Catatan

Jejak Migrasi Etnis Tionghoa di Kalimantan

Jejak Migrasi Etnis Tionghoa di Kalimantan
Roedy Haryo Widjono AMZ (Istimewa)

Ditulis Oleh: Roedy Haryo Widjono AMZ

8 Mei 2019

Jejak migrasi etnis Tionghoa bermula dari Hainan, sebuah pulau di Laut Tiongkok Selatan yang terletak di antara Provinsi Guangzhou dan Vietnam. Hainan berasal dari kata hai (laut) dan nan (selatan). Narasi istilah itu menegaskan tentang komunitas suku bangsa yang berasal dari pulau bagian selatan. Dalam catatan sejarah, komunitas Hainan saat ini tersebar di 25 negara. Di antaranya di Amerika, Australia, Inggris, Singapura, dan Indonesia terutama di Balikpapan dan Samarinda.

Warisan tradisi Hainan menegaskan tidak ada aturan baku untuk menikah dengan suku bangsa lain. Yang terpenting adalah setia menjaga kemurnian budaya. Leluhur orang Tionghoa di Balikpapan yang bermula dari Hainan datang secara berkelompok. Mereka bermigrasi dengan menumpang kapal hingga tiba di perairan utara Kalimantan kemudian menuju Balikpapan.

Jejak migrasi gelombang pertama komunitas Tionghoa ke Kalimantan Timur bermula pada abad 19. Mereka bekerja sebagai buruh kontrak. Para pendatang dari Guang Dong adalah salah satu kelompok migran yang memilih Balikpapan sebagai tujuan dan bekerja di perusahaan minyak milik Belanda Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). Proses migrasi kala itu terjadi pada masa Kaisar Guang Xu (1871-1908). Salah satu tokoh penting dari komunitas Guang Dong yang perkumpulannya disebut Guang Zhao adalah Chen Bao Lin. Sedangkan migrasi komunitas Tionghoa di Samarinda juga berlangsung pada abad 19. Mereka berasal dari suku bangsa Kim Moy yang semula bermukim di wilayah kepulauan Provinsi Fujian hingga mereka tiba di wilayah Kalimantan dan bermukim di Balikpapan, Berau, Tenggarong, Tarakan kemudian ke Samarinda.

Gelombang migrasi kedua berlangsung sekitar 1942-1945, pada saat Jepang menguasai Tiongkok. Kala itu, komunitas suku Kim Moy di kepulauan Kinmen di tenggara Beijing mengungsi dengan jukung kayu menuju ke Selatan, yang sebagian dari kelompok migran ini memasuki wilayah Nusantara hingga tiba di Samarinda. Komunitas Tionghoa di Samarinda mayoritas berasal dari Yong Ding dan Nan Jing di Provinsi Fu Jian (Hok Kian) dengan delapan orang tokoh pendahulu yakni So Kong Kiat, Thio Yu Chu, Kang Wie Sam, Guij Ching Huij, Oeij Siang Huij, Kang Bun Kiu, Guij Kam Hian, dan Thio Long Thay. Pada 1946, mereka bersepakat mendirikan perkumpulan Yong Jing.

Komunitas Tionghoa yang lain berasal dari Provinsi Guang Dong, yang bermigrasi ke Samarinda sekitar akhir abad ke-18. Sebagian dari mereka memilih menetap di Tenggarong. Selain bekerja sebagai pedagang, sebagian lainnya bekerja di tambang batu bara. Dalam perkembangannya mereka kemudian mendirikan perkumpulan Guang Dong.

