HeadlineKuliner

Menilik Rasa dan Sejarah di Balik Makanan Khas Bontang Gami Bawis

Gami bawis telah menjadi makanan khas yang dimiliki masyarakat Bontang. (Ilustrasi)

Akurasi.id, Bontang – Jalan-jalan ke Bontang, kurang lengkap rasanya jika tidak mencicipi gami bawis. Nah, Rumah Makan si Bolang menjadi salah satu pilihan wisata kuliner untuk menikmati hidangan khas Kota Taman –sebutan Bontang.

Rumah Makan si Bolang ini sudah berdiri sejak 10 tahun lalu. Pemiliknya, Hasnah, menceritakan awal sebelum membuka warung makan, dia merupakan tengkulak yang memasok berbagai jenis ikan dan cumi-cumi hasil nelayan ke rumah makan besar dan restoran perusahaan di Bontang.

“Dalam sehari saya bisa mengirim 5 ton ke perusahaan PT Badak waktu itu,” akunya kepada Akurasi.id, belum lama ini.

Karena terkadang cumi-cumi yang Hasnah pasok memiliki sisa, di situlah tercetus ide membuka rumah makan kecil di rumahnya. Awalnya dia menjual menu biasa seperti ayam lalapan, ikan goreng, dan olahan cumi-cumi. Teringat dengan sambal gami yang menjadi makanan sehari-hari neneknya dahulu, ia pun menjual gami cumi.

Melihat banyaknya minat pengunjung dengan menu yang Hasnah jual, dia pun menambah gami bawis ke dalam daftar menunya. Rasa ikan bawis yang gurih dan manis rupanya cocok dipadu padankan dengan pedasnya sambal gami buatannya. Sejak saat itulah keuntungan yang diraup lumayan banyak. Terletak di Jalan Batu Sahasa 5, Kelurahan Bontang Kuala, Kecamatan Bontang Utara, harga gami bawisnya dibanderol Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu per porsinya.

“Kalau rame saya bisa habiskan bawis 10-15 kilogram sehari, paling sedikit 5 kilogram. Omsetnya bisa dapat Rp 5 juta lebih sehari, sepinya Rp 2 juta,” bebernya.

Pengunjung Rumah Makan si Bolang ini tak hanya dari kalangan masyarakat sekitar saja. Hasnah mengaku sering kali dia mendapat pelanggan yang berasal dari luar kota. Bahkan, ada pelanggannya yang rela menempuh perjalanan jauh dari Jakarta ke Bontang hanya untuk menikmati gami bawis.

“Awal saya jualan keluarga saja yang beli. Ada yang dari Surabaya juga. Paling jauh dari Jakarta, bela-belain ke Bontang karena pengin gami bawis,” tuturnya.

Selain gami bawis dan cumi-cumi, sambal ini juga diolah dengan varian lainnya. Seperti gami ayam, gami telur ayam, gami telur ikan, gami kerang, dan gami ikan lain seperti ikan putih dan ikan baronang. Hasnah mengklaim dirinya orang pertama di Bontang yang menjual gami bawis.

“Kalau sambal gami, dulu sudah biasa disajikan dengan lalapan ikan bakar. Jarang ada yang jual sambal gami dengan ikan di atasnya. Saya yang pertama jual gami bawis,” katanya.

Proses pembuatan gami bawis cukup mudah. Bahan-bahan yang disiapkan: 4 ekor ikan bawis, minyak goreng (setengah gelas kecil), air matang (secukupnya), cabai (sesuai selera), bawang merah (5-7 siung yang sudah diiris), terasi khas Bontang Kuala (seperempat), tomat iris (2-3 buah), garam, gula, dan micin/penyedap (sesuai selera).

Pertama, masukkan cabai, garam, micin, gula,terasi, kemudian diulek di atas cobek. Jika sudah halus, masukkan tomat lalu ulek lagi. Kemudian masukkan sedikit irisan bawang merah, lalu ulek sampai halus. Lalu sisa irisan bawang merah dimasukkan lagi tanpa ditumbuk.

Setelah itu masukkan air dan minyak ke dalam cobek serta susun ikan bawis di atas bumbu sambal tersebut. Masak gami bawis langsung dengan cobeknya di atas kompor dengan api besar. Jika air sudah menyusut, dan berwarna kemerahan, tandanya gami bawis siap disajikan.

“Memasak gami bisa dengan wajan. Tapi rasanya berbeda dibandingkan dengan dimasak di atas cobek,” terangnya.

Asal Muasal Gami Bawis

Penyajian makanan dalam keadaan masih panas menjadi keunikan tersendiri dari makanan ini.(Suci Surya Dewi/akurasi.id)

Menelisik asal muasal gami bawis ini, rupanya sudah menjadi makanan sehari-hari para pendahulu. Hasnah menyebut, para kakek dan neneknya yang mayoritas nelayan sudah sering menyajikan gami bawis sebagai sarapan dan makan malam. Bahan sambal gami yang terdiri dari bawang merah dan tomat ini disajikan sebagai pengganti sayur.

“Kalau dulu kan orang tua kalau masak yang simple saja. Jadi makan gami bawis sudah seperti makan lauk dengan sayur,” terangnya.

Gami bawis pertama kali dipopulerkan masyarakat Bontang Kuala. Istilah gami memiliki arti sambal yang sudah dikenal lama di Bontang, dan telah menjadi makanan sehari-hari masyarakat Bontang Kuala. Apalagi ketika mereka ingin pergi melaut, gami kerap menjadi perbekalan utama mereka. Selain praktis, gami nikmat dimakan dengan nasi meski tanpa lauk pauk.

