CorakRagam

Bekantan di Ambang Kepunahan, Ulah Manusia Jadi Penentu

Loading

Bekantan yang merupakan satwa eksotis yang dilindungi terancam punah. Akibat alih fungsi lahan dan perburuan ilegal di tengah tingkat reproduksi rendah. Hal ini merupakan dampak pembangunan dan keserahakan manusia.

Kaltim.akurasi.id, Kukar – Jarum jam membidik pukul 13.00 Wita, terik mulai membakar Kota Samarinda. Beberapa gumpalan awan abu-abu tua tampak di langit. Perlahan bergerak, bagaikan orang tua bongkok yang memikul beban berat di punggungnya.

Jalanan macet siang itu, suara klakson mobil saling bersahutan. Innova Reborn yang dikendarai Heru merayap di atas jalan raya. Seorang pengemudi sedan di sampingnya berteriak seraya menyembulkan kepalanya dari kaca mobil.

Entah ada kemacetan apa di depan sana. Namun, Heru tak menghiraukan itu. Perhatiannya hanya tertuju pada badan jalan, dan matanya sesekali melirik layar ponsel yang menampilkan google maps.

Jasa SMK3 dan ISO

Setelah jalan sedikit lenggang, Heru memacu sarana berwarna hitam itu ke Jalan PM Noor, menuju Perumahan Pondok Surya Indah. Sesampainya di tujuan, ia menepikan kendaraannya di halaman sebuah rumah modern. Dia kemudian turun dari tunggangannya, pria berbadan tegap itu tersenyum lebar kepada empat orang dihadapannya, yang sudah menungguinya sedari tadi dan telah siap dengan pakaian bepergian.

Usai bersalaman, keempat orang itu kemudian mengemas tas berisi pakaian ke dalam bagasi. Setelah semua tersusun rapi, mereka masuk ke dalam mobil. Kursi bagian belakang diisi tiga jurnalis (Fatih, Dion, dan Novi).

Sementara, Fiahsani Taqwim dari Planete Urgence Indonesia memilih duduk di bangku depan. Dirasa semua aman dan tak ada barang yang tertinggal, Heru lalu meminta izin melanjutkan perjalanan. Dengan senyuman, mereka mengangguk sebagai tanda persetujuan.

Siang itu, mereka memang sudah memiliki rencana untuk bertolak menuju Desa Tanjung Limau, Kecamatan Muara Badak, Kutai Kartanegara. Melakukan peliputan tentang bekantan dan konservasi mangrove. Dan Heru adalah sopir travel yang dipercaya mengantarkan mereka sampai tujuan.

Di tengah perjalanan yang dilalui, jalan raya menjelma menjadi arena yang memperlihatkan kisah hidup beragam. Di sana, deretan kendaraan berjajar dengan anggun seperti arsip yang tertata rapi. Sesekali, melalui jendela mobil yang bergerak, mereka dapat melihat kilasan kehidupan sehari-hari yang tengah terjadi di sepanjang jalanan.

Baca Juga  Sederet Tugas Irwan Usai Dilantik Ketua DPD Demokrat Kaltim, Dongkrak Elektabilitas Partai Hingga AHY Presiden

Ada seorang pedagang keliling yang menawarkan buah-buahan segar dengan senyum ramahnya. Sementara di seberangnya, sekelompok anak kecil berlarian dengan riang di atas trotoar yang kecil.

Namun di balik pemandangan yang indah itu, tergambarlah pula kehidupan yang tak selalu manis. Terdapat tumpukan sampah di pinggir jalan yang menjadi saksi bisu dari keabadian manusia terhadap alam. Juga terlihat kilas balik dari pembabatan hutan yang rakus, meninggalkan luka yang mendalam di tanah yang subur.

Meskipun jalan raya padat itu menjadi simbol kehidupan yang terus bergerak maju, namun di dalam perbincangan mereka, jurnalis-jurnalis itu tak henti-hentinya menyuarakan keprihatinan akan perlunya menjaga dan melestarikan lingkungan alam yang semakin terancam oleh ulah manusia.

Dalam setiap pandangan mereka ke luar jendela, terpatri harapan bahwa manusia akan mampu menemukan keseimbangan dengan alam. Seiring langkah-langkah mereka melaju di tengah keramaian yang tak pernah sepi.