Jejak Migrasi Cina Parit

Jejak Migrasi Etnis Tionghoa di Kalimantan
Komunitas Cina Parit ini bermukim di Banjarmasin. Mereka perkembangan peradaban masyarakat setempat. (Istimewa)

Jejak sejarah migrasi komunitas Tionghoa di Banjarmasin ditandai dengan keberadaan komunitas Cina Parit yang bermukim di kawasan sungai Parit, Pelaihari, Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Sebutan Cina Parit juga ditujukan kepada pekerja imigran penambang timah yang datang dari pulau Bangka dan Belitung. Maka istilah Cina Parit dipakai secara resmi sebagai identitas komunitas Tionghoa di Kalimantan Selatan. Namun sejak semula kedatangan mereka, orang Tionghoa disebut dengan istilah ‘Urang Cina’ dalam bahasa Banjar. Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa komunitas Cina Parit yang ditempatkan di Distrik Maluka didatangkan oleh Alexander Hare, Komisioner Residen Inggris untuk Kalimantan pada 1812.

Dalam Kitab Hikayat Banjar diriwayatkan bahwa orang Tionghoa sudah datang ke Kalimantan Selatan pada abad XIV. Kronik Sejarah Cina pada masa Dinasti Ming mencatat kunjungan pedagang Tionghoa pada masa Sultan Hidayatullah. Kala itu, di Banjarmasin, komunitas Tionghoa menempati kawasan yang disebut Pacinan. Penamaan “Urang Cina” sudah lazim dipergunakan di Kalimantan dan hal itu bukanlah sebutan yang berkonotasi negatif, tetapi semata merupakan penamaan identitas etnik.

Keberadaan komunitas Cina Parit niscaya mewakili keberadaan suku Tionghoa di Kalimantan Selatan. Dalam catatan pemerintah Kolonial Hindia Belanda tahun 1895, jumlah suku Tionghoa yang terdapat di Zuider en Ooster Afdeeling van Borneo (Kalsel-Kalteng-Kaltim) berjumlah 4.525 jiwa dengan komposisi laki-laki 2.829 jiwa dan perempuan 1.996 jiwa.

Kedatangan Pedagang Cina

Dalam catatan Kronik Cina Buku 323 Sejarah Dinasti Ming (1368-1643) disebutkan tentang keberadaan Kesultanan Banjar pada masa Sultan Hidayatullah I yang menarasikan kunjungan pedagang Cina pada masa itu. Mereka berkunjung ke negeri Banjar untuk berniaga lada pada pertengahan abad XVII.

Ketika itu mereka mendapat informasi tentang kemungkinan melakukan perdagangan lada di Kesultanan Banjar oleh pedagang Portugis di Macao. Kemudian mereka datang dengan perahu jung. Kala itu, setiap tahun secara teratur datang sebanyak 4-13 jung dari pelabuhan Amoy, Kanton, Ningpo, dan Macao. Para nakhoda disambut di Kayu Tangi (Martapura) dan Tatas (Banjarmasin) oleh orang Banjar. Karena mereka membawa sejumlah barang kesukaan penduduk setempat.

Kain sutera, teh, kamper, garam, perkakas tembaga, porselen dan komoditas lain, diperniagakan dengan cara barter dengan lada, emas, sarang burung dan barang lain-lain. Intensitas kedatangan pedagang Cina kemudian membawa negeri Banjar masuk dalam lingkaran persinggahan para pedagang dari berbagai negara seperti Arab dan Gujarat. Selain itu, ada juga pedagang dari Jawa, Madura, Sulawesi, Lombok, Bali, dan Sumbawa. Mereka berkumpul untuk berniaga. Komoditas dari negeri Cina sangat menonjol peranannya. Pada permulaan abad XVIII, perdagangan jung menjadi begitu penting, sehingga Sungai Barito dikenal pula dengan sungai Cina. Sebab dipenuhi oleh jung-jung dari Cina.

Perang Inggris-Banjar

Jejak Migrasi Etnis Tionghoa di Kalimantan
Perang Inggris-Banjar menghambat laju perdagangan China di Kalimantan Selatan. Namun seiring waktu, perdagangan kembali bergeliat setelah terjadi perundingan. (Istimewa)

Pasca kekalahan Kesultanan Banjar dalam perang Inggris-Banjar pada Oktober 1701, orang-orang Cina kehilangan tempat dan hak mereka dalam perniagaan lada. Sejak saat itu, sebagian besar tindakan Sultan Banjar diatur oleh Inggris, termasuk perniagaan lada. Kemudian pemerintah Inggris mendirikan tempat pos penjagaan niaga di muara Sungai Barito. Semakin berkurangnya jung pedagang Cina yang berkunjung ke Banjar membuat pemerintah kolonial Inggris mengadakan perundingan dengan orang-orang Cina dan menjamin kemudahan pedagang Cina berniaga di Banjar.