“Gami ini memang sudah menjadi makanannya orang-orang Bontang Kuala sejak dahulu. Tidak untuk bawis saja, tetapi juga bisa dinikmati bersama makanan yang lain,” kata Jafar, salah satu sesepuh dan tokoh masyarakat Bontang Kuala.

Bawis Hanya Terdapat di Lautan Bontang

Selain karena rasa ikan yang manis, penyajian dengan berbagai rempah-rempah menjadi pelengkap rasa makanan gami bawis.(Suci Surya Dewi/Akurasi.id)

Sementara Bawis, merupakan jenis ikan laut yang masuk dalam kategori baronang lingkis. Ciri-cirinya, ikan ini memiliki banyak duri dan ukuran paling besar hanya seukuran telapak tangan orang dewasa. Uniknya, ikan ini dikabarkan hanya bisa ditemukan di perairan laut Bontang. Dibandingkan dengan jenis ikan yang lain, populasi ikan bawis ini lebih mendominasi ketimbang jenis ikan lainnya.

Banyaknya padang lamun di perairan laut Bontang menjadi faktor terbesar ikan ini masih mudah ditemui. Pasalnya, banyaknya lumut yang menempel di padang lamun menjadi makanan utama mereka. Ikan ini diketahui sering ditemukan bergerombol di padang lamun.

“Asal kata bawis itu dari bentuk ikannya yang menyerupai daun bawing. Kalau ikan bawis bergerombol makan di padang lamun, persis membentuk pohon bawing. Dari kata bawing inilah lama-lama tercetus kata bawis,” beber Jafar.

“Karena sering diucapkan berulang-ulang, akhirnya sebutan ikan bawis menjadi populer,” tambah pria yang juga menjabat Ketua Masyarakat Peduli Indikasi Geografis ini.

Adapun proses pembuatan Gami Bawis yaitu ikan bawis dimasak bersama sambal pedas yang telah diulek. Bumbu-bumbunya terdiri dari cabai rawit, cabai merah, tomat merah, bawang merah, gula pasir, garam, dan minyak.

Yang membuat unik adalah, proses penyajiannya diletakkan dalam cobek tanah liat bersama ikan bawis lalu dipanaskan di atas kompor. Saat panas, sambal akan terlihat meletup-meletup. Agar wangi, gami bisa ditambahkan sehelai daun kemangi.

Disajikan hingga Lintas Benua

Gami bawis  sudah menjadi makanan dan kuliner khas di Kota Taman. (Suci Surya Dewi/Akurasi.id)

Gami Bawis tercatat pernah dibawa ke Negeri Kincir Angin untuk mengikuti promosi kuliner daerah yang digelar di Den Haag, Belanda. Kuliner ikan bawis yang dibumbui sambal pedas khas gami dan disajikan di atas cobek mendidih itu juga pernah menjadi salah satu hidangan yang disajikan pada acara makan kenegaraan di Istana Negara pada Peringatan Ulang Tahun Ke-70 Republik Indonesia.

Selain dikenal dapat memanjakan lidah bagi siapa saja yang menyantapnya, Gami Bawis juga tercatat memiliki rentetan prestasi baik di tingkat provinsi Kaltim (Kaltim) hingga nasional. Antara lain meraih juara I di Festival Benua Etam pada 2011 lalu.

Di 2014, Gami Bawis juga pernah menjadi juara I Festival Kuliner Tradisional se-Kaltim. Setahun kemudian di 2015, Gami Bawis kembali dinobatkan menjadi juara terbaik se-Kalimantan pada Festival Kuliner Tradisional di HUT Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Tak hanya itu, kuliner berbahan utama ikan bawis tersebut juga pernah meraih juara pertama dan menjadi menu andalan para dewan juri dalam lomba Masakan Khas Daerah Pangan Nusa 7 tingkat regional Kalimantan. Di tingkat nasional, Gami Bawis menorehkan prestasi dengan memenangkan lomba sebagai juara II.

Prestasi lainnya yang tak kalah penting, gami bawis berhasil masuk nominasi 10 besar di Anugerah Pesona Indonesia (API) 2017 sebagai makanan tradisional terpopuler. Makanan khas Bontang yang pernah dicicipi langsung Presiden RI Joko Widodo ini lolos dalam nominasi dikarenakan memiliki rentetan prestasi juara dalam kategori hidangan tradisional terfavorit.

Tak kalah menarik, Pemkot Bontang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bontang dan berbagai elemen penggiat kuliner Bontang di 2015 lalu juga pernah memecahkan rekor baru Museum Rekor Indonesia (Muri). Yaitu rekor dalam sajian gami bawis cobek terbanyak.

Saat ini warung-warung Gami Bawis sudah menjamur di Bontang. Keberadaannya tidak didominasi di daerah Bontang Kuala saja, tetapi telah menyebar di berbagai warung makan. Bahkan warung Gami Bawis kini bukan hanya ada di Bontang, melainkan juga telah hadir di Samarinda dan Balikpapan. Bawis juga sudah bisa diolah menjadi kripik bawis. Ini menjadi salah satu indikator jika kuliner Gami Bawis bisa ikut meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Saat ini ikan bawis telah kami daftarkan di Indikasi Geografis untuk mendapatkan perlindungan negara dan diakui menjadi ciri khas Bontang. Saat ini masih dalam proses. Semoga saja usulan kami ini diterima sehingga bisa berdampak positif terhadap seluruh usaha yang di bidang ikan bawis,” pungkas Jafar. (*)

Penulis: Suci Surya Dewi dan Bambang Al Fatih
Editor: Yusuf Arafah

5/5 (2 Reviews)
Tags

Tinggalkan Komentar!

avatar
Back to top button
Close
Close