Menit berbilang jam, sekira pukul 14.30 Wita putaran mobil innova itu memasuki halaman rumah bergaya belanda dengan fasad depan dipenuhi rimbun pergola. Dari dalam rumah warna biru itu seorang pria berjenggot tipis keluar. Begitu melihat rombongan jurnalis, dia tersenyum sambil membungkukkan sedikit posisi tubuhnya. Sopian Hadi (39), sedari tadi menunggui mereka dan telah siap dengan pakaian bepergian.

Sejurus kemudian, pria yang akrab disapa Ian itu mengeluarkan motor beat miliknya dari garasi. Fiahsani Taqwim atau yang akrab disapa Fifi kemudian turun dari mobil dan memilih ikut bersama Ian. Mereka langsung melanjutkan perjalanan menuju lokasi keberadaan Bekantan (Nasalis larvatus). Tak berselang lama, mereka sampai di kawasan hutan, yang tak jauh dari jalan utama.

“Di sini lokasi bekantan biasa muncul,” kata Ian, Februari lalu.

Si Monyet Hidung Panjang

Rombongan jurnalis itu kemudian turun dari kendaraan. Setelah menunggu beberapa saat, terdengar suara ganjil dari balik pepohonan “Honk”. Suara itu menimbulkan gema yang menyeramkan. Mata mereka seketika menjelajah, memperhatikan sekeliling sumber suara.

Dahan-dahan pohon bergoyang. Mereka menampakkan diri. Empat sampai lima ekor terlihat dari kejauhan. Mahluk-mahluk berbulu oranye berekor panjang. Wajahnya aneh, hidungnya mancung dan besar.

“Tidak salah lagi, Bekantan!” seru Ian.

Para jurnalis kemudian meraih kamera masing-masing. Memotret bekantan yang sedang menikmati keagungan hutan kawasan Desa Tanjung Limau, Kecamatan Muara Badak, Kukar. Ian mulai bercerita. Laut, muara atau air adalah syarat utama tempat tinggalnya (bekantan).

Baca Juga  Mencatat Tren Positif Kinerja Industri Jasa Keuangan di Kaltim Seiring Melandainya Pandemi

Dia boleh menjelajahi hutan hingga masuk jauh ke dalam, tetapi tetap kembali ke hutan-hutan mangrove atau tepi sungai untuk bermalam. Baginya hanya di tempat-tempat itu yang sesuai untuk ditinggali, tidak di tempat lain.

Sekelompok bekantan di pohon, mudah tersamar di antara dedaunan. Mereka seperti mengenakan mantel dengan warna bulu oranye sampai coklat kemerahan menutupi terutama daerah bahu dan kepala.

Ekor panjang keputihan dan perut agak besar. Berat untuk jantan bisa mencapai 22 kg tapi betina lebih ringan sekitar 6- 12 kg. Cukup untuk menobatkan bekantan sebagai salah satu monyet berukuran terbesar.

Bekantan hidup dalam kelompok besar, satu jantan dominan dengan betina-betina dan anak-anaknya. Satu kelompok bisa berjumlah 3-12 individu, kadang lebih.

Namun kelompok-kelompok ini sifatnya cair, bisa bergabung membentuk gerombolan besar terutama di tempat istirahat malam, hingga sampai 60 ekor. Bisa juga gerombolan ini mencari makan bersama. Walau bersatu tapi ada batasan jelas.

“Tapi, bekantan bercengkrama dan bermain hanya dengan anggota kelompoknya saja,” kata Ian.

Menit berbilang jam, sekitar pukul 15.00 Wita, kawanan bekantan perlahan menghilang dari pandangan. Bekantan cepat-cepat melompat ke pohon-pohon untuk mulai menjelajah hutan. Pergerakkan mereka sangat cepat bagaikan kilat. Kaki dan tangan begitu lihai kala bergelayut di dahan-dahan pohon yang kuat.

Bekantan Diambang Kepunahan

Ian melanjutkan ceritanya. Dia bilang, sejak tahun 2000 silam, bekantan sudah masuk kategori merah dengan status konservasi terancam kepunahan. Perburuan liar, kerusakan dan konversi habitat, serta kebakaran hutan menjadi penyebab utamanya.