Perniagaan kembali ramai setelah perundingan pemerintah Inggris dengan pedagang Cina. Pada 1702, dalam catatan sejarah pemerintah Inggris, disebutkan bahwa lebih mudah mendapatkan barang-barang Cina di Banjar daripada di Tiongkok. Di pelabuhan Banjar, calon pembeli dapat melihat terlebih dahulu barang yang akan dibeli. Setelah cocok, barulah transaksi dilakukan. Hal ini mustahil dilakukan di Tiongkok. Pedagang Cina kala itu juga membeli barang-barang yang ditawarkan pedagang Inggris seperti kain, tembaga, dan sebagainya.

Sebelum pendirian permukiman Inggris di Banjar, pedagang-pedagang jung Cina memperoleh barang-barang dari pedagang Belanda di Batavia. Relasi komersial antara Inggris dan pedagang Cina di Banjar berakhir sesudah pengusiran Inggris dalam perang Inggris-Banjar yang kedua pada 1707. Pasca Perang Inggris-Banjar, pedagang Cina dapat bebas kembali mengadakan transaksi dengan para pedagang lada Banjar dan Biaju. Jumlah orang-orang Cina di wilayah Kesultanan Banjar semakin besar. Mereka terdiri dari dua golongan yakni pedagang jung dan pedagang menetap.

Pedagang jung menetap sementara di Tatas atau di tempat lain di daerah Banjar. Setelah selesai berdagang dan mengisi perbekalan kapal, mereka kembali berlayar ke Kanton, Amoy atau pelabuhan lainnya di Tiongkok. Kemudian kembali ke Banjar pada musim berikutnya. Sedangkan para pedagang menetap, beberapa di antaranya membuat toko di kota atau pelabuhan, menjadi pedagang perantara antara pedagang jung dengan pedagang Banjar.

Terdapat sekitar 80 keluarga di Tatas (Banjarmasin) dan Kayu Tangi (Martapura) sebelum tahun 1708. Jumlah mereka terus bertambah menjadi sekitar 200 keluarga sesudah periode itu. Secara berangsur beberapa di antara mereka dapat berkomunikasi dalam bahasa Banjar. Mereka dengan mudah dapat berintegrasi, sehingga dapat berniaga dengan bebas. Bahkan pimpinan komunitas Cina Parit di Banjar, Kapten Lim Kom Ko, sering diutus oleh para penguasa Kesultanan Banjar (Sultan Suria Alam) untuk ikut mewakili perundingan dengan orang-orang Eropa pada 1708.

Sejak 1817, Orang Cina Parit yang tinggal di Distrik Pelaihari, Afdeeling Martapoera dipimpin Gho Hiap Seng. Sedangkan untuk Distrik Martapura, Afdeeling Martapura sejak 1898, suku Tionghoa dikepalai oleh Letnan Cina yaitu Oey Taij Poen. Di tahun yang sama komunitas Tionghoa di Banjarmasin dikepalai oleh Luitenans der Chinezen yaitu The Sin Yoe dan Ang Lim Thay. Kemudian pada 1904 komunitas ini dipimpin Kapten Thio Soen Yang. Sedangkan pada 1912, dipimpin oleh Luitenans der Chinezen Tjoe Eng Hoei dan Oe Eng An.

Jejak migrasi komunitas Tionghoa di Kalimantan setidaknya menegaskan bahwa mereka memiliki peran dalam perkembangan peradaban di Kalimantan. (*)

Editor: Ufqil Mubin

Sekilas: Roedy Haryo Widjono AMZ, Direktur Nomaden Institute Cross Cultural Studies.

0/5 (0 Reviews)
Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar!

avatar
Back to top button
Close
Close