutin sebelum berangkat kerja. Yuyun memaparkan, setiap pagi dia harus menyiapkan keperluan tiga buah hatinya. Lalu mengantar mereka ke sekolah.

“Kalau pulang sekolah, saya jemput lagi. Tapi kalau saya tidak sempat, saya minta orang di rumah yang jemput. Kalau sudah sampai, mereka langsung video call,” bebernya.

Meski sudah bekerja di rumah sakit sebagai direktur utama, Yuyun sering mencari kesibukan lain. Kini dia memiliki usaha penyewaan baju adat Sulawesi dan berjualan jilbab dengan brand namanya sendiri.

Akibat kesibukannya, Yuyun kerap mendapat protes dari anak-anaknya. “Mereka bilang, ‘kan sudah kerja, ngapain jualan lagi’. Ya saya jelaskan kalau semua ini untuk mereka juga,” ucapnya sambil tertawa. (*)

Penulis: Suci Surya Dewi
Editor: Ufqil Mubin

5/5 (3 Reviews)
Tags

Tinggalkan Komentar!

avatar

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close