Sepengetahuan Ian dari beberapa sumber yang ia baca, populasi bekantan pada 2008 berjumlah sedikitnya 25.000 individu. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 5.000 individu yang berada di dalam kawasan konservasi.

Selebihnya atau sekitar 20.000 individu berada di luar kawasan konservasi. Keberadaan bekantan dan habitatnya kini terancam hilang karena berbagai ulah manusia yang mengakibatkan degradasi lingkungan.

“Diperkirakan, tahun ini (2024) populasi bekantan turun sampai 90 persen karena konversi habitat. Perburuan dan konversi lahan menekan populasi bekantan 3,1 persen per tahun,” kata Ian.

Fifi juga menambahkan, banyaknya individu bekantan di luar kawasan konservasi membuat keberadaannya terancam. Ancaman terhadap bekantan, antara lain laju konversi dan degradasi hutan riparian (daerah rawa dan pinggir sungai) yang sangat cepat, perburuan terhadap bekantan karena dianggap sebagai hama oleh sebagian orang, serta kebakaran hutan dan lahan.

Baca Juga  Sampaikan Ragam Persoalan Ketenagakerjaan di Kaltim, Sutomo Jabir Datangi Kemenaker RI

”Ancaman-ancaman itu perlu direduksi dengan melakukan konservasi, proteksi, dan keberlanjutan lanskap bagi kehidupan bekantan, sehingga populasinya tidak terancam punah,” ujar Fifi.

Setelah berbincang cukup lama, rombongan jurnalis itu kembali melanjutkan perjalanan ke pesisir pantai bernama Long Beach. Tak butuh waktu lama menuju pantai itu. Hanya sekitar 5 menit. Sesampai di pintu gerbang, Fifi terlebih dahulu membayar tiket masuk. harganya Rp 5 ribu per-orang.

Untuk menuju pantai, mereka perlu menapaki papan ulin di tengah jenggala bakau. Suara “krepyak-krepyak” bunyi dedaunan kering yang remuk terinjak, mengiringi langkah mereka. Akar-akar tanaman mangrove terlihat menggantung keluar.

Menggapai-gapai seperti cakar-cakar yang ingin meraih siapa saja yang lewat. Sebagian pohon mangrove terlihat layu dan kering, hanya sedikit daun yang masih menempel pada tangkai. Beberapa pohon lagi telah kehilangan pegangannya di dalam tanah, menjadikannya condong bahkan tumbang.

Keberlangsungan Hidup Bekantan Tergantung Ulah Manusia

Fifi bilang, Long Beach ini merupakan salah satu pantai di kawasan Delta Mahakam, Muara Badak. Dan lokasi ini juga menjadi salah satu tempat Yayasan Mangrove Lestari bersama Planete Urgence Indonesia mengadakan penanaman mangrove. Mereka menamai pekerjaan itu “Project Mahakam”.

Proyek penanaman itu sudah mulai digarap pada 2020 lalu. Setiap tahunnya, Yayasan Planete Urgence Indonesia (YPUI) menanam kurang lebih 100 ribu bibit pohon mangrove. Biasanya, pembibitan dimulai Mei hingga Agustus. Penanamannya dilakukan bulan September hingga akhir tahun.

“Setelah bibit ditanam, kami akan melakukan pengawasan sekitar tiga bulan. Kalau ada yang rusak atau mati, langsung kami ganti dengan yang baru. Project Mahakam ini diperkirakan berlangsung hingga 2026,” ujar Fifi.

Tujuan utama proyek itu ialah untuk mencegah abrasi sekaligus menjaga ruang hidup serta sumber makanan bagi primata. Kata Fifi, kolaborasi berbagai pihak sangat dinanti untuk menjalankan strategi konservasi satwa bekantan. Selain itu, juga diperlukan edukasi untuk membangun kesadaran masyarakat sehingga tumbuh kepedulian terhadap konservasi bekantan dan habitatnya.

”Manusia berperan besar dalam kepunahan bekantan. Karena itu, kami mendorong adanya kesadaran bersama dalam rangka melindungi bekantan dan habitatnya yang masih tersisa. Kalau bukan kita siapa lagi,” katanya. (*)

Penulis: Dhion
Editor: Fajri Sunaryo

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait

Back to top button